PEMIMPIN ROHANI DAN SENSE OF CRISIS

PEMIMPIN ROHANI DAN SENSE OF CRISIS

Bacaan Setahun:
Yosua 23:1 – 24:33
Yohanes 3:22–36
Mazmur 55:12–23

“Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” (1 Korintus 10:12)

Krisis rohani jarang datang dengan suara keras. la tidak selalu diawali dengan skandal besar atau perpecahan terbuka. Sering kali ia muncul perlahan-melalui doa yang mulai dingin, firman yang tidak lagi mengubahkan, dan hati yang kehilangan kepekaan. Di sinilah pentingnya seorang pemimpin rohani memiliki sense of crisis.

Sense of crisis bukan sikap panik atau curiga berlebihan, la adalah kewaspadaan rohani yang lahir dari kerendahan hati. Rasul Paulus mengingatkan dalam 1 Korintus 10:12, “Siapa yang menyangka bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh.” Bahaya terbesar sering kali bukan serangan dari luar, melainkan rasa terlalu aman di dalam.

Kita belajar dari Nehemia. Ketika mendengar tembok Yerusalem runtuh, ia tidak bersikap netral. la duduk menangis, berpuasa, dan berdoa (Nehemia 1). la melihat bahwa keruntuhan fisik mencerminkan krisis rohani. Kepekaannya melahirkan tindakan. Inilah hati seorang pemimpin: tidak menunggu keadaan memburuk total untuk bertindak.

Sebaliknya, gereja di Laodikia dalam Kitab Wahyu pasal 3 merasa diri kaya dan tidak kekurangan apa-apa, padahal Tuhan menyebut mereka suam-suam kuku. Rasa puas diri membuat mereka kehilangan kesadaran bahwa mereka sebenarnya sedang dalam kondisi berbahaya. Overconfidence rohani menutup mata terhadap kenyataan.

A.W. Tozer pernah berkata bahwa rasa puas diri adalah musuh mematikan pertumbuhan rohani. Ketika seorang pemimpin merasa sudah cukup matang atau pelayanannya sudah mapan, kewaspadaan mulai melemah. Rutinitas menggantikan keintiman. Aktivitas menggantikan doa. Program menggantikan pertobatan.

Tuhan tidak mencari pemimpin yang paling percaya diri, tetapi yang paling berjaga. Sense of crisis menjaga hati tetap rendah, peka, dan bergantung pada Tuhan. Tanpa itu, gereja bisa tetap ramai tetapi kehilangan api. Namun dengan kewaspadaan rohani, pemimpin menjadi penjaga yang melindungi umat dari kemunduran yang perlahan.

Kiranya kita tidak pernah merasa terlalu aman untuk berjaga, tidak pernah terlalu mapan untuk bertobat, dan tidak pernah terlalu berpengalaman untuk kembali berlutut dalam doa. Karena ketika pemimpin berjaga, umat terlindungi. (DD)

Questions:

1. Apakah kita masih memiliki kegelisahan rohani ketika melihat jemaat mulai kehilangan gairah doa dan firman?
2. Apakah keberhasilan dan stabilitas pelayanan membuat anda terlalu percaya diri sehingga berhenti berjaga?

Values:
Sang Raja tidak mencari pemimpin yang paling percaya diri, tetapi yang paling berjaga-jaga dan bergabung kepada anugerah Sang Raja.

Kingdom Quotes:
Diperlukan kewaspadaan rohani pemimpin untuk menjadi penjaga yang melindungi umat dari kemunduran yang terjadi secara perlahan dan tak terasa.