PEMIMPIN YANG MENGASIHI ATAU MENGINTIMIDASI
Bacaan Setahun:
1Samuel 19:1 – 20:42
Yohanes 17:6–26
Mazmur 68:7–14
“Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?” Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (Yohanes 8:10-11
Dalam buku “Bukan Yesus yang Aku Kenal” diceritakan sebuah kisah sebagai berikut: seorang wanita tuna susila datang dalam keadaan kacau, tanpa tempat tinggal, sakit, dan tidak mampu membeli makanan untuk putrinya yang berusia dua tahun. Di tengah tangisnya, ia mengaku telah “menyewakan” anaknya kepada pria yang memiliki penyimpangan seksual. Uang yang diperoleh dari satu jam itu lebih banyak daripada yang bisa ia dapatkan sendiri dalam semalam. Ia mengaku terpaksa melakukannya untuk membiayai ketergantungannya pada obat terlarang.
Mendengar kisah itu, hati siapa pun akan terguncang. Respons pertama yang muncul adalah keinginan untuk segera melaporkan tindakan tersebut kepada pihak berwenang. Namun, dalam kebingungan, muncul satu pertanyaan: apakah ia pernah mencari bantuan dari gereja? Jawaban wanita itu begitu mengejutkan, “Gereja? Untuk apa saya ke sana? Mereka justru membuat saya merasa lebih buruk.”
Kisah ini menyingkapkan realitas yang menyakitkan. Dunia sering menawarkan standar kepemimpinan yang keras, di mana kuasa digunakan untuk mendominasi, menghakimi, atau menekan, bahkan atas nama kebenaran. Tanpa disadari, pola yang sama dapat masuk ke dalam kehidupan pelayanan (gereja). Kita bisa bersikap seperti ahli Taurat dan orang Farisi yang membawa perempuan pezinah kepada Yesus, bukan untuk dipulihkan, melainkan untuk dihakimi dan dijadikan alat menjebak Yesus.
Tanpa sadar kita juga terjebak pada syarat-syarat tertentu sebelum memberikan kasih. Atas nama kebenaran dan standar moral, kita menuntut perubahan hidup seseorang terlebih dahulu sebagai “tiket” untuk mereka diterima. Namun, Yesus melakukan hal berbeda, Ia mendasarkan tindakan-Nya pada nilai perlindungan, pembelaan, dan pengampunan. Yesus tidak mengabaikan dosa, tetapi Ia memilih untuk memberi ruang bagi pemulihan.
Kasih Kristus adalah sumber kekuatan yang memberikan kemampuan bagi seseorang untuk mengalami pertobatan sejati. Tanpa kasih, kita hanya akan menuntut perubahan dan bukan membantu seseorang untuk berubah. Marilah dalam keluarga, pekerjaan, maupun pelayanan kita meneladani Kristus, menjadi sosok yang menjawab kebutuhan mendasar sesama, yaitu kasih dan pengampunan sehingga orang lain menemukan harapan, bukan penghakiman. (HA)
Questions:
1. Apakah kita lebih cepat menghakimi atau mengasihi ketika melihat orang yang jatuh dalam dosa?
2. Sudahkah kita menjadi saluran kasih yang membawa pemulihan bagi orang lain?
Values:
Kasih yang sejati tidak menunggu perubahan terjadi, tetapi hadir lebih dahulu untuk membuka jalan bagi pemulihan dan pertobatan.
Kingdom Quotes:
Mari berhenti menggunakan otoritas untuk mengintimidasi, dan mulailah merangkul dengan kasih yang memulihkan.