PERBUATAN DOSA BUKAN KEKHILAFAN

PERBUATAN DOSA BUKAN KEKHILAFAN 

Bacaan Setahun:

Luk. 1:26-56
Yeh. 34
Yes. 58

“Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman” (Roma 6:13a)

Kita sering mendengar ungkapan, “Maaf, saya khilaf,” dari orang yang melakukan pelanggaran. Sekilas terdengar wajar, seolah kita harus menerima pelanggaran itu sebagai kekhilafan. Suatu kali putri saya bertanya, “Apakah orang yang berbuat dosa itu khilaf?” Saya jawab, “Tidak!” Orang yang berbuat dosa itu tahu bahwa apa yang ia lakukan adalah sebuah pelanggaran, ia sadar sepenuhnya ketika melakukan, namun ia ‘membisukan’ suara hati nuraninya, ia ‘menumpulkan’ ketajaman telinga rohaninya ketika Roh Kudus mengingatkan bahwa apa yang ia lakukan adalah dosa. Tidak ada perbuatan dosa yang lahir begitu saja, pasti diawali oleh keinginan. Keinginan muncul melalui apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, dan apa yang kita rasakan (hasrat). Bila keinginan tidak dapat kita kontrol atau kendalikan, maka akan melahirkan perbuatan dosa.

Rasul Paulus menegaskan, “Janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu…!” Artinya, kalau kita sampai berbuat dosa atau pelanggaran, kitalah yang menyerahkan anggota-anggota tubuh kita untuk dipakai senjata kelaliman. Contoh nyata terlihat dalam kisah Raja Daud. Kejatuhannya bukan kebetulan, tetapi dimulai dari pandangan mata ketika ia melihat Batsyeba mandi. Dari mata timbul hasrat untuk memiliki, padahal Daud tahu Batsyeba adalah istri Uria. Daud juga tahu Firman Tuhan dan hidup dalam hadirat-Nya, tetapi ia memilih menumpulkan ketajaman rohani dan menggunakan matanya sebagai alat dosa. Dari keinginan lahirlah perzinahan, lalu pembunuhan berencana. Semua itu berawal dari keinginan yang tidak dikendalikan.

Ini merupakan pelajaran berharga bagi kita semua, betapa mengerikannya keinginan manusia apabila tidak dapat dikendalikan. Itulah sebabnya dalam Galatia 5:16 tertulis: “Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.” Artinya, kita harus menyerahkan diri sepenuhnya di bawah pimpinan Tuhan, Roh Kudus, dan Firman-Nya. Ketika godaan itu menghampiri, maka kita harus semakin kuat bergantung kepada Tuhan. Lawan setiap godaan itu dengan Firman Tuhan, lari dan tinggalkan! Roh Kudus pasti memberikan sinyal (tanda) di dalam hati kita bila apa yang ada di depan kita bukan berasal dari Tuhan.

Jadi tidak ada alasan bagi kita mengatakan: “Maaf, saya khilaf,” ketika jatuh dalam dosa. Sebab setiap perbuatan dosa selalu berawal dari pilihan sadar untuk menuruti keinginan daging, bukan karena kekhilafan semata. Marilah kita hidup dalam ketaatan kepada Roh Kudus agar mampu mengendalikan diri, menjaga hati, dan berjalan dalam kebenaran Tuhan setiap hari. (LA)

Questions:

1. Apakah perbuatan dosa yang dilakukan manusia adalah sebuah kekhilafan?
2. Apa yang seharusnya kita lakukan agar tidak jatuh ke dalam perbuatan dosa? Diskusikan!

Values:

Setiap warga Kerajaan yang hidup di dalam kebenaran, maka ia akan dipimpin oleh kebenaran dan melakukan kebenaran.

Kingdom Quotes:

Melakukan dosa bukan sebuah kekhilafan, melainkan mengompromikan diri terhadapnya.