PERCAYA DAN BUKAN MENUNTUT TANDA

PERCAYA DAN BUKAN MENUNTUT TANDA 

Bacaan Setahun:

1 Kor. 11:17-34
2 Raj. 5
Obaja 1

“Pada waktu itu berkatalah beberapa ahli Taurat dan orang Farisi kepada Yesus: ”Guru, kami ingin melihat suatu tanda dari pada-Mu.” Tetapi jawab-Nya kepada mereka: ”Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus.” (Matius 12:38-39)

Dalam bacaan Injil hari ini, kita melihat bagaimana Tuhan Yesus merespons sikap dan perkataan ahli Taurat dan orang Farisi. Sesuai dengan namanya, ahli Taurat adalah kelompok yang menguasai Hukum Taurat serta mengajarkan makna hukum tersebut dalam kehidupan rohani umat Israel. Sementara itu, orang Farisi adalah kelompok yang berarti “yang terpisah”, yakni kaum yang memisahkan diri dari ajaran non-Yahudi yang dianggap dapat menodai kemurnian tradisi Yahudi. Seiring waktu, kaum Farisi berkembang menjadi kelompok yang cenderung arogan, menekankan formalitas secara berlebihan, dan mengabaikan hal-hal yang lebih esensial, seperti keadilan dan kasih.

Dalam Injil, diceritakan bahwa ahli Taurat dan orang Farisi datang kepada Yesus untuk meminta tanda dari surga. Namun, permintaan itu bukanlah bentuk iman atau kepercayaan, melainkan upaya untuk mencobai dan menjebak Yesus. Maka Yesus menolak permintaan mereka dengan tegas. Ia kemudian meninggalkan mereka dan naik ke perahu untuk bertolak ke seberang danau. Tindakan Yesus ini mengandung pesan yang dalam bagi orang percaya. Dalam banyak kisah Injil, kita melihat bagaimana Yesus dengan belas kasih-Nya menunjukkan kuasa dan mukjizat kepada orang-orang yang sungguh beriman kepada-Nya. Ia membangkitkan orang mati, menyembuhkan orang sakit, memberi makan ribuan orang, bahkan mengusir roh jahat. Namun, Yesus juga menolak ketidakpercayaan dan hati yang keras, sekalipun mukjizat-mukjizat telah nyata di depan mata mereka.

Kita melihat bahwa ahli Taurat dan orang Farisi terus menuntut tanda dari Yesus, padahal mereka telah menyaksikan sendiri berbagai mukjizat yang dilakukan-Nya. Sikap ini mencerminkan ketidakpercayaan dan niat yang keliru, sebab tujuan mereka hanyalah menjebak Yesus dan bukan untuk sungguh-sungguh percaya. Tanpa kita sadari, kita pun kerap bersikap seperti orang Farisi—menuntut tanda dari Tuhan. Salah satu contohnya: kita berkata, “Jika Tuhan Yesus mengasihi saya, tunjukkan mukjizat-Mu dengan mengabulkan apa yang saya inginkan.” Sikap seperti ini menunjukkan betapa dangkal dan lemahnya iman kita. Tuhan Yesus hadir dalam hidup kita bukan untuk memuaskan keinginan jasmani kita, tetapi untuk mengajak kita membangun relasi yang erat dan pribadi dengan-Nya. Kristus mengajarkan bahwa sebagai orang percaya, kita hendaknya memiliki iman yang rendah hati, penuh penyerahan, dan percaya sepenuhnya pada rencana-Nya yang penuh misteri.

Tuhan Yesus bekerja dalam hidup kita melalui peristiwa-peristiwa sederhana yang sering kali kita anggap biasa. Oleh sebab itu, tetaplah bersandar kepada-Nya dan percayalah bahwa rancangan-Nya selalu yang terbaik bagi umat-Nya. (AH)

Questions:

1. Mengapa Kristus menolak memberikan tanda kepada Ahli Taurat dan orang Farisi?
2. Apakah kita selalu menuntut tanda sebagai bentuk iman percaya kita pada-Nya?

Values:

Iman kepada karya Kristus adalah fondasi hidup beriman orang percaya.

Kingdom Quotes:

Iman orang percaya adalah iman yang melampaui ruang dan waktu.