PERILAKU SURAT KRISTUS

Bacaan Setahun: 
Yeh. 15-16 
Mzm. 53 
Why. 8 

PERILAKU SURAT KRISTUS 

“Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.” (2 Korintus 3:3)

Ada seorang pemuda, ia adalah seorang yang sangat patuh terhadap jam-jam berdoa. Dia tidak pernah melepaskan satu hari pun untuk beribadah. Dan ini diketahui oleh semua temannya. Suatu hari, pemuda ini mentraktir makan siang teman-temannya di sebuah restoran ternama. Setelah memesan makanan, mereka mengobrol sambil menunggu makanan dihidangkan. Tiga puluh menit sudah lewat, namun air minum pun belum menghampiri meja mereka. Dengan kesal pemuda ini berteriak kepada salah seorang pelayan restoran, “Mbak, kok minuman saja dari tadi belum datang! Sudah lapar nih! Bisa kerja tidak?” Teriakan demi teriakan diucapkan oleh pemuda tersebut, dengan maksud agar teman-temannya tidak kelaparan. Namun dia lupa bahwa tujuan baik itu melukai hati para pelayan restoran. Tidak lama, sewaktu makanan datang satu persatu, pemuda tersebut mengambil inisiatif untuk memimpin doa sebelum makan. Dan di sela-sela doa, ada pelayan yang menghampiri meja sambil meletakkan makanan yang belum datang. Dengan spontan pemuda ini berteriak, “Kamu ini gimana! Kami sedang berdoa! Harusnya kamu tahu kalau kami sedang berdoa!” Tentu saja teman-teman dan semua orang yang ada di ruangan restoran tersebut terkejut, dan kemudian sebagian orang mulai menggeleng-gelengkan kepala.

Cerita dan Firman Tuhan hari ini (2 Korintus 3:1-3) mengingatkan bahkan menegur saya secara pribadi, bahwa kehidupan rohani kita bukan berbicara tentang aktivitas beragama, tapi bagaimana cara kita hidup di tengah-tengah dunia. Tanpa sadar kita bisa saja melakukan sesuatu yang di satu sisi membela “kebenaran”, menuntut “kebenaran” (versi kita sendiri), namun kita sendiri meniadakan kebenaran yang lain atau melanggarnya. Bukankah itu juga teladan yang buruk bagi orang lain? Apakah demikian gambaran Kristus yang mengasihi dunia? Sebagai orang percaya, kita adalah surat Kristus yang terbuka, yang bisa dibaca oleh orang lain. Apapun yang tertulis dalam hidup kita, bagaimana cara hidup kita, sikap dan tingkah laku kita, perbuatan kita, itu semua begitu terang benderang untuk dibaca oleh orang lain.

Jika yang tertulis jelek, maka jelek pulalah yang dibaca orang, sebaliknya jika yang tertulis adalah gambaran Kristus, maka orang pun bisa “membaca” siapa Kristus sebenarnya lewat diri kita.

Mari bersama-sama menyelidiki hati, apakah kita sungguh sudah menjadi surat Kristus yang terbuka? (JB)

Questions:
1. Pernahkan Anda meemiliki pengalaman dimana di satu sisi membela “kebenaran” atau menuntut “kebenaran”, namun meniadakan kebenaran yang lain atau bahkan melanggarnya.
2. Menurut Anda apakah yang dimaksud bahwa kita adalah surat Kristus yang terbuka?

Values:
Sebagai orang percaya, kita adalah surat Kristus yang terbuka, yang bisa dibaca oleh orang lain. Apapun yang tertulis dalam hidup kita, bagaimana cara hidup kita, sikap dan tingkah laku kita, perbuatan kita, itu semua begitu terang benderang untuk dibaca oleh orang lain.

Kingdom Quote:
Menjadi Surat Kristus yang terbuka bukanlah sebuah kewajiban, namun sebuah keberadaan atau ciri Warga Kerajaan.