PLAYING VICTIM
Bacaan Setahun:
Yoh. 21, 2 Taw. 33, Mzm. 89:1-18
Kata perempuan yang lain itu: “Bukan!anakkulah yang hidup dan anakmulah yang mati.” Tetapi perempuan yang pertama berkata pula: “Bukan! anakmulah yang mati dan anakkulah yang hidup.” Begitulah mereka bertengkar di depan raja.” (1 Raja-raja 3:22)
Pernah mendengar istilah playing victim? Playing victim adalah istilah yang menggambarkan perilaku seseorang yang selalu merasa menjadi korban dalam berbagai situasi, sering kali dengan menyalahkan orang lain dan mencari perhatian atau simpati. Mereka cenderung menghindari tanggung jawab serta mempersepsikan diri sebagai pihak yang dirugikan, meskipun sebenarnya memiliki andil dalam permasalahan tersebut.
Jika kita membaca secara utuh kisah dua orang ibu yang saling memperebutkan seorang bayi dalam 1 Raja-raja pasal 3, kita akan menemukan fakta tentang siapa sebenarnya yang sedang playing victim. Saat itu, Raja Salomo menghadapi kasus yang tidak mudah. Ia benarbenar membutuhkan hikmat dari Tuhan karena tidak ada saksi kunci yang dapat memperkuat pernyataan kedua belah pihak. Jika ia salah dalam mengambil keputusan, dampaknya akan panjang dan tentu saja mengubah akhir cerita yang kita kenal hari ini.
Fakta menariknya, pola playing victim ini ternyata sudah ada sejak zaman Adam dan Hawa. Ini merupakan benih dosa yang diwariskan sejak manusia pertama. Dan betapa bahayanya ketika sikap seperti ini terjadi dalam kehidupan bergereja, pelayanan, bahkan di antara sesama hamba Tuhan. Tidak sedikit orang yang merasa sebagai korban, padahal jika ditelusuri lebih jauh, justru dialah pelaku utamanya. Sama seperti ibu yang anaknya mati karena tertindih saat tidur, ia malah menyalahkan ibu yang lain, seolah-olah ialah korban sebenarnya. Untungnya, Raja Salomo, dengan hikmat dari Allah, mampu melihat siapa yang benar dan siapa yang tidak.
Demikian pula dalam kehidupan kita. Bila menghadapi kasus serupa, jangan terburuburu menghakimi atau memutuskan. Kita perlu hikmat dari Tuhan untuk menanganinya. Orang yang playing victim biasanya lebih vokal, membela diri mati-matian, bahkan menyerang orang lain baik secara verbal maupun nonverbal, dan berusaha mencari sekutu agar pihak lain berpihak kepadanya. Menghadapi situasi seperti ini tidak bisa dengan kekerasan atau tekanan, karena hanya akan memperburuk keadaan. Kita tidak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan. Tetaplah tenang, berbuat baik, dan doakan mereka. Ada bagian kita, dan ada pula bagian Tuhan. Apa yang tidak bisa kita selesaikan dengan kekuatan sendiri, biarlah Tuhan yang berperkara. Percayalah, kebenaran akan dinyatakan pada waktunya—dan seorang playing victim pada akhirnya akan terbuka juga kedoknya. (LA)
Questions:
1. Pernahkah Anda berhadapan dengan seorang playing victim? Bagaimana sikap Anda?
2. Apa yang seharusnya kita lakukan sebagai warga Kerajaan Surga dalam menghadapi seorang playing victim?
Values:
Integritas adalah karakter yang harus dimiliki seorang warga Kerajaan, agar tidak terjerat sebagai pelaku playing victim.
Kingdom Quotes:
No Playing Victim, No Drama.