“…rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain, sebab Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” – 1 Petrus 5:5
Berbicara mengenai kerendahan hati, kita akan bersama-sama belajar dari Kitab Ulangan 8:1-20. Latar belakang kitab Ulangan ini adalah Amanat perpisahan Musa yang mengulas kembali tentang janji Allah terhadap bangsa Israel sebelum mereka masuk ke Kanaan. Dimana Generasi awal yang keluar dari Mesir habis (Ulangan 1:34-38), dan generasi yang lahir di padang gurun perlu diingatkan. Dari Ulangan 8:1-20 kita juga belajar bahwa sangat penting untuk mempraktikkan kerendahan hati, bahkan Tuhan mengajar hal tersebut dengan merendahkan hati umat yang dikasihi-Nya.
“Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak dan kamu memasuki serta menduduki negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu. (Ulangan 8:1)
Tujuan dari perintah Tuhan adalah untuk kebaikan umat-Nya, secara khusus dalam perikop di Ulangan 8:1-20 ini membahas tentang Tuhan yang menyebutkan ‘Merendahkan hatimu’ sebanyak 3 kali dan 1 kali mengingatkan tentang tinggi hati. Tuhan mengulang kata ‘Merendahkan hatimu’ hali ini menunjukkan bahwa apa yang Tuhan sampaikan sangat penting bagi kehidupan umat Israel. Jadi dari perikop ini kita dapat belajar dengan jelas bahwa Tuhan sedang mengajar umat-Nya untuk merendahkan hati.
Tujuan Tuhan merendahkan hati kita adalah supaya:
Kita mengerti bahwa yang terpenting adalah TUHAN (Ulangan 8:2-5)
Perjalanan bangsa Israel keluar dari Mesir tanpa harus berputar melewati padang gurun dapat ditempuh dalam beberapa hari saja, tetapi Tuhan sengaja membawa umat Israel berputar melewati padang gurun selama 40 tahun. Tujuannya adalah untuk merendahkan hati umat Israel dan mencobai mereka untuk mengetahui apa yang ada dalam hatinya, yakni, apakah mereka berpegang pada perintah Tuhan atau tidak. Tuhan bisa saja membawa umat Israel masuk ke tanah yang dijanjikan-Nya dengan cara-cara yang spektakuler, tetapi umat Israel belum siap. Tuhan sengaja merendahkan hati umat Israel dengan membiarkan mereka lapar dan memberi mereka makan manna, yang tidak mereka kenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangnya, untuk membuat mereka mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN. Jadi dalam hal ini kita dapat belajar bahwa di dalam hidup ini bagian terpenting adalah mengerti kehendak Tuhan. Tuhan sedang mendidik umat Israel seperti seseorang yang sedang mengajari anaknya.
Kita siap menerima kebaikan-Nya dan memuji-Nya (Ulangan 8:6-10).
Umat Israel harus berpegang pada perintah Tuhan, Allah, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan takut akan Dia. Sebab Tuhan, Allah, telah membawa mereka masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung; suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya; suatu negeri, di mana mereka akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana mereka tidak akan kekurangan apapun; suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya jika digali menghasilkan tembaga. Umat Israel dipersiapkan untuk menerima segala kebaikan Tuhan dalam hidupnya. Oleh sebab itu mereka direndahkan hatinya dan dicobai-Nya mereka, hanya untuk berbuat baik kepada mereka pada akhirnya.
Kita jangan pernah melupakan TUHAN yang setia (Ulangan 8:11-20).
Tuhan senantiasa menepati dan menggenapi janji-Nya. Tuhan menginginkan ketika umat Israel diberkati, mereka tidak tinggi hati dan melupakan Tuhan yang sudah membawa mereka keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, dan yang memimpin mereka melalui padang gurun yang besar dan dahsyat itu, dengan ular-ular yang ganas serta kalajengkingnya dan tanahnya yang gersang, yang tidak ada air. Tuhan sengaja merendahkan hati bangsa itu agar mereka tidak tinggi hati dan merasa bahwa segala berkat terbaik yang sudah Tuhan berikan adalah hasil jerih payah sendiri, tetapi haruslah mereka mengingat kepada Tuhan, yang telah memberikan kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada Abraham, Ishak dan Yakub.
Dari Ulangan 8:1-20 kita belajar bahwa sangat penting bagi kita mempraktikkan kerendahan hati, bahkan Tuhan mengajar kita dengan merendahkan hati kita supaya kita mengerti bahwa yang terpenting adalah Tuhan, kita siap menerima kebaikan-Nya dan memuji-Nya serta kita jangan pernah melupakan Tuhan yang setia. Tuhan memberkati. (RCH).