Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib: (1 Petrus 2:9)
Kekudusan merupakan sifat utama Allah yang menunjukkan kemurnian dan kesempurnaan-Nya. Arti kata kudus dari bahasa Ibrani QADOSH dan bahasa Yunani HAGIOS adalah terpisah, dikhususkan, atau disucikan, dikhususkan untuk Allah atau beribadah kepada-Nya. Kekudusan merupakan identitas kita sebagai orang percaya. Kita telah dipisahkan sebagai bangsa yang terpilih, bangsa yang kudus umat kepunyaan Allah sendiri sebagai Imamat yang Rajani.
Setelah kita ditebus dan dipilih, kita dijadikan sebagai bait Roh Kudus dimana Roh Kudus tinggal di dalam hidup kita (1 Korintus 6:19). Ketika kita berbicara mengenai Bait Allah, kita diingatkan bagaimana Bait Allah yang dibangun oleh Raja Salomo begitu megah dan mahal tetapi dibalik kemegahannya itu esensinya adalah bait tersebut harus kudus. Oleh sebab itu kita harus menguduskan diri dan mematikan segala perbuatan daging yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya (Galatia 5:19-21).
Salah satu contoh praktek sihir yang terjadi di gereja adalah bagaimana seorang hamba Tuhan mengintimidasi dan memanipulasi jemaat dengan Firman Tuhan untuk memenuhi keinginannya pribadi. Oleh sebab itu kita harus waspada dan berjaga-jaga. Sebagai komunitas orang-orang kudus seharusnya juga tidak ada perseteruan, perselisihan dan iri hati. Kita harus saling rendah hati dan menghormati satu dengan yang lain.
Pada zaman Perjanjian Lama, di dalam kemah suci terdapat ruang kudus dan ruang maha kudus, di dalam ruang maha kudus terdapat tabut Allah yang berisi manna, dua loh batu dan tongkat harun yang berbunga. Hanya imam besar saja yang dapat masuk ke ruang maha kudus dengan kaki terikat. Sebab jika ia tidak kudus saat masuk ke ruang maha kudus maka ia akan mati. Sebelum masuk ke ruang maha kudus imam akan menyucikan dirinya dan memercikan darah anak domba ke tutup pendamaian tabut Allah. Sebagai Bait Roh Kudus, kita disucikan oleh Darah Yesus sebagai darah anak domba Allah yang sempurna yang dicurahkan-Nya di atas kayu salib. Sehingga kita dilayakkan untuk masuk ke dalam ruang maha kudus.
Sejak dalam kandungan Maria, Yesus sudah disebutkan sebagai kudus, Anak Allah. Yesus adalah pribadi manusia yang tidak pernah berbuat dosa sehingga karya penebusan-Nya sah dan benar. Bahkan kuasa kegelapan pun percaya bahwa Yesus Kristus adalah Yang Kudus dari Allah (Markus 1:24) tetapi mereka tidak hidup kudus. Jika kita juga percaya bahwa Yesus Kristus adalah Yang Kudus dari Allah tetapi hidup kita tidak kudus maka kita tidak jauh beda dengan roh jahat dan kuasa kegelapan.
Itu jugalah sebabnya Yesus telah menderita di luar pintu gerbang untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri. (Ibrani 13:12)
Pada zaman Perjanjian Lama, seorang Imam Besar memercikkan darah anak domba ke tutup pendamaian pada Bait Allah, tetapi Yesus membawa darah-Nya sendiri melalui kematian-Nya di atas kayu salib. Sehingga karya salib mampu menghapuskan segala dosa-dosa kita, menguduskan hidup kita dan memperdamaikan kita dengan Allah.
Begitu banyak tanda mengiringi kematian Yesus di kayu salib, salah satunya adalah tirai bait suci yang memisahkan ruang kudus dan ruang maha kudus terbelah. Hal ini memungkinkan bagi setiap orang yang percaya dan beriman pada Kristus bisa masuk ke ruang maha kudus dan memiliki hubungan yang intim dengan Allah setiap saat. Bagaimana kita melihat kasih Tuhan di dalam hidup kita dengan semakin kita mendekat dan mendengarkan apa yang Tuhan firmankan di dalam hidup kita.
Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya. (Ibrani 4:16)
Kekudusan adalah perintah Tuhan. Jika kita ingin merasakan kasih Tuhan dan berjalan bersama Tuhan sepanjang masa maka satu-satunya syarat adalah hidup kudus. Kita harus hidup sebagai anak-anak Allah yang taat dan tidak dikuasai oleh hawa nafsu tetapi hendaklah kita menjadi kudus di dalam seluruh hidup kita sama seperti Dia yang kudus (1 Petrus 1:14-16).
Kekudusan harus dikejar, karena kita telah menerima anugerah pengudusan oleh korban darah Yesus yang mahal kita juga harus menjaga pengudusan itu dengan gaya hidup kudus yang kita jalani setiap hari. Tuhan juga memberikan Roh Kudus-Nya untuk memimpin dan membantu kita hidup di dalam kekudusan dan kebenaran setiap hari.
Karya Kristus di kayu salib yang telah memperdamaikan kita dengan Allah akan membawa kedamaian di dalam hidup kita sehingga kedamaian itu terpancar keluar dari hidup kita dan buahnya adalah kita akan berdamai dengan semua orang.
Kehidupan damai dengan semua orang dan mengejar kekudusan diawali dengan berproses dan menghasilkan progres sampai kedatangan Tuhan yang kedua kali. tentunya kita tidak dapat mengandalkan kekuatan sendiri. Persembahkan hidup kita sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadah yang sejati. Kita harus berubah oleh pembaharuan budi, sehingga kita dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. (Roma 12:1-2).
Orang Israel tidak berani menyebut nama Tuhan yang Maha Kudus dengan sembarangan demikian juga kita hidup kudus karena Allah yang kita sembah adalah Allah yang Maha Kudus jangan hidup dengan sembarangan. Yang Maha Kudus itu adalah Yesus Kristus yang telah menebus dan menguduskan hidup kita. Amin (RCH)