RE-ARRANGEMENT | Pdt. Dr. Timotius Arifin Tedjasukmana

Moab hidup aman dari sejak masa mudanya, dia hidup tenang seperti anggur di atas endapannya, tidak dituangkan dari tempayan yang satu ke tempayan yang lain, tidak pernah masuk ke dalam pembuangan; sebab itu rasanya tetap padanya, dan baunya tidak berubah.
(YEREMIA 48:11)

Kehidupan kekristenan adalah kehidupan yang penuh dengan proses dan tantangan. Tidak ada jalan pintas yang membuat segala sesuatunya serba mudah. Kehidupan yang paling membosankan adalah kehidupan yang biasa-biasa saja. Dalam proses pembuatan anggur, buah anggur akan diperas dan diinjak-injak kemudian air perasan itu dituang ke dalam tempayan atau wadah semacam gentong yang terbuat dari kayu dan diendapkan. Untuk menghasilkan anggur yang baik dibutuhkan beberapa kali proses pengendapan. Perasan anggur yang telah mengendap akan dituang dari gentong yang satu ke gentong yang lain dan kotoran hasil endapannya akan dibuang.

Moab hidup aman sehingga rasa dan baunya tidak berubah. Moab adalah gambaran keangkuhan dan kesombongan hidup, untuk memurnikan hidup kita perlu beberapa proses yang harus dihadapi. Kita harus melewati proses pengosongan, dituang dari satu tempat ke tempat yang lain, sehingga endapan yaitu karakter yang buruk dibersihkan dari hidup kita.

Ada beberapa pendapat mengenai proses kehidupan, orang dunia beranggapan bahwa hidup itu seperti roda, kadang diatas dan kadang di bawah. Atau seperti gelombang, terkadang di puncak tetapi bisa juga di lembah. Seringkali kita-pun mempercayai hal ini, memang ada musim-musim dalam hidup kita,  sesungguhnya proses kehidupan yang kita jalani dalam mengikut Tuhan adalah seperti kurva “J” (J-Curve). Tuhan sepertinya membuat kita turun, tetapi dibalik semuanya itu Tuhan akan membuat kita naik dan melesat. Kehidupan mengikut Tuhan adalah kehidupan yang penuh proses dan tantangan. Dibutuhkan visi, interigras dan kegigihan (Vision, Integrity & Persistence – VIP) untuk menerima janji-janji Tuhan yang membuat kita terus naik.

Belajar dari kehidupan Yusuf bagaimana ia melewati setiap tes dalam hidupnya,  ia mengalami proses demi proses sehingga karakternya dimurnikan. Dengan penuh integritas dan kegigihan ia berfokus pada mimpinya dan berjalan bersama Tuhan sehingga Tuhan membawanya terus naik dan berhasil.

Beberapa tes yang dihadapi Yusuf dalam hidupnya adalah:

- FIELD TEST (TES LAPANGAN) – KEJADIAN 37:1-11

Yakub sangat mengasihi Yusuf karena ia adalah seorang anak yang sangat berintegritas dan dapat dipercaya. Yusuf selalu menyampaikan kepada ayahnya kabar tentang kejahatan saudara-saudaranya. Oleh sebab itu sekalipun Yusuf adalah anak kesebelas dalam keluarga, ia sangat dipercaya oleh Yakub ayahnya.Yakub menyuruh membuatkan Yusuf sebuah jubah yang maha indah. Hal ini membuat semua saudara-saudara Yusuf yang lain menjadi iri dan memusuhinya. Terlebih lagi ketika Yusuf bermimpi bahwa suatu kali tampak mereka  sedang di ladang mengikat berkas-berkas gandum, lalu bangkitlah berkas Yusuf dan tegak berdiri; kemudian datanglah berkas-berkas saudara-saudaranya mengelilingi dan sujud menyembah kepada berkas Yusuf. Yusuf juga menceritakan mimpi yang lain tampak matahari, bulan dan sebelas bintang sujud menyembah kepadanya. Sebab itulah saudara-saudara Yusuf lebih benci lagi kepadanya.

- PIT TEST (TES SUMUR) – KEJADIAN 37:12-36

Kebencian saudara-saudara Yusuf semakin memuncak sehingga membawanya kepada tes berikutnya. Saudara-saudaranya bermufakat mencari daya upaya untuk membunuhnya. Ketika Ruben mendengar hal ini, ia ingin melepaskan Yusuf. Ketika Yusuf sampai kepada saudara-saudaranya, mereka-pun menanggalkan jubah Yusuf, jubah maha indah yang dipakainya itu. Dan mereka membawa dia dan melemparkan Yusuf ke dalam sumur kosong, tidak berair. Beberapa waktu kemudian kelihatanlah kepada mereka suatu kafilah orang Ismael datang dari Gilead. Yehuda mengusulkan untuk menjual Yusuf kepada orang Ismael itu. Yusuf dari seorang anak yang sangat dikasihi harus harus masuk ke dalam sumur yang gelap dan pengap serta dijual sebagai budak oleh orang-orang terdekatnya sendiri.

- ROOM TEST (TES KAMAR) – KEJADIAN 39:1-23

Yusuf telah dibawa ke Mesir menjadi budak dan Potifar, seorang Mesir, pegawai istana Firaun, membeli dia dari tangan orang Ismael yang telah membawanya. Tetapi Tuhan menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya. Potifar sangat percaya kepada Yusuf. Ia memberikan kuasa atas rumahnya dan segala miliknya. Bahkan Tuhan memberkati rumah Potifar  karena Yusuf. Selang beberapa waktu isteri Potifar memandang Yusuf dengan berahi. Walaupun dari hari ke hari perempuan itu membujuknya, Yusuf tidak mendengarkan bujukannya itu. Pada suatu hari ketika keadaan rumah sedang tidak ada seorangpun, istri Potifar kembali membujuk Yusuf untuk tidur dengannya. Perempuan itu memegang baju Yusuf, namun Yusuf berhasil melarikan diri keluar dari rumah. Perempuan itu berteriak-terika dan menuduh Yusuf telah berbuat tidak senonoh kepadanya.

- PRISON TEST (TES PENJARA) – KEJADIAN 40 – 41.

Integritas dan kegigihan Yusuf justru sepertinya membawa dia semakin turun dan terpuruk. Yusuf harus masuk dalam penjara, tempat tahanan raja-raja dikurung. Sekalipun dalam penjara Yusuf tetap menunjukkan integritas dan kegigihannya. TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara sehingga kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf. Di dalam penjara Yusuf  mendapat suatu karunia baru dari Tuhan untuk menafsirkan mimpi. Singkat cerita ia berhasil menafsirkan mimpi juru roti dan juru minuman raja. Bahkan suatu ketika saat Firaun bermimpi dan tidak ada seorangpun yang berhasil menafsirkan, oleh anugerah Tuhan Yusuf dibuat berhasil menafsirkan mimpi Firaun sehingga keberhasilannya ini membawanya naik menjadi orang nomor dua di Mesir dalam sekejap.

- PRIDE/FORGIVENESS TEST (TES PENGAMPUNAN) – KEJADIAN 42 – 45.

Cerita berlanjut ketika mimpi Firaun tergenapi dan terjadilah kelaparan hebat dimana-mana. Sementara itu Yusuf telah menjadi mangkubumi di negeri itu; dialah yang menjual gandum kepada seluruh rakyat. Demikian juga saudara-saudara Yusuf ikut datang membeli gandum. Ketika Yusuf melihat saudara-saudaranya, segeralah mereka dikenalnya, tetapi ia berlaku seolah-olah ia seorang asing kepada mereka. Lalu teringatlah Yusuf akan mimpi-mimpinya tentang mereka. Disini kembali integritas Yusuf diuji apakah ia mau mengampuni saudara-saudaranya atau tidak. Namun respon Yusuf kepada saudara-saudaranya: “Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.”

- FAITH TEST (TES IMAN) – KEJADIAN 50:22-26

Tes terakhir yang harus dilewati Yusuf adalah di akhir hidupnya adalah tes iman apakah ia masih memegang janji Tuhan bahwa Tuhan telah berjanji kepada Abraham, Ishak dan Yakub mengenai tanah perjanjian. Yusuf berpesan jika suatu saat kelak Tuhan membawa bangsa Israel keluar dari Mesir maka seluruh kaum Israel harus berjanji membawa keluar tulang-tulangnya dari Mesir.

Tes apa yang sedang kita hadapi saat ini? Biarlah setiap tes itu tidak menghancurkan visi yang telah kita terima dari Tuhan. Jalani setiap tes itu dengan penuh integritas dan kegigihan sehingga Tuhan membawa kita terus naik sesuai dengan rencana-Nya. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya serta dimuliakan-Nya. Amin. (RCH).