RE-ARRANGEMENT | Pdt. Thomas Tanudharma

Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.
(KEJADIAN 3:7)

Pada saat Tuhan menciptakan dunia berserta segala isinya, Tuhan menatanya sedemikian rupa dari hari pertama sampai hari keenam. Dari keadaan bumi yang belum berbentuk dan kosong hingga segala sesuatunya ada. Pada hari keenam Tuhan menciptakan manusia dan menempatkannya di Taman Eden. Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Lalu Allah memberkati hari ketujuh itu dan menguduskannya, karena pada hari itulah Ia berhenti dari segala pekerjaan penciptaan yang telah dibuat-Nya itu.

Di Taman Eden, manusia memiliki persektuan yang begitu indah dengan Tuhan. Suatu gambaran tempat dan situasi yang sempurna dan penuh damai. Sampai pada suatu ketika ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh Tuhan Allah memperdaya perempuan yang diciptakan Tuhan dari tulang rusuk Adam sehingga manusia jatuh ke dalam dosa dan tidak taat kepada perintah Tuhan.

Sejak manusia memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu bahwa mereka telanjang, lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat. Ketika manusia mendengar bunyi langkah Tuhan Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman. Ada rasa malu yang muncul dalam hidup manusia. Manusia berfikir bahwa dengan menyematkan daun ara bisa menutupi rasa malu yang dihadapinya. Daun Ara adalah gambaran solusi manusia tanpa Tuhan untuk menutupi dosa-dosa dan rasa malu.

Seharusnya manusia mencari Tuhan dan minta ampun kepada-Nya serta berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Manusia harus belajar dari kegagalan yang dihadapi dan memperbaiki diri maka Tuhan akan menata ulang kembali hidupnya dan mengembalikan kepada tujuan semula manusia diciptakan. Untuk memudahkan kita mengingat, melalui akronim daun ara (FIG LEAF) kita belajar beberapa hal yang menunjukkan apakah kita mencari Tuhan ataukah mengandalkan kekuatan sendiri ketika masalah dan dosa terjadi dalam hidup kita.

Frustration (Frustasi /Putus asa)

Waktu kita menghadapi masalah dan berusaha menyelesaikan dengan kekuatannya sendiri maka kita akan sampai ada suatu titik dimana ia tidak mampu lagi menghadapinya dan kita mengalami frustasi. Kita harus menghadapi setiap persoalan dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan. Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kita menjadi lemah dan putus asa (Ibrani 12:2).

Insecurity (Rasa Tidak Aman)

Manusia yang berbuat dosa akan kehilangan rasa tidak aman. Ada bayangan hitam yang membuat pikirannya menjadi gelap yang berusaha memadamkan pikiran yang sudah dipenuhi oleh terang Kristus sehingga manusia menjadi takut kehilangan dan merasa semua orang adalah kompetitor  dalam hidupnya.  

Guilt (Rasa Bersalah)

Rasa bersalah dan rasa tidak aman adalah hal-hal yang membuat manusia menjadi tidak tenang karena telah berbuat dosa atau melakukan kesalahan. Hampiri Tuhan dan kita boleh menenangkan hati kita di hadapan Allah, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian untuk percaya dan mendekat kepada  Allah (1 Yohanes 3:19-22).

Loneliness (Kesepian)

Kesepian berbeda dengan rasa sepi. Rasa sepi diakibatkan oleh keadaan di sekeliling kita yang sedang sepi, tetapi kesepian adalah kondisi hati kita yang mengalami rasa sepi sekalipun keadaan sekeliling kita sedang ramai. Orang yang kesepian berusaha mencari hal-hal yang hingar bingar untuk mengusir kesepiannya. Sesungguhnya di dalam lubuk hati manusia ada satu ruang hanya bisa diisi dengan hadirat Tuhan. Kesepian muncul ketika manusia tidak memiliki persekutuan yang intim dengan Tuhan. Raja Daud mengumpamakan dirinya seperti rusa yang rindu dan haus akan hadirat Tuhan (Mazmur 42). Demikian juga kesepian kita hanya bisa disingkirkan oleh persekutuan kita dengan Tuhan.

Escapism (Lari dari Kenyataan)

Adam dan Hawa lari dari hadirat Tuhan, sekalipun Tuhan hanya mendekat dan bertanya: "Di manakah engkau?". Manusia menjadi sangat ketakutan dan bersembunyi di antara pohon-pohonan dalam taman. Seringkali manusia lari dari kenyataan kepada hal-hal yang semakin membuatnya semakin bermasalah. Kita harus lari kepada Tuhan dan menghampiri hadirat-Nya maka kita akan beroleh jalan keluar dan kekuatan untuk menghadapi setiap masalah kita.

Anxiety (Kecemasan)

Rasa cemas yang tidak kita sadari membuat kita salah mengambil keputusan-keputusan. Ada kebimbangan yang mengombang-ambingkan hidup kita. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan. Hendaklah kita meminta dalam iman dan sama sekali jangan bimbang sebab orang yang mendua hati tidak akan tenang dalam hidupnya (Yakobus 1:6-8).

Failure (Kegagalan)

Adam menyemat daun ara, tetapi daun ara gagal menghapus kegagalannya. Tuhan sanggup menata ulang kegagalan-kegagalan dalam hidup kita serta membalikkan keadaan kita menjadi sebuah keberhasilan.

Tuhan Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka. Ini adalah solusi yang Tuhan berikan bagi manusia. Tuhan memberikan suatu budaya baru dalam hidup manusia bahwa tidak ada penebusan tanpa pengorbanan darah. Gambaran karya Kristus  di kayu salib untuk menebus hidup kita dari cara hidup yang sia-sia. Yesus tidak menebus kita dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah-Nya sendiri yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat (1 Petrus 1:18-19). Amin. (RCH)