REFINED | Pdt. Christine Here

“Sebab Engkau telah menguji kami, ya Allah, telah memurnikan kami, seperti orang memurnikan perak.”

(Mazmur 66:10)

Tema utama sepanjang bulan Desember ini adalah REFINED yang arti katanya adalah: untuk membebaskan (sesuatu, seperti logam, gula, atau minyak) dari kotoran atau bahan yang tidak diinginkan atau untuk membebaskan dari ketidaksempurnaan moral.  

Jika kita mau diproses, dimurnikan dan disaring, kita bisa belajar dari proses kehidupan Musa yang tercatat dalam kitab Kisah Para Rasul.

Raja itu mempergunakan tipu daya terhadap bangsa kita dan menganiaya nenek moyang kita serta menyuruh membuang bayi mereka, supaya bangsa kita itu jangan berkembang. Pada waktu itulah Musa lahir dan ia elok di mata Allah. Tiga bulan lamanya ia diasuh di rumah ayahnya. Lalu ia dibuang, tetapi puteri Firaun memungutnya dan menyuruh mengasuhnya seperti anaknya sendiri.  Dan Musa dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya. (Kisah Para Rasul 7:19-22)

Proses-proses yang terjadi dalam Kehidupan Musa adalah:

Kelahirannya Tidak Diharapkan Karena Terjadi Pada Masa Yang Penuh Kesusahan.

Pada masa itu, Bangsa Israel mengalami perbudakan di Mesir dan Firaun mengeluarkan suatu perintah bahwa setiap bayi laki-laki yang lahir dalam keluarga Yahudi harus dibunuh. Oleh sebab itu kelahiran Musa tidak diharapkan oleh orang tuanya karena ia lahir pada masa yang susah. Mungkin kita juga mengalami kelahiran yang tidak diharapkan oleh orang tua kita tetapi ibu adalah bagian dari proses yang kita hadapi.

Musa Dibuang Dan Dipungut Oleh Putri Firaun (Kisah Para Rasul 7:21)

Sekalipun Musa tidak diharapkan kelahirannya, namun karena ada rencana Tuhan dalam hidupnya, maka ia tetap lahir, bahkan dipelihara Tuhan dengan sempurna melalui putri Firaun. Itu sebabnya mengapa Tuhan tidak mengijinkan aborsi, karena Ia memiliki rencana yang khusus bagi setiap orang.

Musa Dipelihara Oleh Ibunya Sendiri, Dia Dididik Dan Diajar Sebagaimana Orang Israel.

Firaun memerintahkan untuk membunuh semua bayi laki-laki Israel. Namun karena rencana khusus Tuhan bagi Musa, maka ia dipelihara oleh putri Firaun, melalui Miryam kakaknya Miryam menawarkan ibunya untuk menjadi inang penyusu bagi Musa sehingga Musa disusui oleh ibunya sendiri. Melalui ibunya, Musa dididik dengan budaya Israel dan memiliki identitas sebagai orang Israel.

40 Tahun Tinggal Di Istana Mesir (Ibrani 7:22-32)

Selama 40 Tahun Musa dididik dengan hikmat Mesir dan kehidupan istana. Ia juga dipersiapkan sebagai putra mahkota, tetapi identitas yang benar membuat Musa berani melangkah dengan iman, sekalipun harus membayar harga dengan meninggalkan kesenangan duniawi dan mengalami penderitaan bersama umat Allah.

Musa Tidak Pernah Lupa Siapa Dirinya (Kisah Para Rasul 7:22-32)

Hal terpenting yang dimiliki Musa adalah identitas dirinya sebagai orang Israel, sehingga sekalipun ia harus meninggalkan Mesir dan segala fasilitas di istana Firaun, ia bisa tetap tegar menghadapi tantangan-tantangan hidupnya, bahkan bersedia diuji dan dimurnikan di padang gurun, sebagai persiapan untuk menjadi pemimpin bangsa Israel.

Musa Berada Di Padang Gurun Selama 40 tahun, Lalu Bertemu Tuhan Dalam Nyala Api.

Musa harus masuk dalam proses pengujian dan pemurnian yang panjang di padang gurun sehinggga ia mengalami pembebasan (refined) dari segala cara berpikir dan budaya Mesir. Dan ketika waktunya sudah genap maka Tuhan menampakkan diri, dan berbicara secara pribadi kepadanya.

Sikap Tuhan Terhadap Bangsa Israel (Kisah Para Rasul 7:34)

Tuhan memperhatikan kesengsaraan umat-Nya.

Tuhan mendengar keluh kesah umat-Nya.

Tuhan turun untuk melepaskan  umat-Nya. 

Tuhan mau memakai Musa dan mengutus dia ke Mesir (Kisah Para Rasul 7:34).

Ketika Tuhan menilai Musa sudah siap secara mental (jiwa dan roh), maka Tuhan mengutus Musa kembali ke Mesir untuk membawa keluar umat-Nya. Jika kita mau dipakai Tuhan, maka kita harus menyediakan diri untuk diuji dan dimurnikan di padang gurun kesengsaraan, sehingga kita siap secara mental untuk menghadapi tantangan-tantangan, baik dari luar maupun dari umat Allah sendiri.

Musa menolak panggilan Tuhan (Kisah 7:35).

Musa sempat menolak panggilan Tuhan, karena ia menyadari bahwa dirinya tidak akan langsung disambut sebagai pemimpin oleh bangsa Israel. Berbagai alasan ia lontarkan di hadapan Tuhan,

Siapakah aku ini?

Bagaimana kalau mereka bertanya “Siapa yang mengutus kamu ?” (Keluaran 3:13)

Bagaimana kalau mereka tidak percaya? (Keluaran 4:1)

Aku tidak pandai bicara (Keluaran 4:10)

Namun rencana Tuhan tidak pernah digagalkan oleh cara berpikir kita, dan ia bisa memakai siapapun yang dikehendaki-Nya. Sebagaimana Tuhan memakai Musa yang tidak pandai berbicara untuk memimpin jutaan orang Israel, maka Ia pun bisa memakai kita.

 

Sebagai Warga kerajaan Allah kita harus bersedia dan setia menjalani setiap proses pemurnian yang Tuhan lalukan, agar setiap rencana Tuhan dapat digenapi dalam hidup kita. AMIN. (VW)