Rewards or Punishments | Pdt. Timotius Arifin Tedjasukmana

Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. (Yakobus 1:12)

Hidup adalah pilihan, kita memilih apakah kita mau percaya dan taat kepada Tuhan, memilih pahala atau hukuman maupun memilih kemuliaan atau kehinaan. Firman Tuhan tentang Tuhan adalah Tuhan yang memberikan penghargaan (rewards) mungkin sudah banyak disampaikan tetapi Firman tentang Tuhan yang tidak bisa dipermainkan sangat jarang sekali disampaikan. Allah adalah api yang menghanguskan.

Ada 2 orang anak Imam Harun yaitu Nadab dan Abihu yang melakukan pelayanannya dengan sembarangan.  Mereka masing-masing mengambil perbaraannya, membubuh api ke dalamnya serta menaruh ukupan di atas api itu. Dengan demikian mereka mempersembahkan ke hadapan TUHAN api yang asing yang tidak diperintahkan-Nya kepada mereka. Maka keluarlah api dari hadapan Tuhan, lalu menghanguskan keduanya, sehingga mati di hadapan Tuhan. (Imamat 10:1-2)

Tema bulan ini adalah Maintaining Perseverance Spirit  (Menjaga Semangat Ketekunan). Dari ayat pokok Yakobus 1:12 kita belajar di dalam ayat tersebut ada ujian (trial) dan pencobaan (temptation). Ujian datangnya dari Tuhan dan dipakai untuk membuktikan keaslian iman kita, tetapi pencobaan adalah godaan yang menghancurkan hidup kita. Kita harus menjadi pribadi yang tahan uji, sebab Tuhan sudah menyediakan rewards (penghargaan) mahkota kehidupan kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. Sebaliknya pencobaan datangnya dari Iblis yang selalu menggoda kita dan pencobaan juga timbul dari keinginan daging yang menyeret dan memikat hidup kita untuk berbuat dosa. Kita harus bisa menghadapi ujian dan pencobaan.

Di dalam kitab Bilangan 25 ada kisah yang dapat kita pelajari bagaimana agar hidup kita bisa menghadapi ujian dan pencobaan. Kisah ini diawali ketika bangsa Israel mendekati tanah Moab, Balak, raja Moab, ketakutan. Lalu ia memanggil Bileam untuk mengutuki Israel. Namun setiap kali Balak meminta kutuk, Tuhan mengubahnya menjadi berkat, sehingga Bileam malah memberkati Israel tiga kali dan menubuatkan masa depan mereka.

Meskipun ia kelihatan menuruti Tuhan, Alkitab kemudian menunjukkan bahwa hati Bileam serakah dan condong pada keuntungan materi. Bileam memberi nasihat jahat kepada Moab untuk menyesatkan Israel lewat perempuan-perempuan mereka, sehingga Israel jatuh dalam dosa penyembahan berhala di Baal-Peor (Bilangan 31:16). Sementara Israel tinggal di Sitim, mulailah bangsa itu berzinah dengan perempuan-perempuan Moab. Sitim adalah daerah yang penuh dengan pohon akasia. Akasia adalah hal yang biasa. Akasia juga berbicara tentang kebosanan. Kebosanan membawa kepada perzinahan. Sitim tidak jauh dari tanah perjanjian.

Perempuan-perempuan ini mengajak bangsa itu ke korban sembelihan bagi allah mereka, lalu bangsa itu turut makan dari korban itu dan menyembah allah orang-orang itu. Ketika Israel berpasangan dengan Baal-Peor bangkitlah murka Tuhan terhadap Bangsa Israel. Perzinahan adalah awal dari penyembahan berhala. Baal adalah dewa kesuburan dan kemakmuran, sedangkan Baal Peor artinya ‘tuan atas celah’ (lord of the gap). Celah sangat berbahaya, oleh sebab itu jangan membuka celah dan anggap remeh celah karena itu akan menjadi pintu masuk dosa.

Karena dosa ini, Tuhan memerintahkan Musa untuk menghukum para pemimpin yang terlibat dan menegakkan keadilan agar murka Tuhan berhenti. Di tengah murka Tuhan dan ketika tulah sedang berlangsung, seorang laki-laki Israel bernama Zimri membawa seorang perempuan Midian bernama Kozbi binti Zur ke dalam kemahnya, di depan mata Musa dan umat. Pinehas, anak Eleazar dan cucu Harun, mengambil tombak dan menikam keduanya sehingga menghentikan tindakan dosa tersebut. Karena tindakannya, tulah berhenti, yang sebelumnya telah membunuh 24.000 orang Israel. Tulah atas manusia juga berhenti ketika Yesus ada di kayu salib dan sebuah lembing menembus lambungNya.

Tuhan memberikan rewards kepada Pinehas yaitu perjanjian keselamatan untuk menjadi perjanjian mengenai keimaman selama-lamanya bagi dia dan bagi keturunannya, karena ia telah begitu giat membela Allahnya dan telah mengadakan pendamaian bagi orang Israel. Ada reward bagi mereka yang setia dan membela kehormatan Allah, tetapi juga ada penghakiman bagi mereka yang berdosa terutama dalam dosa perzinahan. “Kepada bangsa Midian, Tuhan memerintahkan kepada bangsa Israel untuk memusuhi dan menyerang mereka, karena merekalah yang menyesatkan Israel lewat tipu daya perempuan-perempuan mereka.

Lihat keadaan kita sekarang apakah kita masih tinggal di Sitim. Rencana Tuhan tidak hanya sampai di Sitim, tetapi masuk ke tanah yang dijanjikanNya. Hapuskan ‘Midian’ dan jangan biarkan dosa ada di tengah-tengah kita. Sebagai kepala keluarga kita-pun harus dengan tegas menjauhkan segala dosa di tengah-tengah keluarga kita sehingga menjauhkan juga penghukuman dari hidup kita. Jika kita sudah terlanjur berbuat dosa, Tuhan masih memberikan kesempatan untuk kita berbalik dan memulihkan hidup kita. Mita ampun dan bertobat sungguh-sungguh maka Dia akan menghapuskan dan menyucikan segala dosa-dosa kita. Amin. (RCH).