SAKSI DARI SUATU KEKONYOLAN
Bacaan Setahun:
Ef. 5:1-20
Yeh. 14-15
Yes. 44
“Sara hidup seratus dua puluh tujuh tahun lamanya; itulah umur Sara. Kemudian matilah Sara di Kiryat-Arba, yaitu Hebron, di tanah Kanaan, lalu Abraham datang meratapi dan menangisinya. Sesudah itu Abraham bangkit dan meninggalkan isterinya yang mati itu….” (Kejadian 23:1–3)
Kematian Sara, istri Abraham, adalah momen penting dalam kisah iman. Sara adalah satu-Ksatunya wanita dalam Alkitab yang disebutkan usianya secara detail, menandakan betapa penting perannya. Abraham sangat berduka, tetapi ia tidak berhenti dalam tangisan. Ia bangkit dan membeli gua Makhpela sebagai tempat penguburan, yang menjadi simbol iman bahwa tanah Kanaan benar-benar janji Allah bagi keturunannya. Kubur Sara menjadi tanda iman, bukan tanda putus asa.
Berbeda dengan itu, sejarah modern menyimpan kisah tragis seorang wanita Amerika bernama Sarah Winchester. Ia adalah istri William Wirt Winchester, pewaris perusahaan senjata terkenal “Winchester Repeating Arms Company.” William meninggal akibat tuberkulosis pada tahun 1881 (bukan influenza 1918), dan anak mereka satu-satunya, Annie, juga meninggal saat bayi karena penyakit genetik. Kehilangan beruntun itu membuat Sarah Winchester terjebak dalam kesedihan yang mendalam. Dalam keputusasaan, ia mendatangi seorang medium (dukun spiritualis) yang mengatakan bahwa keluarganya dikutuk oleh “roh-roh orang yang mati karena senapan Winchester.” Sang medium menasihatkan bahwa ia tidak akan pernah mati selama ia terus membangun rumahnya tanpa henti. Sarah mempercayainya.
Maka ia pindah ke San Jose, California, dan membeli rumah pertanian sederhana. Dari sana, ia mulai membangun tanpa henti selama 38 tahun: setiap hari ada tukang yang bekerja, siang dan malam. Hasilnya adalah rumah raksasa dengan lebih dari 150 kamar, 40 tangga, 47 perapian, 2000 pintu, dan 10.000 jendela—banyak di antaranya aneh dan tidak fungsional: tangga menuju langit-langit, pintu terbuka ke jurang, jendela menghadap ke tembok. Semua itu dibangun karena ketakutannya akan kematian. Namun semua usahanya sia-sia. Pada tahun 1922, Sarah Winchester meninggal dunia di rumah itu juga, di usia 83 tahun. Hari ini rumah itu dikenal sebagai Winchester Mystery House, atraksi wisata yang jadi saksi bisu betapa sia-sianya usaha manusia melawan maut tanpa Kristus.
Kisah ini kontras dengan Abraham. Abraham juga mengalami duka, tetapi ia menaruh pengharapannya pada janji Allah. Ia tahu Sara telah kembali kepada Allah, dan kematian bukan akhir segalanya. Sementara Sarah Winchester mencoba menghindari maut dengan membangun rumah yang tak pernah selesai, Abraham menerima realitas kematian dengan iman, dan dari situlah lahir pengharapan. Alkitab menegaskan: “Manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi” (Ibrani 9:27). Tidak ada cara manusia melawan kematian. Hanya Kristus yang mengalahkannya. Itulah sebabnya Paulus berkata, “Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut, di manakah kemenanganmu? Hai maut, di manakah sengatmu?” (1 Korintus 15:54–55). (DH)
Questions:
1. Apakah Anda menghadapi duka dengan iman seperti Abraham, atau dengan ketakutan sia-sia seperti Sarah Winchester?
2. Bagian mana dari hidup Anda yang masih Anda bangun dengan sia-sia hanya karena takut kehilangan atau takut mati?
Values:
Kuburan Sara menjadi tanda iman; rumah Winchester menjadi tanda ketakutan.
Kingdom Quotes:
Duka bisa melahirkan iman, tetapi juga bisa melahirkan kekonyolan—tergantung di mana kita menaruh pengharapan.