SALING MENGECEWAKAN
Bacaan Setahun:
1Raja-raja 16:8 – 18:15
Kisah Para Rasul 17:1–21
Mazmur 78:9–16
“Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri. Sebab tidak pernah orang membenci tubuhnya sendiri, tetapi mengasuhnya dan merawatinya, sama seperti Kristus terhadap jemaat” (Efesus 5:28-29)
Ada kisah tentang sepasang suami istri yang tampak begitu rukun dan menjadi teladan banyak orang. Setiap saat ulang tahun, sang suami selalu memasakkan makanan favorit istrinya: gulai kepala ikan. Tradisi itu berlangsung puluhan tahun, hingga ulang tahun pernikahan ke-50. Namun di momen istimewa itu, sesuatu yang tak terduga terjadi—istrinya justru menangis.
Ketika ditanya, sang istri berkata dengan jujur, “Aku sebenarnya tidak suka kepala ikan.” Suami itu terkejut. Selama ini ia yakin telah menyenangkan istrinya. Namun ternyata, selama bertahun-tahun mereka hidup dalam asumsi yang keliru. Lebih mengejutkan lagi, sang suami pun mengaku bahwa ia sebenarnya lebih menyukai kepala ikan, tetapi ia selalu memberikannya kepada istrinya karena mengira itulah bagian favorit sang istri.
Dua orang yang sama-sama ingin mengasihi, justru tanpa sadar saling mengecewakan. Inilah ironi banyak hubungan. Niatnya tulus, tetapi caranya keliru. Mengasihi tanpa memahami. Memberi tanpa benar-benar mendengar. Kita sering berpikir bahwa kita tahu apa yang orang lain butuhkan, padahal yang terjadi hanyalah proyeksi dari asumsi kita sendiri.
Kasih sejati tidak hanya tentang memberi, tetapi juga tentang mengerti. Dan pengertian tidak lahir dari diam, melainkan dari komunikasi yang jujur dan terbuka. Banyak relasi—baik dalam pernikahan, keluarga, bahkan pelayanan—retak bukan karena kurang kasih, tetapi karena kurang kejujuran.
Efesus 5:25 berbicara tentang kasih yang rela berkorban seperti Kristus. Namun pengorbanan yang benar bukan sekadar melakukan sesuatu untuk pasangan, melainkan melakukan apa yang benar-benar dibutuhkan oleh pasangan kita. Dan itu hanya mungkin jika ada kerendahan hati untuk mendengar dan keberanian untuk berkata jujur.
Jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama: merasa sudah memberi yang terbaik, padahal sebenarnya kita tidak pernah sungguh bertanya dan memahami. Dari sanalah sering muncul ironi dalam hubungan—sama-sama mengasihi, tetapi saling mengecewakan. Kasih yang dewasa tidak dibangun di atas asumsi, melainkan di atas pengertian, komunikasi, dan kerelaan untuk saling belajar memahami hati satu sama lain. (DD)
Questions:
1. Apakah selama ini Anda lebih banyak berasumsi daripada benar-benar mendengarkan orang yang Anda kasihi?
2. Hal apa yang perlu Anda komunikasikan dengan jujur agar hubungan Anda dipulihkan atau diperkuat?
Values:
Kasih yang dewasa bukan hanya tentang niat baik, tetapi tentang saling memahami secara benar apa yang dirasakan pasangan.
Kingdom Quotes:
Belajarlah untuk terbuka, jujur, dan mendengar dengan hati—sebab di sanalah kasih yang sejati bertumbuh dan tidak lagi saling mengecewakan.