SAMA-SAMA TERSESAT
Bacaan Setahun:
1 Samuel 2:27 – 4:22
Yohanes 11:1–44
Mazmur 64:1–10
“Mereka orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta, pasti keduanya jatuh ke dalam lobang.” (Matius 15:14)
Suatu ketika kami menghadiri pernikahan rekan kerja yang berada di luar kota di daerah Jawa Timur. Setelah acara selesai, kami bermaksud kembali ke kota, namun karena rombongan awal terpisah, sementara kami tidak begitu mengenal jalan-jalan di daerah itu dan aplikasi penunjuk arah seperti Google Map atau sejenis belum banyak dipakai, maka kami memutuskan untuk mengikuti sebuah mobil yang tampaknya juga berniat kembali ke kota.
Setelah beberapa lama berjalan, ternyata jalan besar menuju ke kota tidak kunjung terlihat dan pengemudi mobil yang kami ikuti turun dari kendaraan. Lalu kami juga berhenti dan bertanya kepada sang pengemudi, namun beliau menjawab dalam Bahasa Jawa halus, “Ampun ndherekaken kula, kula nggih nembe kesasar,” yang artinya, “Maaf, jangan mengikuti saya, saya juga sedang tersesat.” Jadi kami sama-sama tidak mengetahui arah kembali ke kota. Saya jadi teringat tulisan di kaos anak muda yang kami lihat di jalan: “Don’t follow me, I’m lost too!” yang artinya kurang lebih sama dengan perkataan pengemudi tersebut.
Dalam kehidupan rohani, kita sering mencari tuntunan, saran atau nasihat dari orang lain, misalnya pemimpin, teman, atau figur yang kita percayai dan idolakan. Namun, Firman Tuhan mengingatkan bahwa tidak semua orang mampu menjadi penuntun yang benar. Ayat di atas bukan sekadar peringatan, tetapi ajakan untuk berhati-hati dalam memilih siapa yang kita ikuti. Orang yang buta secara rohani adalah mereka yang tidak mengenal kebenaran Tuhan, namun tetap merasa diri benar dan bahkan bisa menyesatkan orang lain. Mengikuti tuntunan dari orang seperti ini akan membawa kita semakin jauh dari jalan yang benar. Lalu bagaimana kita dapat mengetahui arah menuju rencana dan penggenapan janji Tuhan tanpa perlu tersesat atau sama-sama tersesat ketika meminta petunjuk atau bahkan menuntun orang lain?
Yang terutama, orang percaya sangat perlu memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan melalui membaca dan merenungkan Firman-Nya sehingga tidak hanya bergantung pada tuntunan manusia, karena Firman-Nya itu pelita bagi kaki dan terang bagi jalan kita (Mazmur 119:105). Firman Tuhanlah yang menjadi penuntun sejati, bukan pendapat manusia semata. Kemudian kita perlu melakukan refleksi apakah kita sendiri sudah melihat dengan jelas secara rohani sebelum menuntun orang lain. Tuhan rindu membuka mata hati kita agar dapat melihat kebenaran dan hidup sesuai kehendak-Nya. Selanjutnya, kita harus datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati, meminta agar Dia membuka mata rohani kita. Dengan demikian, kita tidak hanya berjalan di jalan yang benar, tetapi juga dapat menjadi penuntun yang membawa orang lain kepada terang Kristus, bukan kepada kesesatan. (YL)
Questions:
1. Apakah yang dimaksud dengan kebutaan rohani dan bagaimana mencegahnya?
2. Mengapa tidak semua orang dapat menjadi pembimbing kehidupan rohani?
Values:
Terang Tuhan memampukan kita berjalan dengan pasti dan menuntun orang lain dengan benar.
Kingdom Quotes:
Siapa mengindahkan didikan, menuju jalan kehidupan, tetapi siapa mengabaikan teguran, tersesat. (Amsal 10:17)