SATUKAN PERBEDAAN SEBAGAI TANDA KEDEWASAAN

SATUKAN PERBEDAAN SEBAGAI TANDA KEDEWASAAN 

Bacaan Setahun:

Kej. 43:1 – 44:34
Mat. 15:10–39
Mzm. 13:1–6

“Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.” (Yakobus 2:9)

Persoalan diskriminasi ras masih sering muncul dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan pekerjaan. Hal ini menimbulkan pertanyaan: bagaimana mungkin di Indonesia—negara yang telah merdeka, berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945—isu ras masih digunakan untuk menjatuhkan sesama anak bangsa? Ketika seseorang menyerang orang lain dengan isu ras, sebenarnya ia sedang merampas martabat dan kemerdekaan orang tersebut sebagai warga negara. Perilaku semacam ini tidak akan pernah terjadi di dalam Kerajaan Allah, tempat Kristus memerintah dengan keadilan, kasih, dan kebenaran yang sempurna bagi semua orang.

Dalam Yakobus 2:1–13, kita ditegaskan untuk tidak memandang muka ketika mengamalkan iman (ay.1). Kita juga diajar untuk tidak membedakan status sosial, apakah seseorang kaya atau miskin, berpakaian indah atau sederhana (ay.2–3). Jika pembedaan seperti itu masih dilakukan, berarti kita telah membiarkan hati dikuasai pikiran yang jahat dan bertindak sebagai hakim yang tidak benar (ay.4). Bukankah Allah memilih mereka yang dipandang miskin oleh dunia untuk menjadi kaya dalam iman dan menjadi ahli waris Kerajaan-Nya bagi mereka yang mengasihi Dia (ay.5)?

Tuhan melarang umat-Nya membuat pembedaan berdasarkan ras, warna kulit, atau status sosial. Tindakan tersebut berarti melanggar hukum yang telah ditetapkan Allah (ay.9). Perbuatan kita disebut baik apabila kita teguh menaati hukum utama: mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri (ay.8). Dalam praktiknya, tidak dibenarkan meninggikan ataupun merendahkan orang lain, sebab di hadapan Tuhan semua manusia memiliki nilai yang sama dan layak menerima kasih tanpa syarat.

Kenyataannya saya masih melihat pembedaan-pembedaan itu terjadi di gereja. Masih banyak yang menganggap rendah orang lain karena melihat status sosial mereka, bahkan untuk menjadi pelayan atau pekerja di gereja harus memiliki syarat-syarat tertentu khususnya mereka harus mapan dan mempunyai status ekonomi yang baik, bukannya dinilai dari ketulusan, kekudusan, kebenaran hidupnya. Alangkah indahnya jika semua orang percaya hidup bersama, berdampingan satu dengan yang lain, hidup dalam kesatuan dan dalam ikatan kasih Yesus Kristus. Perbedaan bukan menjadi halangan, melainkan menjadi sarana untuk saling melengkapi.

Menerima orang lain apa adanya merupakan langkah awal untuk menyatukan perbedaan. Itulah tanda kedewasaan iman dan bukti bahwa kasih Tuhan sungguh bekerja dalam hidup kita. Semakin kita belajar menghargai sesama, semakin nyata pula Kerajaan kasih Allah diwujudkan melalui tindakan kita setiap hari. (AU)

Questions:

1. Apakah anda sudah memperlakukan semua orang dengan adil tanpa melihat latar belakang mereka?
2. Bagian mana dari hidup anda yang masih perlu diperbarui agar mencerminkan kasih Kristus kepada sesama?

Values:

Hidup dalam kasih dan keadilan berarti menolak segala bentuk diskriminasi, serta melihat sesama dengan kacamata Kristus yang menghargai setiap manusia tanpa syarat.

Kingdom Quotes:

Kasih Kristus meniadakan tembok perbedaan; hanya hati yang dipenuhi kasih dapat melihat sesama sebagai ciptaan berharga di hadapan Allah.