SEKARANG BELUM WAKTUNYA?
Bacaan Setahun:
Bilangan 7:66 – 9:14
Lukas 2:41–52
Mazmur 35:11–18
“Beginilah firman TUHAN semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali rumah TUHAN!” (Hagai 1:2)
Pernahkah Anda mendengar ungkapan orang yang saat diminta berkontribusi lebih untuk melayani Tuhan Tuban melalui gerejanya berkata berkata: “Sekarang belum tiba waktunya”, “nanti saja”, “kapan-kapan saja”, atau “lain waktu saja. Ungkapan-ungkapan tersebut dapat mengandung berbagai makna. Di dalamnya bisa tersirat keraguan, tetapi juga bisa menunjukkan keengganan atau bahkan ketidakmauan. Dalam beberapa kondisi, keraguan masih dapat diatasi melalui proses belajar, latihan, atau kesempatan untuk mencoba dan gagal (trial and error). Namun, penundaan yang berakar pada penolakan atau keengganan tentu jauh lebih sulit untuk diatasi.
Tuhan mengetahui sikap hati orang israel dan menegur orang israel atas sikapnya yang terus menunda kehendak Tuhan dengan berkata bahwa sekarang ini belum waktunya membangun bait Allah Alasan orang Israel adalah mereka masih harus menata rumah mereka terlebih dahulu pasca kembali dari pembuangan. Mereka beralasan, “Kami harus menata urusan keluarga, atau rumah tangga kami, dan jika ada sisa waktu, baru kami menjawab panggilan untuk melayani Tuhan.”
Namun, benarkah mereka belum punya cukup waktu? Jika melihat sejarah Alkitab, panggilan agar umat Tuhan membangun kembali bait Allah sudah dirancang Allah melalui Raja Persia sebelumya, yaitu Raja Koresh pada tahun 538 SM mengijinkan orang Israel kembali dengan tujuan utama membangun kembali bait Allah, sedangkan pernyataan Allah yang kita baca ini terjadi di pemerintahan Raja Darius tahun 520, jadi sejak awal tujuan Allah ini telah dinyatakan dan hingga 18 tahun kemudian, project ini tidak pernah dilakukan oleh orang Israel dengan berbagai alasan penundaan.
Tuhan merespons sikap orang Israel dengan bertanya “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan? (Hagai 1:4). Dengan kata lain, Tuhan mempertanyakan bagaimana mungkin mereka merasa pantas mendahulukan kepentingan pribadi, sementara kehendak Tuhan yang telah diberi waktu cukup lama justru dinomorduakan.
Hal ini sesungguhnya berkaitan dengan tujuan dan prioritas hidup kita. Sejak awal, Allah merancang bait-Nya agar seluruh Israel, bahkan segala bangsa, belajar menyembah Allah yang benar (Markus 11:17). Narnun, orang Israel justru lebih berfokus pada tujuan hidup mereka sendiri dan memprioritaskan kepentingan pribadi. Bait Allah dibiarkan terbengkalai, sementara rumah-rumah mereka dibangun dengan rapi. Penundaan ini menunjukkan pergeseran hati: Tuhan tidak lagi menjadi pusat, melainkan pelengkap setelah urusan pribadi dianggap selesai. Bagaimanakah dengan kita? Siapkah kita memprioritaskan tujuan Allah lebih dari sekedar tujuan hidup dan kebutuhan kita sekarang, atau masih menunggu waktu yang tepat? (HA)
Questions:
1. Apa yang selama ini lebih sering anda dahulukan: kehendak Tuhan atau kepentingan pribadi anda?
2.Apakah kata “nanti” yang anda ucapkan merupakan keraguan, atau bentuk penundaan ketaatan?
Values:
Jadikan kehendak Tuhan sebagai prioritas utama, bukan menunggu waktu luang, tetapi taat pada waktu Tuhan
Kingdom Quotes:
Tujuan Allah selalu tercermin dari tujuan hidup dan cara kita memprioritaskan waktu.