SENGSARA MEMBAWA NIKMAT

SENGSARA MEMBAWA NIKMAT

Bacaan Setahun:

Bilangan 7:66 – 9:14
Lukas 2:41–52
Mazmur 35:11–18

“Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.” (Kejadian 50:20)

Peristiwa Yusuf dijual ke Mesir oleh saudara-saudaranya tampak seperti skenario yang pahit dan tidak menyenangkan. Sangat mungkin Yusuf menangis berhari-hari ketika mengalaminya. Bayangkan, seorang remaja yang masih belia harus dijual sebagai budak kepada orang asing, la tentu mengalami guncangan batin, ketakutan, dan kecemasan. Dalam pikiran seorang remaja seusianya, dipaksa berpisah dari keluarga, dijual kepada orang yang tidak dikenal, pasti muncul kerinduan yang mendalam untuk pulang dan bertemu orang tua. Dalam ketidakmengertiannya, peristiwa itu bisa jadi tampak sebagai awal penderitaan hidupnya. Namun, tidak bagi Allah. Justru penderitaan yang dialami Yusuf itu merupakan titik awal hidup Yusuf mengalami naik level.

Setelah proses dijual ke Mesir sebagai budak, Yusuf masih harus mengalami proses berikutnya, la difitnah oleh istri potifar, masuk penjara, dilupakan oleh juru minuman raja selama dua tahun setelah ia mengartikan mimpi sang juru minuman raja. Siapa sangka, justru proses sengsara itu membawa kenikmatan tersendiri bagi hidup Yusuf. Karakter Yusuf semakin kuat, tabah, dan dewasa. Yusuf justru mengalami yang namanya penyertaan Tuhan, ia menjadi pribadi yang dikasihi, dikenan Tuhan juga manusia. Yusuf mendapat perhatian Tuhan melalui kepala penjara, sehingga ia menjadi orang kepercayaan kepala penjara

Pada waktunya, Tuhan membawa Yusuf keluar dari proses kesengsaraan itu. Yusuf keluar dari penjara, setelah dua tahun, juru minuman ingat padanya. Bukan sebuah kebetulan kalau raja Firaun bermimpi dan tidak ada satupun yang bisa menafsirkan mimpinya. Juru minuman raja ingat, bahwa Yusuf pernah menafsirkan mimpinya dan juga mimpi juru roti, dan semuanya itu tergenapi seperti yang ditafsirkan oleh Yusuf. Yusuf pun akhirnya menghadap raja Firaun dan menafsirkan mimpinya. Dan seperti yang kita baca dalam Kejadian 39-40, karena jasanya, Yusuf diangkat Tuhan menjadi orang kepercayaan Firaun. Yusuf menjadi mangkubumi, orang berkuasa nomor dua di Mesir. Kesengsaraan Yusuf berubah menjadi kenikmatan. Hidup Yusuf berubah 180 derajat. Dari dalam sumur yang gelap ke rumah Potifar, dari rumah Potifar ke dalam penjara yang dingin, dari penjara yang dingin ke dalam istana Firaun. Haleluya! Inilah yang dinamakan sengsara membawa nikmat. Proses berujung progres dan sukses.

Berkaca dari apa yang dialami oleh Yusuf, setiap proses yang kita alami, mungkin kesannya kita menderita, tidak nyaman, tidak enak, namun, selama kita berespons benar, yakinlah pada waktu-Nya, Tuhan akan membawa kita keluar dari itu semua. la akan membawa kita menikmati pemenuhan janji-Nya. (LA)

Questions:

1. Dari renungan hari ini, bagaimana Anda menyikapi proses yang dialami oleh Yusuf?
2. Bila hal yang dialami Yusuf terjadi pada Anda, bagaimana respons Anda?

Values:

Tuhan lebih tertarik dengan proses hidup kita. Jadi jangan berprasangka buruk saat mengalami kesengsaraan, jika direspons dengan benar, kesengsaraan akan membawa kenikmatan.

Kingdom Quotes:

Sengsara membawa nikmat adalah kasih karunia. Jika diijinkan Tuhan, nikmati!