SEPERTI ANAK KECIL
Bacaan Setahun:
2 Raja Raja 16:1 – 17:41
Kisah Para Rasul 26:24 – 27:12
Mazmur 81:8–16
“Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya.” (Markus 10:15)
Yesus memakai anak kecil sebagai standar masuk Kerajaan Sorga. Di tengah dunia yang menuntut kita untuk kuat, mandiri, dan selalu punya jawaban, perkataan Yesus terdengar aneh. Dia tidak memanggil para ahli Taurat, orang kaya, atau pemimpin agama untuk jadi teladan masuk Kerajaan Sorga. Dia justru memanggil seorang anak kecil. Mengapa? Karena anak kecil punya hati yang belum dirusak oleh gengsi, perhitungan, dan kelelahan hidup. Dan hati seperti itulah yang Tuhan cari. Yesus menunjukkan bahwa ada tiga sikap hati seorang anak kecil yang menjadi kunci untuk masuk dan mengalami Kerajaan Allah.
Pertama, percaya tanpa banyak tanya. Anak kecil tidak berdebat panjang ketika bapaknya mengajak lewat jalan tertentu. Dia hanya pegang tangan bapaknya dan berjalan. Seringkali kita mau paham dulu semua risiko, semua logika, baru logika, baru mau percaya Tuhan. Akibatnya kita menunda taat dan kehilangan damai. Amsal 3:5-6 mengingatkan, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka la akan meluruskan jalanmu.” Percaya berarti memilih bersandar pada karakter Tuhan yang setia, bahkan ketika jalannya tidak kita mengerti. Kerajaan Allah disambut dengan iman sederhana: Tuhan bilang kamu bisa, jadi aku percaya.
Kedua, jujur mengakui bahwa kita membutuhkan pertolongan. Anak kecil tidak punya gengsi. Dia tahu dirinya kecil dan tidak bisa apa-apa tanpa orang tuanya. Orang dewasa sering memakai topeng “aku baik-baik saja”. Kita takut terlihat lemah dan takut dinilai gagal. Dalam 2 Korintus 12:9 berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Merendahkan diri bukan tanda menyerah tapi kejujuran di hadapan Bapa. Dan di situlah kuasa Tuhan bekerja paling sempurna. Ketika kita berhenti berpura-pura kuat, kita memberi ruang bagi Tuhan untuk menopang kita.
Ketiga, mudah bersukacita untuk hal kecil. Anak kecil mudah bersukacita atas hal-hal kecil yang diterima. Kita sering menunggu momen besar: promosi, kesembuhan, masalah selesai, baru mau bersyukur. 1 Tesalonika 5:18 menasihati, “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.” Bersyukur bukan menyangkal masalah. Bersyukur adalah memilih melihat tangan Tuhan di tengah masalah itu. Sukacita Kerajaan Allah sering hadir dalam hal-hal kecil yang kita lupakan: udara yang kita hirup, secangkir kopi pagi, teman-teman yang baik.
Menjadi seperti anak kecil bukan berarti kekanak-kanakan. Itu berarti kembali ke tempat semula: percaya, jujur, dan bersandar. Di sanalah kita menemukan kebesaran yang sejati-bukan kebesaran di mata manusia, tetapi kebesaran di mata Bapa. (RJ)
Questions:
1. Dari tiga sikap anak kecil di atas, mana yang paling sulit anda praktikkan saat ini?
2. Sebutkan satu hal kecil hari ini yang bisa Anda syukuri!
Values:
Hati yang merendah seperti anak kecil adalah jalan untuk mengalami kedekatan dengan Bapa dan masuk ke dalam Kerajaan Allah.
Kingdom Quotes:
Besar di Kerajaan Sorga dimulai dari hati kecil yang berani percaya pada Bapa.