SERUPA TAPI TAK SAMA

SERUPA TAPI TAK SAMA 

Bacaan Setahun: 
Kej. 41; Mzm. 40; Mat. 17 

“Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.” (Ibrani 12:14)

Gereja tampil ke dunia melalui pribadi Yesus Kristus dari Nazareth yang kemudian dilanjutkan dan disebarkan oleh para rasul dan murid-murid Kristus. Awalnya ada duabelas rasul tetapi kemudian Yudas keluar karena menjadi pengkhianat. Tempatnya kemudian digantikan oleh Matias melalui pengundian oleh para rasul, tetapi kemudian tidak ada catatan yang ditinggalkan tentang pelayanannya. Yang tercatat kemudian adalah munculnya Saulus yang berganti nama menjadi Paulus yang kemudian dia diterima oleh para rasul sebagai salah satu rasul Tuhan Yesus. Namun karena Paulus satu-satunya rasul yang tidak pernah berjumpa secara fisik dengan Tuhan Yesus maka wajarlah kalau pengajarannya lebih menekankan pokok-pokok rohani sebagaimana pengalamannya bersama Tuhan Yesus. Karena itu Petrus yang lebih rasional menganggap pengajaran Paulus sebagai “….. hal-hal yang sukar difahami” (2 Pet. 3:15-16).

Pengajaran para rasul jelas tidak seragam karena masing-masing mengalami kebenaran itu dengan cara berbeda sesuai kepribadiannya sendiri-sendiri. Itulah sebabnya di Korintus sempat muncul berbagai golongan seperti tercatat dalam 1 Kor. 1:12 “Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus.” Hal ini diprotes Paulus karena menganggap bahwa pusat ajarannya haruslah Kristus, hal yang sama dengan anggapan para rasul lainnya. Itulah sebabnya tidak pernah tercatat dalam sejarah bahwa para rasul bertentangan dan berkelahi karena masalah doktrin, sebaliknya mereka saling mengasihi sebagaimana hakekat dari Allah sendiri yang adalah kasih. Pengajaran para rasul itu bukan hanya dibangun dengan narasi, dengan kata-kata saja tetapi dengan keteladanan, apa yang mereka alami bersama Kristus itu yang mereka ajarkan.

Kalau demikian, bagaimana dengan zaman now di mana ada begitu banyak ajaran dan perbedaan? Masing-masing mengklaim sebagai yang paling benar dan menganggap yang berbeda dengan dirinya salah sehingga muncul istilah, dibina atau dibinasakan, tidak bisa ditaklukkan, hancurkan saja. ini jelas menyimpang dari tujuan ajaran itu yaitu saling mengasihi dan hidup dalam perdamaian dengan semua orang. Jadi masalahnya di mana? Apakah ajaran-ajaran yang ada sekarang salah dan sesat semuanya? Sebenarnya kontennya secara gramatika, secara susunan katakata mungkin tidak salah, semua mengaku berasal dari kitab yang sama yaitu alkitab, tetapi itu semua menjadi salah ketika tidak dialami dan hanya sebatas teori dan pengetahuan saja.

Oleh karena itu memang kita harus membatasi diri tidak sibuk dengan banyaknya pengetahuan tetapi fokuslah apa yang kita pahami sekarang bagaimana aplikasi agar berdampak positif bagi orang lain. Jangan sibuk menilai dan mencela pengajaran yang tidak sama dengan kita, tetapi hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang. Halleluyah. (LS)

Questions:
1. Adakah pengajaran yang menurut anda berbeda dan tidak sesuai dengan pengajaran yang anda pahami? Bagaimana sikap anda?
2. Apakah anda kritis dengan pengajaran yang anda pahami sekarang, apakah sudah dilakukan?

Values:
Jangan sibuk menilai dan mencela pengajaran yang tidak sama dengan kita, tetapi hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang.

Kingdom’s Quotes:
Pengajaran yang benar serupa dalam hakekat tetapi tak harus sama dalam penerapannya.