“Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Matius 23:11-12)
“Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-nya, kata-nya: ahli-ahli taurat dan orang-orang farisi telah menduduki kursi musa. Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.”
(Matius 23:1-3)
MENGAPA KITA HARUS MEMILIKI KERENDAHAN HATI
Yesus mengajarkan bahwa kerendahan hati sangat penting untuk menjaga hubungan yang harmonis dengan sesama. Yesus menentang orang yang congkak atau sombong, dan mengasihi orang yang rendah hati.
Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu ia katakan: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (Yakobus 4:6)
DALAM KONTEKS APA SAJA KITA HARUS RENDAH HATI SEPERTI KRISTUS?
Dalam Hubungan Dengan Allah
“Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?“ Mikha 6:8
Kerendahan hati dalam hubungan kita dengan Allah berarti menyadari keterbatasan diri kita dan sepenuhnya bergantung pada-Nya. Kita tunduk kepada kehendak Allah dan tidak bersandar pada kekuatan kita sendiri.
Dalam Menghadapi Konflik atau Perselisihan
“Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain.” (Kolose 3:12-13).
Kerendahan hati membantu kita untuk meredakan konflik dengan bersikap lembut, meminta maaf, dan bersedia memaafkan. Sikap sombong hanya memperburuk keadaan. Bisakah kita dengan mudah memaafkan dan memberikan pengampunan?
Dalam Menggunakan Karunia dan Talenta
“Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” (Roma 12:3).
Kerendahan hati mencegah kita menjadi sombong dalam menggunakan karunia atau talenta kita. Sebaliknya, kita memakai segala sesuatu untuk melayani Tuhan dan sesama, dengan hati yang tulus. Kerendahan hati harus menjadi karakter kita dalam segala hal: sikap, perkataan, perbuatan, dan pikiran kita. Ini berarti kita hidup tidak untuk menyombongkan diri, tetapi untuk memuliakan Allah.
BAGAIMANA MENUMBUHKAN KERENDAHAN HATI SEPERTI KRISTUS?
Memandang Orang Lain sebagai Ciptaan Allah
Menghormati orang lain dimulai dari kesadaran bahwa setiap orang adalah gambar dan rupa Allah. Cara pandang ini didasarkan pada keyakinan bahwa setiap manusia, tanpa memandang latar belakang, status sosial, atau kelemahannya, diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Imago Dei).
“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-nya, menurut gambar Allah diciptakan-nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-nya mereka.” (Kejadian 1:27)
Memeriksa Motivasi Pelayanan
Mengapa kita mau melayani? Apa yang membuat kita senang melayani? Untuk memurnikan motivasi kita dalam melayani kita perlu melakukan ‘Proses Refleksi Diri’. Refleksi diri secara berkala tentang apa motivasi kita dalam melayani: apakah saya melayani untuk memuliakan Tuhan, atau untuk kepentingan pribadi? Jika kita merasa pelayanan menjadi beban, berdoalah meminta Tuhan memurnikan hati kita.
“Dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya, hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.” (Filipi 2:3).
Hindari sifat flexing. Jagalah sikap kita di saat sebelum maupun setelah sukses. Sadari kekurangan dan ketidakmampuan diri.
Belajar dari Teladan Yesus
Yesus menunjukkan cara yang sempurna untuk menghormati dan melayani orang lain. Dia menghormati setiap orang, termasuk mereka yang dianggap ‘tidak layak’. Fokus pusat pelayanan adalah YESUS, bukan diri kita sendiri. Sebuah contoh teladan Yesus adalah ketika Ia bertemu perempuan Samaria di sumur Yakub (Yohanes 4:1-25).
Melayani dan kerendahan hati memiliki hubungan yang erat, karena kerendahan hati adalah landasan utama untuk memberikan pelayanan yang sejati. Pelayanan sejati menuntut kita untuk mengesampingkan kepentingan diri sendiri demi melayani kebutuhan orang lain. Kerendahan hati membantu kita menerima pengorbanan dengan sukacita, tanpa mengeluh atau mencari penghargaan dari orang lain.
Mari belajar untuk tetap memiliki kerendahan hati. Amin. VW