SI KUSTA YANG BERSYUKUR

SI KUSTA YANG BERSYUKUR 

Bacaan Setahun: 
2 Raj. 20-21 , Mat. 21 

“Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini” (Lukas 17:18)

Kusta – penyakit yang amat mengerikan. Menurut hukum Taurat, orang yang terjangkiti penyakit ini harus diasingkan dan berseru, “Najis! Najis!” (Im. 13:45, 46). Dalam jangka waktu tertentu orang yang kena kusta bagian-bagian tubuhnya, seperti jari tangan atau kaki, telinga, gigi, lengan, hidung, dsb, akan terlepas. Dan orang-orang ini hanya dapat meraung-raung sambil mengais sampah untuk mencari makanan. Betapa mengerikan!

Sebab itu kita bisa menyadari betapa rindunya 10 orang kusta itu disembuhkan saat didengarnya bahwa Yesus dalam perjalanan menuju Yerusalem. Dan Yesus tidak pernah menolak setiap orang yang mengharapkan belas kasihan-Nya. Oh, betapa indahnya bila kita menyadari bahwa Allah kita adalah Allah yang penuh dengan belas kasihan. Tak pernah Ia menolak permohonan kita. Bila kita rindu belas kasihan-Nya Yesus selalu memberikannya. Dan dari kisah di atas akhirnya sepuluh orang kusta itu dipulihkan dan disembuhkan.

Dari 10 orang kusta, hanya satu yang kembali untuk mengucapkan terima kasih. Orang itu adalah orang Samaria kelompok dari golongan yang direndahkan oleh orang Yahudi. Di mana yang sepuluh? Oh, yang satu pulang ke rumahnya, yang satu mau mengunjungi tetangganya, yang satu kembali ke ladangnya, dan yang lainnya melakukan hal-hal yang tidak beda dengan rekan-rekannya. Yang pasti 9 orang kusta itu tidak tahu cara mengucap syukur atas apa yang Tuhan telah perbuat dalam hidup mereka.

Secara rohani, kusta adalah simbol dari dosa. Sebelum mengenal Kristus kita semua adalah “kuburan berjalan”, tanpa pengharapan dan tanpa Allah (Ef. 2:12). Kita seperti gelandangan yang setiap hari hanya mengais sampah dan berseru: “Kusta! Kusta!” Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat telah mentahirkan kita kembali dan mendudukkan kita bersamasama dengan Kristus. Tapi apa balasan kita kepada-Nya? Kita kerap bertindak seperti 9 orang kusta itu: tidak mengucap syukur kepada Tuhan dan tidak menjadi saksi atas apa yang Tuhan telah perbuat. Perhatikan orang Samaria yang kembali kepada Yesus dan menyembah-Nya. Orang Samaria ini mempunyai kerinduan untuk memuliakan Orang yang telah mentahirkannya. Apakah kita juga mempunyai kerinduan untuk memuliakan Allah dan menceritakan apa yang telah Tuhan perbuat dalam hidup kita? (DH)

Questions:
1. Mengapa hanya satu orang kusta yang kembali untuk mengucap syukur?
2. Kira-kira apakah alasan yang 9 kusta itu tidak mau kembali mengucap syukur?
Values:
Memuliakan Allah bukanlah merupakan pilihan, tetapi kewajiban!

Kingdom Quotes:
Orang yang tahu bersyukur adalah orang yang tahu berterima kasih kepada Sang Penolong.