SIMBOL KESOMBONGAN
Bacaan Setahun:
Kej. 14:1 – 16:16
Mat. 5:43 – 6:24
Mzm. 6:1–10
“… Jangan melampaui yang ada tertulis, supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri …” (1 Korintus 4:6)
Masih ingat peristiwa serangan WTC pada 11 September 2001? Para teroris menghancurkan menara kembar World Trade Center di New York dan menyerang gedung Departemen Pertahanan Amerika Serikat, Pentagon. Gedung WTC yang tingginya 417 meter dengan 110 lantai—bandingkan dengan Monas yang hanya 140 meter—runtuh setelah dua pesawat komersial yang dibajak sengaja ditabrakkan ke menara tersebut. Peristiwa ini mengguncang dunia dan membuat Amerika Serikat, yang saat itu dikenal sebagai negara dengan tingkat keamanan tinggi bagi para investor, tampaknya harus meninjau ulang reputasi itu setelah peristiwa tersebut.
Kita mengetahui bahwa Amerika merupakan negara yang penduduknya mayoritas beragama Kristen, meskipun tidak semuanya telah lahir baru. Namun kenyataannya, tingkat kejahatan yang tinggi pun banyak terjadi di negara ini. Kebebasan yang terlalu bebas menjadikan berbagai hal melampaui batas. Kasih karunia Allah dan dosa tampak sama besarnya; pendeta sejati dan nabi palsu pun jumlahnya tidak jauh berbeda.
Tanpa menghakimi, kita melihat bahwa bangunan-bangunan yang menjulang tinggi kerap menjadi simbol kesombongan dan pemberontakan manusia. Dalam Alkitab, kita membaca kisah Menara Babel (Kejadian 11:1–9), ketika manusia berusaha membangun menara yang puncaknya mencapai langit. Kita juga mengingat Lucifer, pemimpin pujian surgawi, yang berkata dalam hatinya, “Aku hendak naik ke langit, aku hendak mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Allah …” (Yesaya 14:13). Ia ingin menyamai Allah. Itulah inti kesombongan dan pemberontakan.
Pada zaman ini pun banyak orang berusaha “mendaki ke langit”. Mereka menjadi tinggi hati dan tidak menghargai kedaulatan Allah. Dengan kekayaan miliaran, mereka berjalan seolah raja yang layak dihormati. Dengan gelar atau jabatan yang mungkin diperoleh melalui cara yang keliru, mereka menuntut penghormatan dari orang lain. Hati yang sombong membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada sesamanya dan lupa bahwa setiap napas pun berasal dari kemurahan Tuhan.
Karena itu, biarlah orang lain berjalan dengan kepala terangkat, tetapi kita memilih berjalan dengan hati yang merendah. Kita sadar bahwa hidup ini semata-mata ada karena kasih karunia Allah. Kesombongan adalah bentuk bunuh diri rohani. Sebaliknya, kerendahan hati membuka pintu bagi damai sejahtera dan tuntunan Tuhan. Orang yang rendah hati tidak kehilangan nilai dirinya, tetapi justru menemukan kekuatan sejati di dalam Allah yang Mahatinggi. (DH)
Questions:
1. Apakah anda pernah memandang pencapaian atau kelebihan anda sebagai alasan untuk meninggikan diri?
2. Bagaimana anda dapat kembali memandang diri dengan benar di hadapan Allah yang berdaulat?
Values:
Kesombongan selalu membuat manusia naik, tetapi hanya untuk jatuh lebih dalam.
Kingdom Quotes:
Lebih baik berjalan menunduk di hadapan Allah daripada berdiri tegak di puncak kesombongan.