SING NGECET LOMBOK ABANG

Bacaan Setahun: 
Im. 26-27 
1 Tim. 6 

SING NGECET LOMBOK ABANG 
“Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannyapun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Matius 6:28-30

Suatu saat di jalanan yang sedang macet dan hati sedang kesal, saya berada di belakang sebuah truk, karena kendaraan berjalan lambat merambat saya dapat membaca tulisan yang ada di belakang truk itu. Bunyi tulisannya adalah “Golek rejeki ora usah ngoyo, kabeh wes diatur sing ngecet Lombok abang”. Sejenak kalimat ini membuat saya berpikir namun kemudian saya sadar, dan saya menangkap arti sesungguhnya yang terkandung dari kalimat tersebut. Kemudian hati saya menjadi tenang dan damai, saya jadi sabar walau sedang mengendarai mobil di tengah kemacetan.
Arti hurufiah dalam bahasa Indonesianya adalah, “Mencari rejeki tidak perlu ngoyo (memaksakan diri diluar kemampuan), semua sudah diatur yang mewarnai lombok merah”. Saat itu saya menerima pesan yang kuat, di tengah kemacetan di mana saya sedang diburu waktu untuk sampai tujuan, juga diburu target pekerjaan. Tuhan seolah berbicara melalui pesan kalimat singkat di belakang truk itu, “santai saja semua ada dibawah pengaturan-Ku, karena tidak satupun orang berkuasa mewarnai lombok menjadi merah selain Aku yang mengasihi mu”.
Sebenarnya kalau kita ngoyo (bekerja diluar batas kemampuan), karena kita dikuasai kekuatiran, maka kita ini sedang mengabaikan peran Tuhan yang kita percayai. Seperti juga bunyi ayat firman Tuhan yang saya kutip di ayat bacaan hari ini. Tuhan mengingatkan kita semua bahwa kekuatiran tidak perlu bagi kita yang percaya kepada-Nya. Jika kita kuatir, Tuhan berkata bahwa itu tak ubahnya seperti bangsa-bangsa (orang-orang) yang tidak mengenal Allah. Bagi kita yang percaya kepada-Nya, yang melakukan firman-Nya dan tak malas berusaha, yaitu dengan bekerja dengan benar sesuai porsi dan talenta kita, maka Tuhan akan memberkati kita dengan mencukupkan sandang, pangan dan papan. Dengan kata lain, dengan usaha yang tidak ngoyo, Tuhan bisa memenuhi semua kebutuhan kita. “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” ( Matius 6:26 )
Jadi saat ini ketika Anda masih bisa melihat, burung di udara yang tidak menabur tapi dipelihara oleh Allah. Masih bisa Melihat bunga yang berwarna- warni, masih bisa melihat Lombok yang berwarna merah, hijau, oranye, kuning, ungu, hitam. Jangan pernah kuatir, bukankah hidup kita lebih berharga daripada burung di udara atau Lombok di kebun? (DD)

Questions:
1. Apa penyebab kuatir sesungguhnya ?
2. Bisakah kehidupan alam flora dan fauna yang terpelihara, menggambarkan Allah juga pelihara kita?

Values:
Warga Kerajaan memahami pemeliharan Sang Raja tak akan pernah berkurang apapun situasinya

Tuhan kadang seolah diam, namun melalui alam ciptaan-Nya Anda bisa melihat kepedulianNya.