Tetapi kamu, saudara-saudara, kamu tidak hidup di dalam kegelapan, sehingga hari itu tiba-tiba mendatangi kamu seperti pencuri, karena kamu semua adalah anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita bukanlah orang-orang malam atau orang-orang kegelapan. Sebab itu baiklah jangan kita tidur seperti orang-orang lain, tetapi berjaga-jaga dan sadar.
(1 Tesalonika 5:4-6)
Di tengah dunia yang semakin dipenuhi kegelapan, pertanyaannya bukan sekadar apakah kita menyebut diri sebagai orang percaya, tetapi apakah kehidupan kita benar-benar menunjukkan bahwa kita adalah anak-anak Kerajaan Allah? Melalui perumpamaan lalang di antara gandum, Tuhan Yesus menggambarkan dunia seperti sebuah ladang tempat benih gandum dan lalang tumbuh bersama. Gandum adalah “anak-anak Kerajaan”, sedangkan lalang adalah “anak-anak si jahat”. Keduanya berada di tempat yang sama dan bahkan dapat bertumbuh dalam lingkungan yang sama, tetapi pada akhirnya akan terlihat perbedaannya.
Gambaran ini menjadi semakin relevan ketika kita melihat keadaan dunia saat ini. Kegelapan ada di sekitar kita, tetapi Tuhan tidak memanggil anak-anak-Nya untuk ikut hidup dalam kegelapan. Sebaliknya, Yesaya 60 memberikan panggilan yang sangat jelas: “Bangkitlah, menjadi teranglah.” Kegelapan menutupi bumi, tetapi terang Tuhan terbit atas umat-Nya. Karena itu, kehidupan orang percaya seharusnya menjadi kehidupan yang memancarkan terang, sehingga orang lain dapat melihat kemuliaan Tuhan melalui kehidupan kita.
Menjadi anak Kerajaan berarti memahami terlebih dahulu siapa diri kita dan siapa Bapa kita. Doa yang diajarkan Yesus dimulai dengan “Bapa kami yang di surga”. Identitas kita bukan terutama dibangun dari jabatan, kekayaan, prestasi, atau pengakuan manusia. Kita adalah warga Kerajaan dan memiliki hubungan dengan Bapa. Karena itu, cara hidup kita juga harus mengikuti budaya Kerajaan-Nya.
Budaya Kerajaan itu terlihat dalam kehidupan yang kudus, penuh kasih, terhormat, tertib, dan penuh kemuliaan. Dalam 1 Tesalonika 4, Paulus mengingatkan bahwa kehendak Allah adalah pengudusan umat-Nya. Orang percaya dipanggil untuk menjauhi percabulan, hidup dalam penghormatan, dan tidak memperlakukan orang lain dengan tidak benar. Kekudusan bukan sekadar aturan agama, melainkan identitas dari seseorang yang hidup sebagai warga Kerajaan Allah.
Kasih juga menjadi ciri penting anak Kerajaan. Paulus mengingatkan jemaat untuk terus bertumbuh dalam kasih persaudaraan. Tidak cukup hanya berbicara tentang kasih; kasih harus terlihat dalam cara kita memperlakukan orang lain. Bahkan dalam doa Bapa Kami, kita diajar untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Artinya, budaya Kerajaan berbeda dengan budaya dunia. Ketika dunia membalas kesalahan dengan kesalahan, anak Kerajaan dipanggil untuk hidup dalam pengampunan.
Selain kudus dan penuh kasih, anak Kerajaan juga dipanggil untuk hidup dalam kehormatan dan tanggung jawab. Paulus menasihati agar setiap orang mengurus persoalannya sendiri dan bekerja dengan tangannya sehingga hidupnya menjadi kesaksian yang baik bagi orang luar. Dengan demikian, iman tidak hanya terlihat di gereja, tetapi juga dalam pekerjaan, keluarga, bisnis, hubungan sosial, dan cara seseorang menjalani kehidupan sehari-hari.
Namun, hidup sebagai anak Kerajaan tidak berarti kita tidak memiliki musuh. Alkitab menggambarkan adanya musuh yang menaburkan lalang di antara gandum. Karena itu, kita perlu mengenali strategi yang dapat menjauhkan kita dari kehidupan Kerajaan. Lima musuh yang berbahaya dan harus kita waspadai adalah: the flatter atau penjilat, the doubter atau pembimbang, the tempter atau penggoda, the distractor atau pembelok, dan the accuser atau penuduh.
Penjilat dapat membuat seseorang terlena oleh pujian. Pembimbang membuat seseorang meragukan firman Tuhan dan kemampuannya sendiri. Penggoda menawarkan sesuatu yang tampaknya baik tetapi membawa manusia keluar dari kehendak Allah. Pembelok mengalihkan perhatian dari tujuan Kerajaan, sedangkan penuduh menyerang pikiran dan identitas seseorang dengan rasa bersalah serta ketakutan.
Karena itu, orang percaya harus belajar berjaga-jaga. 1 Tesalonika 5 menyatakan bahwa kita bukan anak-anak malam atau kegelapan, melainkan anak-anak terang dan anak-anak siang. Kita tidak dipanggil untuk tidur, tetapi untuk berjaga-jaga dan sadar. Kehidupan rohani membutuhkan kewaspadaan. Musuh justru digambarkan datang ketika manusia tidur.
Untuk menghadapi kehidupan di tengah kegelapan, Paulus memberikan gambaran perlengkapan rohani: iman dan kasih sebagai baju zirah serta pengharapan keselamatan sebagai ketopong. Iman membuat kita tetap percaya kepada Allah, kasih menjaga hati kita, dan pengharapan keselamatan membuat kita tidak kehilangan arah. Allah tidak menetapkan umat-Nya untuk hidup dalam ketakutan, melainkan untuk memperoleh keselamatan melalui Yesus Kristus dan saling membangun satu sama lain.
Salah satu bahaya terbesar ketika seseorang terbiasa hidup dalam kegelapan adalah tidak lagi menyadari bahwa dirinya berada di dalam kegelapan itu. Ilustrasi tentang seseorang yang meninggalkan kehidupan lama menunjukkan bahwa terang Kristus mampu membawa perubahan nyata. Pertobatan bukan sekadar perubahan pikiran, tetapi keputusan untuk meninggalkan kehidupan yang tidak berkenan kepada Allah dan memilih hidup dalam terang.
Karena itu, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: Apakah kehidupan saya sedang berjalan dalam terang atau dalam kegelapan? Apakah cara saya menjalankan bisnis sudah benar? Apakah hubungan saya dengan orang lain mencerminkan kasih? Apakah keputusan saya mencerminkan kekudusan? Apakah saya hidup dalam kehormatan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena menjadi anak Kerajaan bukan hanya tentang apa yang kita katakan, tetapi tentang bagaimana kita hidup.
Pada akhirnya, panggilan Tuhan kepada kita adalah bangkit dan bersinar. Filipi 2 menggambarkan anak-anak Allah sebagai terang di tengah generasi yang bengkok dan sesat. Daniel 12 bahkan mengatakan bahwa orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala dan yang menuntun banyak orang kepada kebenaran akan bercahaya seperti bintang-bintang untuk selama-lamanya. Inilah identitas Sons of the Kingdom: bukan orang yang bersembunyi dari dunia, tetapi orang yang membawa terang Kerajaan Allah ke tengah dunia. Kita tidak dipanggil untuk menjadi bagian dari kegelapan, melainkan untuk menunjukkan bahwa ada kehidupan yang berbeda—kehidupan yang kudus, penuh kasih, tertib, terhormat, dan memancarkan kemuliaan Tuhan.
Mari kita bangun dari tidur rohani. Jangan biarkan kegelapan memiliki ruang dalam hidup kita. Kenakan iman dan kasih. Pegang pengharapan keselamatan. Berjaga-jagalah. Dan biarlah kehidupan kita menjadi terang bagi orang lain. Sebab ketika kemuliaan Tuhan terbit atas kita, orang lain seharusnya dapat melihat terang itu. Seperti yang ditegaskan dalam Yesaya 60, ketika terang Tuhan bersinar, bangsa-bangsa akan datang kepada terang tersebut. Kita adalah anak-anak Kerajaan. Karena itu, marilah kita hidup sebagai anak-anak terang—bangkit, bersinar, dan menuntun banyak orang kepada kebenaran. Amin (RCH)