Staying Vigilant | Pdt. Eluzai Frengky Utana

Kita jangan terganggu dengan berbagai penafsiran tentang kedatangan Tuhan di masa akhir zaman. Yang penting adalah kita menyambut kedatangan Tuhan dengan hidup berjaga-jaga, dan memiliki sikap hati yang benar. Nantikanlah Tuhan dengan sikap yang positif, dan bukan karena kita bosan dengan hidup ini.

Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” (Matius 24:42-44)

BAGAIMANA KITA BERJAGA-JAGA DI DALAM TUHAN?

BERANI MELAKUKAN YANG KELIHATANNYA MUSTAHIL

Nuh tidak tahu apa itu bahtera, dan ia juga belum pernah tahu seperti apa hujan 40 hari 40 malam. Jika kita ada di posisi Nuh, pasti tidak mudah untuk taat akan perintah Tuhan. Karena itu, kita harus menguji setiap pesan Firman Tuhan yang kita terima.

Untuk masa kini, yang harus kita bangun bukanlah bahtera,  melainkan Tujuh Pilar Pengaruh yang ada di masyarakat (The Seven Mountains atau The Seven Spheres of Influence), yaitu pilar Keluarga, Agama/Gereja, Bisnis, Pemerintahan, Pendidikan, Media, Seni dan Hiburan.

Saat mempersiapkan bahtera adalah masa yang sangat sulit bagi Nuh, namun ketika ia mau mengambil langkah pertama, maka selanjutnya mujizat demi mujizat terjadi, binatang-binatang yang dibutuhkan datang sendiri. Mungkin kura-kura berjalan sangat pelan, dan masuk terakhir, tetapi Tuhan tetap menunggu sampai ia masuk ke dalam bahtera. Kita harus berani melakukan hal-hal yang tampaknya mustahil.

”Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pula halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. (Matius 24:37)

TIDAK DISIBUKKAN DENGAN HAL-HAL YANG SIFATNYA SEMENTARA

Sebab sebagaimana mereka pada zaman sebelum air bah itu makan dan minum, kawin dan mengawinkan, sampai kepada hari Nuh masuk ke dalam bahtera, dan mereka tidak tahu akan sesuatu, sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia. (Matius 24:38-39)

Jangan disibukkan dengan hal-hal yang bersifat sementara seperti pekerjaan, bisnis, menikah, mengejar posisi/jabatan, bahkan aktivitas pelayanan, tetapi sibuklah dengan apa yang bernilai kekal. Setelah kita bertobat, akan terjadi perubahan (transformasi) dalam pikiran kita karena kita menghidupi Firman Tuhan dan kita juga akan bertumbuh sebagai murid, yang juga akan memuridkan orang lain.

Waktu adalah milik Tuhan dan kita hanya pengelola, karena itu pakailah waktu untuk kita fokus kepada esensinya, bukan kepada bungkusnya.

Bungkusnya bangunan rumah, esensinya keharmonisan rumah tangga.

Bungkusnya ibadah gereja, esensinya menghidupi apa yang diajarkan.

Bungkusnya makanan, esensinya gizi yang memberi pertumbuhan dan kesehatan.

MENGUTAMAKAN RENCANA TUHAN DARIPADA AGENDA PRIBADI

Pada waktu itu kalau ada dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan, kalau ada dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. (Matius 24:40-42)

Setiap gunung punya ketinggian yang berbeda-beda, setiap laut juga memiliki kedalaman berbeda-beda. Jangan pernah membandingkan diri dengan orang lain, tetapi yang penting adalah menghidupi nilai-nilai Kerajaan Allah.  Komsel kita mungkin jumlah anggotanya hanya sedikit, tapi yang penting adalah kita mengajarkan nilai-nilai yang benar dan terus bertumbuh dalam kualitas. Sebaliknya kadang ada orang yang casing-nya tampak sebagai ‘orang yang diberkati’ tapi dalamnya belum tentu demikian. Namun orang yang memegang teguh perjanjian dengan Tuhan, saat terjadi guncangan ekonomi akan tetap kuat bahkan keluar sebagai pemenang.

SELALU MELEKAT DENGAN TUHAN

Tetapi ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pada malam hari pencuri akan datang, sudahlah pasti ia berjaga-jaga, dan tidak akan membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” (Matius 24:43-44)

Kita tidak pernah mengetahui kapan Tuhan akan datang kembali, tapi kita mengetahui bahwa Dia pasti akan datang kembali. Orang yang yakin akan kedatangan Tuhan, pasti hidupnya melekat dengan Tuhan.

Gembok tidak pernah dibuat tanpa kunci. Demikian pula masalah-masalah yang diizinkan Tuhan, tidak pernah tanpa solusi. Jika kita sabar menanti, maka jalan keluar pasti Tuhan berikan. Hidup yang melekat dengan Tuhan yaitu memiliki kehidupan doa setiap waktu, dan bukannya sekedar aktivitas-aktivitas ibadah doa. Melekat artinya selalu berdoa dan melibatkan Tuhan dalam setiap masalah kehidupan. Latihlah kehidupan yang melekat dengan Tuhan, hidupi, lalu ajarkan, sehingga orang lain juga akan diberkati.

Tetaplah waspada menyambut kedatangan Tuhan yang kedua. Amin. VW.