TAMPAR PIPI KANAN, BERIKAN PIPI KIRI
Bacaan Setahun:
2Taw. 21:1–23:21
1Kor. 15:50–16:4
Ams. 20:25–21:4
“Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.”
(Matius 5:39)
Ini adalah salah satu perkataan Yesus yang paling sulit diterima akal manusia. Terlalu absurd. Terlalu tidak manusiawi. Mana ada orang yang setelah ditampar pipi kanannya, dengan sukarela memberikan pipi kirinya? Secara naluriah, ketika disakiti, manusia pasti bereaksi: membalas, melawan, atau paling tidak menghindar. Karena itu banyak penafsir mengatakan bahwa perkataan Yesus ini hanyalah metafora. Sebab secara logika, hampir mustahil dilakukan manusia biasa.
Bukankah Firman Tuhan seharusnya relevan dengan realita hidup? Kecuali, yang menampar kita adalah anak kecil. Ketika seorang balita menampar wajah kita, kita tidak marah. Kita tidak tersinggung. Bahkan terkadang kita tertawa dan berkata, “Ayo sini, tambah lagi.” Mengapa? Karena kita sadar: ia belum mengerti apa yang ia lakukan. Tamparannya tidak lahir dari kebencian, melainkan dari ketidaksadaran.
Tiba-tiba saya teringat doa Yesus di atas kayu salib: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34) Kalimat itu sekarang terasa sangat dalam. Yesus tidak sedang membela tindakan mereka. Ia tidak mengatakan bahwa penyaliban itu benar. Tetapi Yesus memandang para pembenci-Nya sebagai manusia-manusia yang belum dewasa secara rohani. Mereka mungkin dewasa secara umur, memiliki jabatan agama, memahami hukum Taurat, bahkan dihormati masyarakat. Namun secara spiritual, mereka masih seperti anak-anak. Sebab orang yang dewasa rohani tidak akan menikmati ketidakadilan. Tidak akan memelihara kebencian. Tidak akan bersukacita melihat orang lain dihancurkan.
Di mata Yesus, para imam kepala dan ahli Taurat yang bersekongkol menyalibkan-Nya—meskipun Ia terbukti tidak bersalah—tetaplah jiwa-jiwa yang belum mengerti apa yang mereka lakukan. Itulah sebabnya Yesus tidak membalas. Padahal Ia mampu. Ia bisa memanggil bala tentara sorga. Ia bisa menghancurkan mereka dalam sekejap. Tetapi kasih selalu melihat lebih dalam daripada sekadar tindakan luar. Kasih melihat luka. Kasih melihat kebutuhan rohani. Kasih melihat ketidakdewasaan jiwa manusia. Karena itu Yesus memilih memaklumi. Yesus memilih mengampuni. Yesus memilih mengasihi.
Mungkin inilah makna terdalam dari “memberikan pipi kiri”, yaitu bukan menikmati penderitaan atau membiarkan kejahatan merajalela, melainkan memilih untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Kita menyerahkan keadilan kepada Tuhan, sementara hati kita tetap dipenuhi kasih. Hanya orang yang benar-benar dewasa rohani yang mampu melakukan itu. Orang yang dewasa rohani tidak mudah membalas. Ia mampu mengendalikan dirinya karena ia melihat manusia dengan belas kasihan, seperti Kristus melihat manusia. (DD)
Questions:
- Saat disakiti, mampukah kita melihat orang lain dengan belas kasihan seperti Kristus?
- Apakah saya sudah dewasa secara rohani dalam cara saya memperlakukan orang lain?
Values:
Warga Kerajaan yang dewasa rohani tidak mudah membalas. Ia mampu mengendalikan dirinya karena ia melihat manusia dengan belas kasihan, seperti Kristus melihat manusia.
Kingdom Quotes:
“Memberikan pipi kiri” bukan tanda kelemahan, tetapi tanda bahwa kasih Kristus lebih besar daripada ego, luka, dan keinginan untuk membalas.