TANGAN KOSONG, TANGAN TUHAN

TANGAN KOSONG, TANGAN TUHAN

Bacaan Setahun:
Hosea 12:1 – 14:9
Roma 9:1–21
Mazmur 89:9–13

“Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong Tuhan memulangkan aku…” (Rut 1:21 – TB)

Ada saat-saat dalam hidup ketika kita merasa Tuhan sedang berpihak pada kehancuran kita. Naomi merasakannya. Ia pergi ke Moab dengan suami dan dua anak laki-laki — sebuah keluarga yang utuh, sebuah masa depan yang cerah. Namun yang pulang hanyalah seorang perempuan tua yang berduka, dengan tangan yang kosong dan nama yang sudah tidak terasa cocok lagi. Naomi artinya “yang menyenangkan” — tetapi ia meminta dipanggil Mara, yang pahit.

Dari sudut pandang manusia, keluhan Naomi sangat masuk akal. Siapa yang tidak akan menyimpulkan hal yang sama jika kehilangan suami dan kedua anak dalam perantauan? Namun inilah paradoks iman: apa yang tampak sebagai akhir dari segalanya, di tangan Tuhan sedang menjadi awal dari segalanya.

Yang tidak disadari Naomi adalah bahwa ia tidak pulang dengan tangan kosong. Ia pulang membawa Rut — seorang perempuan Moab yang setia, yang dengan berani meninggalkan segalanya demi mengikut Allah Israel. Dan Rut bukan sekadar menantu yang baik hati. Dalam rencana kekal Allah, Rut adalah mata rantai yang menghubungkan keluarga Naomi kepada Daud — dan akhirnya kepada Mesias itu sendiri (Matius 1:5).

Naomi menghitung kerugiannya, sementara Tuhan sedang menyiapkan kemuliaan Nya. Inilah tegangan (pergumulan) yang selalu hadir dalam kehidupan iman: antara realita yang menyakitkan dan janji yang belum terlihat. Di sinilah iman diuji — bukan iman yang menyangkal rasa sakit, tetapi iman yang tetap percaya bahwa Tuhan bekerja bahkan di dalam kekosongan. Iman yang sejati bukan tidak merasakan kepahitan, tetapi tidak membiarkan kepahitan menjadi kata terakhir. Tangan yang tampak kosong di mata kita, mungkin sedang penuh di tangan Tuhan.

Sering kali kita hanya melihat apa yang hilang, sementara Tuhan melihat apa yang sedang Ia bangun. Ada proses yang tidak kita mengerti, ada air mata yang belum terjawab, tetapi Tuhan tidak pernah bekerja tanpa tujuan. Bahkan melalui kehilangan, Tuhan mampu menghadirkan pemulihan dan pengharapan baru.

Karena itu, jangan terlalu cepat menyimpulkan hidup hanya dari musim yang sedang dijalani. Jika Tuhan belum selesai bekerja, maka cerita kita pun belum selesai. Di balik kepahitan yang kita alami, Tuhan tetap sanggup menulis kisah anugerah yang indah pada waktunya. (DH)

Questions:
1. Adakah “kekosongan” dalam hidupmu yang selama ini kamu baca sebagai tanda ditinggalkan Tuhan?
2. Berkat apa yang mungkin sedang Tuhan siapkan melalui musim yang terasa pahit ini?

Values:
Iman bukan ketiadaan keraguan, melainkan kepercayaan yang hidup di tengah keraguan itu.

Kingdom Quotes:
Allah sering bekerja paling besar justru ketika kita merasa paling ditinggalkan.