TANGGUNG JAWAB – – – LEBIH SUKA MENDERITA SENGSARA

TANGGUNG JAWAB – – – LEBIH SUKA MENDERITA SENGSARA

Bacaan Setahun:

Bil. 21:4 – 22:20
Luk. 6:12–36
Mzm. 37:21–31

“Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa.” (Ibrani 11:25)

Kata tanggung jawab dalam bahasa Inggris adalah responsibility, yang berasal dari dua kata: response (tanggapan) dan ability (kemampuan). Artinya, tanggung jawab adalah kemampuan untuk merespons dengan benar. Bukan sekadar tahu, tetapi berani mengambil sikap yang tepat-meski tidak nyaman. Pada dasarnya, manusia memiliki kecenderungan mencari kambing hitam, yaitu menyalahkan orang lain atas kegagalan yang dialaminya, ini menunjukkan bahwa manusia secara alami tidak menyukai tanggung jawab. Salah satu wujud nyata dari sikap ini adalah mengambil jalan pintas. Jalan pintas sesungguhnya adalah bentuk pengalihan tanggung jawab.

Contoh lain dari ketidakbertanggungjawaban adalah berlaku curang, termasuk menyebarkan berita hoaks demi mencapai tujuan tertentu. Bahkan dalam hal yang terlihat sepele, seperti sikap gemar menerima barang gratis atau hadiah tanpa usaha, tersimpan mentalitas tidak bertanggung jawab. Dalam kehidupan sosial dan politik, kita kerap menyaksikan pemimpin yang tanpa rasa bersalah mengklaim keberhasilan bawahannya sebagai prestasi pribadi.

Sikap bertanggung jawab seharusnya dipupuk sejak dini. Dalam tradisi keluarga kami, anak-anak diajarkan untuk tidak mudah menerima pemberian orang lain, apalagi sampai meminta-minta. Ketika berkunjung ke rumah kerabat dan ditawari makanan atau hadiah, kami harus terlebih dahulu meminta persetujuan orang tua. Tujuannya bukan menolak kebaikan, tetapi membentuk karakter yang menghargai usaha dan etika.

Kembali pada ayat bacaan, Musa-ketika dewasa-menyadari identitas sejatinya sebagai orang Ibrani. la mengambil keputusan yang sangat sulit: meninggalkan istana Mesir, menanggalkan status nyaman sebagai pangeran, dan memilih berjalan bersama umat Allah. Ungkapan “lebih suka menderita sengsara” bukanlah sikap pasif atau pesimistis, melainkan wujud tanggung jawab moral dan iman.

Dengan demikian, orang yang bertanggung jawab adalah orang yang dengan sadar lebih memilih kesengsaraan yang bermakna daripada kesenangan yang sementara. Kesengsaraan yang ia pilih bukan sia-sia, melainkan berdampak positif bagi banyak orang. Mari kita menyelidiki diri masing-masing: Apakah kita termasuk orang yang lebih suka menderita sengsara demi kebenaran dan kebaikan bersama, atau justru lebih suka menikmati kesenangan sendiri-alias menghindari tanggung jawab? Hanya Anda dan saya yang bisa menjawabnya. (DD)

Questions:

1. Dalam keputusan hidup kita hari ini, apakah kita sedang memilih yang BENAR atau yang AMAN?
2. Apakah “kenyamanan” yang kita nikmati sekarang sebenarnya adalah cara halus untuk lari dari tanggung jawab? Diskusikan!

Values:

Iman sejati selalu menuntut harga—yaitu “lebih suka menderita sengsara” daripada menikmati dosa yang sementara.

Kingdom Quotes:

Orang yang bertanggung jawab bukan orang yang tidak suka kenyamanan, tetapi orang yang berani memikul penderitaan demi kebenaran.