TEORI KENTANG KECIL
Bacaan Setahun:
Wahyu 16, Est. 9-10, Mzm. 107:23-43
“Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Galatia 6:7).
Bertahun-tahun yang lalu, para petani di Tiongkok memiliki teori: makanlah kentang besar, lalu tanam kembali kentang kecil sebagai benih. Sekilas tampak cerdas, karena kentang terbaik langsung dinikmati. Namun, setelah beberapa tahun, hasilnya mengecewakan. Semua kentang yang dipanen menyusut menjadi sebesar kelereng. Alam seakan memberi peringatan: jangan pernah berharap hasil besar dari benih yang kecil dan sisa.
Kisah ini memberi pelajaran penting. Kita sering jatuh dalam pola yang sama: mengharapkan panen besar, tetapi menabur seadanya. Memberi untuk Tuhan dengan sisa waktu, sisa tenaga, atau sisa harta, lalu bertanya-tanya mengapa hasil hidup kita begitu kecil. Prinsip ini menyalahi bukan hanya hukum alam, melainkan juga hukum Allah. Paulus berkata, “Barangsiapa menabur dalam daging, ia akan menuai kebinasaan dari daging, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup kekal dari Roh” (Galatia 6:8).
Yesaya menegaskan bahwa Tuhan menumbuhkan benih yang ditaburkan (Yesaya 61:11). Itu berarti kualitas benih menentukan kualitas panen. Kalau kita menabur kebaikan, kasih, dan kebenaran, kita tidak akan dikecewakan. Tetapi kalau yang kita tabur hanyalah ego, iri hati, dan kepentingan diri, jangan heran bila hasilnya pahit.
Sering orang menyalahkan keadaan: ada yang kaya hidupnya berkelimpahan, ada yang miskin hidupnya kekurangan. Apakah Tuhan tidak adil? Tidak! Tuhan bekerja dengan prinsip tabur dan tuai. Kaya atau miskin, semua bisa menabur benih yang terbaik. Bahkan seorang janda miskin di Bait Allah memberi “benih besar” dari kekurangannya, dan Yesus menegaskan bahwa persembahannya melebihi pemberian orang kaya (Lukas 21:1-4).
Karena itu, jangan pernah meremehkan apa yang kita tabur hari ini. Setiap kata, sikap, dan tindakan adalah benih yang akan kembali kepada kita. Taburlah doa, taburlah iman, taburlah pelayanan yang terbaik. Apa yang ditanam dengan kesungguhan, pasti akan dituai dengan kelimpahan pada waktunya. Dan ingat, hasil panen yang sejati bukan hanya berupa berkat jasmani, melainkan juga damai sejahtera dan sukacita yang kekal dalam Kristus. Kalau Anda ingin hidup kekal, taburlah dalam Roh. Kalau Anda ingin berkat besar, jangan menabur sisa. Siapa menabur kentang besar, akan menuai kentang besar pula. (DH)
Questions:
1. Apakah Anda menabur yang terbaik atau hanya sisa?
2. Apakah benih yang Anda tabur berasal dari daging atau dari Roh?
Values:
Jangan harap menuai besar kalau Anda hanya menabur sisa.
Kingdom Quotes:
Kualitas panen ditentukan oleh kualitas benih yang Anda tabur hari ini.