TERAPI GUA ADULAM
Bacaan Setahun:
1Raja-raja 12:25 – 14:20
Kisah Para Rasul 16:1–15
Mazmur 78:1–8
“Pandanglah ke kanan dan lihatlah, tidak ada seorangpun yang menghiraukan aku; tempat pelarian bagiku telah hilang, tidak ada seorangpun yang mencari aku.” (Mazmur 142:5 – TB)
Daud sedang bersembunyi di Gua Adulam karena dikejar Raja Saul yang hendak membunuhnya. Semua itu bermula karena Daud semakin populer. Ia cakap memimpin pasukan, gagah sebagai pahlawan perang, dan digemari banyak orang. Kepopuleran itu membangkitkan iri hati Saul, yang kemudian berubah menjadi kebencian. Berkali-kali Saul berusaha membunuh Daud, sehingga Daud harus melarikan diri dan bersembunyi di gua-gua, salah satunya Gua Adulam. Nyawanya terancam. Bahkan pernah ia terpaksa berpura-pura gila untuk menyelamatkan diri dari kejaran musuh.
Di tengah keadaan itu, Daud mengalami pergumulan batin yang berat—kecewa, marah, sedih, takut, dan kesepian. Dalam penderitaannya, ia berseru meminta pertolongan Tuhan. Jeritan hatinya tercatat, antara lain, dalam Mazmur 34, 35, 142, dan 143. Salah satu seruan yang menyentuh terdapat dalam Mazmur 142:5, yang menunjukkan betapa dalam keputusasaan Daud, ia tetap menjadikan Tuhan sebagai perlindungannya.
Dalam kesepian dan tekanan itu, Daud tentu membutuhkan penghiburan dan dorongan semangat. Apakah Tuhan mendengar jeritannya? Ya, tetapi cara Tuhan menolong sangat mengejutkan. Tuhan tidak mengirim orang-orang kuat untuk menopang Daud, melainkan orang-orang yang juga sedang bermasalah: mereka yang hidup dalam kesukaran, dikejar para penagih utang, dan orang-orang yang sakit hati. Mereka datang bukan untuk menolong Daud, melainkan meminta pertolongan darinya.
Bayangkan reaksi Daud ketika melihat orang-orang ini datang. Mungkin Daud berpikir: “Aku sendiri sedang kesusahan, mengapa Tuhan malah mengirim orang-orang yang juga penuh masalah?” Namun justru di situlah cara Tuhan bekerja. Tuhan menghibur Daud dengan memberinya kesempatan untuk menghibur orang lain. Tuhan memulihkan semangat Daud dengan memakainya untuk menguatkan orang lain. Ini seperti terapi ilahi: dari seseorang yang merasa menjadi objek penderitaan, diubahkan menjadi subjek pemulihan bagi sesamanya.
Sebagai hasilnya, Daud yang semula sibuk meratapi diri sendiri mulai bangkit menjalankan panggilannya. Ia menolong mereka, memimpin mereka, dan membentuk komunitas di tengah penderitaan. 1 Samuel 22:2 mencatat, “Berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati, maka ia menjadi pemimpin mereka.”
Ternyata, justru ketika Daud menghibur orang lain, ia sendiri dihiburkan. Ketika ia menguatkan orang lain, ia pun dikuatkan. Inilah yang dapat disebut sebagai “terapi Gua Adulam”. Sering kali Tuhan memulihkan luka kita bukan dengan mengangkat semua persoalan seketika, tetapi dengan memakai kita menjadi saluran pertolongan bagi orang lain. Dan dalam proses menolong itulah, hati kita sendiri dipulihkan oleh Tuhan. (AU)
Questions:
1. Saat berada dalam kesesakan, apakah Anda tetap terbuka dipakai Tuhan untuk menguatkan orang lain?
2. Mungkinkah Tuhan sedang memulihkan Anda justru melalui kesempatan menolong sesama?
Values:
Tuhan kerap memulihkan hati yang terluka bukan hanya dengan mengangkat masalahnya, tetapi dengan menjadikannya saluran penghiburan bagi orang lain.
Kingdom Quotes:
Sering kali Tuhan menghibur kita bukan dengan menghilangkan beban, tetapi dengan memakai kita mengangkat beban orang lain.