The Another Man | Pdt. Timotius Arifin Tedjasukmana

Judul Firman Tuhan hari ini adalah The Another Man (Orang Yang Berbeda). Sebagai orang percaya dan warga Kerajaan Allah apakah hidup kita dikenal sebagai orang yang berbeda? Hanya Tuhan yang mampu menjadikan kita sebagai seseorang yang berbeda. Alkita mencatat ketika Saul yang adalah orang biasa dan dia sedang dalam keadaan mencari keledainya yang hilang, maka Roh Tuhan akan berkuasa atasnya maka ia berubah menjadi orang yang luar biasa yang mampu bernubuat.

Maka Roh TUHAN akan berkuasa atasmu; engkau akan kepenuhan bersama-sama dengan mereka dan berubah menjadi manusia lain. (1 Samuel 10:6)

Alkitab juga mencatat ada seseorang yang turun tingkat, dari orang luar biasa menjadi orang biasa karena kesalahannya. Dia adalah Simson. Kekuatan Simson ada karena kuasa Allah bekerja atas hidupnya. Jadi jika kita mau menjadi orang yang berbeda, kita harus minta kuasa Roh Kudus untuk memenuhi hidup kita.

Ada satu pengajaran dari Tuhan Yesus yang sangat terkenal di dalam Lukas 10:25-37 yaitu kisah tentang Orang Samaria yang baik hati (The Good Samaritan). Samaria adalah kelompok etnis dan religius yang tinggal di wilayah Israel Utara, mereka memiliki ciri khas memakai jubah berwarna putih dengan sorban (penutup kepala) kombinasi putih dan merah. Dalam Bahasa Aramaik, arti kata Samaria (Samaritan) adalah penjaga Firman (keeper of the law)

Dalam perikop ini, ada seorang ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” Seorang ahli taurat seharusnya sudah memahami apa yang ia tanyakan. Kemudian ia berkata: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Yesus berkata kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.”

Tetapi untuk membenarkan dirinya sendiri, ahli taurat itu kembali mengajukan pertanyaan kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?”. Agama selalu mencari pembenaran, tetapi Firman Tuhan seperti cermin yang akan menyatakan kebenaran dalam diri kita. Yesus melanjutkan dengan menceritakan bahwa ada seorang Yahudi yang sedang dalam perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho. Jalan yang ia lalui berkelok-kelok, sepi dan banyak bahaya, namun ia berjalan sendirian. Hanya orang bodoh yang berjalan sendiri melalui jalan berbahaya. Orang tersebut dirampok habis-habisan, ditelantarkan dan dibiarkan setengah mati.

Kebetulan ada seorang imam lewat di situ. Seorang imam adalah keturunan imam besar Harun. Seorang imam bukan cuma dilatih di dalam tata sembahyang, tata ibadah ataupun kurban di bait Allah, tetapi ia juga dilatih soal kesehatan bahkan ia bisa mengeluarkan sertifikat orang itu sembuh daripada kusta atau sebaliknya. Melihat imam itu lewat menjadi sebuah pengharapan bagi pria yang dirampok itu, tetapi imam ini melihat orang itu, dan mengambil jalan yang lain. Dia membutakan matanya, menulikan telinganya dan pura-pura tidak tahu. Sebagai warga Kerajaan, jika hari ini ada seseorang yang meminta tolong pada kita, jangan menolaknya dan janganlah kita menjadi orang yang tidak peduli.

Kemudian lewatlah orang Lewi, gambaran seorang pelayan Tuhan, namun ia juga melewatinya tanpa mau menolong. Betapa kecewanya pria yang dirampok itu ketika melihat seseorang yang diharapkan dan seharusnya melindungi justru tidak peduli. Akhirnya, seseorang yang berbeda, seorang Samaria, seseorang yang tidak diharapkan justru memiliki belas kasihan, mendengar seruannya dan menolongnya. Ia rela turun dari keledainya, ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali.

Jika hari ini kita merasa bahwa hidup kita seperti pria yang sedang berjalan sendiri ke Yerikho dan dirampok habis-habisan, kita menderita dan seolah-olah tidak ada yang peduli. Ada kabar baik, Yesus, ‘the another man’ masih peduli pada penderitaan kita. Yohanes 8:48, Yesus pernah dikatakan sebagai seorang Samaria yang kerasukan setan, tetapi semua ditundukkan oleh Yesus.

Lalu Yesus kembali mengajukan pertanyaan: “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” dan Ahli taurat itu menjawab: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

The another man melihat orang itu dan tergerak hatinya oleh belas kasihan. Ini adalah gambaran Yesus, yang selalu tergerak oleh belas kasihan. Kompas terbaik didalam hidup kita adalah belas kasihan (The Best Compass Is Compassion). Dalam 9:36 dikatakan: Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala., Matius 14:14; Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit. Dan Matius 15:32; Lalu Yesus memanggil murid-murid-Nya dan berkata: “Hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan. Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan.”

Imam dan orang Lewi bukanlah orang jahat. Mereka rohani. Mereka mengenal Taurat. Mereka tahu hukum Tuhan. Namun mereka gagal pada titik yang paling penting yaitu kasih. Miliki belas kasihan karena di dalam Kerajaan Allah bukanlah soal identitas atau batas agama, melainkan siapa yang menunjukkan kasih melalui tindakan nyata. Amin. (RCH).