Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: “Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.” (1 Timotius 3:16)
And without controversy great is the mystery of godliness: God was manifested in the flesh, Justified in the Spirit, Seen by angels, Preached among the Gentiles, Believed on in the world, Received up in glory. (1 Timothy 3:16)
Kenaikan Tuhan Yesus sering kali menjadi perayaan yang kurang mendapat perhatian dibanding Natal atau Paskah. Banyak orang percaya memahami kelahiran Yesus, kematian-Nya di kayu salib, dan kebangkitan-Nya, tetapi tidak sungguh-sungguh memahami makna kenaikan-Nya ke surga. Padahal kenaikan Yesus memiliki arti yang sangat penting dalam rencana Kerajaan Allah. Yesus bukan hanya Juruselamat yang menyelamatkan manusia dari dosa, tetapi Ia adalah Raja yang memerintah untuk selama-lamanya dan akan kembali untuk memerintah di bumi.
Dalam 1 Timotius 3:16 tertulis, “Great is the mystery of godliness.” Ayat ini berbicara tentang rahasia besar dari iman Kristen, yaitu Allah yang menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia. Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Ia datang ke dunia sebagai manusia sejati. Karena itu Yesus juga mengalami rasa sakit, lapar, haus, bahkan penderitaan seperti manusia pada umumnya. Ketika dipaku di kayu salib, Yesus benar-benar merasakan penderitaan. Namun di tengah kemanusiaan-Nya, Yesus tetap hidup tanpa dosa dan penuh kebenaran.
Kekristenan bukan sekadar agama yang mengubah perilaku manusia menjadi sedikit lebih baik. Agama mungkin dapat memperbaiki moral seseorang, tetapi hanya Yesus yang dapat mengubah hati manusia menjadi serupa dengan Allah. Itulah sebabnya kita tidak bisa membandingkan Yesus dengan tokoh siapaun. Dunia mungkin mengenal tokoh-tokoh besar, pemimpin besar, atau orang-orang yang dianggap “greatest of all time,” tetapi tidak ada seorang pun yang setara dengan Yesus Kristus. Ia adalah Alpha dan Omega, Yang Awal dan Yang Akhir, Raja atas segala raja (Wahyu 1:17-18).
Injil yang diberitakan Yesus bukan hanya Injil keselamatan pribadi, melainkan Injil Kerajaan Allah. Banyak orang berhenti pada salib dan kebangkitan, seolah-olah tujuan akhir orang percaya hanyalah masuk surga. Namun sesungguhnya kebangkitan Yesus bukan akhir dari cerita. Setelah bangkit, Yesus naik ke surga untuk dinobatkan sebagai Raja, dan suatu hari nanti Ia akan datang kembali.
Untuk memahami hal ini, kita akan belajar dari Injil Lukas 19:11-28, Yesus menceritakan tentang seorang bangsawan yang pergi ke negeri jauh untuk dinobatkan menjadi raja dan sebelum berangkat ia mempercayakan masing-masing satu mina kepada sepuluh hambanya untuk dipakai berdagang sampai ia kembali. Setelah dinobatkan menjadi raja, ia kembali dan meminta pertanggungjawaban dari para hambanya. Hamba yang setia dan berhasil melipatgandakan mina ada yang menghasilkan sepuluh mina dan lima mina sehingga hamba yang setia mendapat pujian dan kuasa atas sepuluh dan lima kota, sedangkan hamba yang malas dan takut, yang hanya menyimpan minanya dalam sapu tangan tanpa menghasilkan apa-apa, dihukum dan kehilangan apa yang dimilikinya bahkan mina yang satu itupun diserahkan kepada hamba yang memiliki sepuluh mina.
Perumpamaan ini berbicara tentang Yesus sendiri. Ia naik ke surga untuk menerima kemuliaan dan pemerintahan dari Bapa, tetapi setelah itu Ia akan kembali ke bumi untuk meminta pertanggung jawaban kita. Melalui perumpamaan ini, Yesus mengajarkan bahwa setiap orang harus setia mengelola kepercayaan dan tanggung jawab yang Tuhan berikan selama menantikan kedatangan Kerajaan Allah, sebab akan ada upah bagi yang setia dan penghakiman bagi yang menolak atau tidak taat kepada Raja itu. Karena itu fokus orang percaya seharusnya bukan hanya “menatap ke langit,” melainkan mempersiapkan diri bagi pemerintahan Kerajaan Allah di bumi.
Dalam perumpamaan tentang uang mina di injil Lukas 19 tadi, setiap hamba diberi tanggung jawab untuk melipatgandakan apa yang dipercayakan kepadanya. Mina itu melambangkan hidup, waktu, talenta, uang, kesempatan, bahkan Roh Kudus yang Tuhan berikan kepada setiap orang percaya. Tuhan tidak ingin umat-Nya hanya menjadi penonton atau hidup pasif. Ia ingin setiap orang memakai hidupnya untuk menghasilkan buah bagi Kerajaan Allah.
Akan ada reward atau upah dalam Kerajaan Allah. Orang yang setia akan dipercayakan tanggung jawab lebih besar ketika Kristus memerintah kelak. Kesetiaan dalam perkara kecil di bumi menentukan tanggung jawab dalam pemerintahan bersama Kristus nanti. Sebaliknya, orang yang malas, tidak setia, dan hanya hidup bagi dirinya sendiri akan kehilangan kesempatan itu. Tidak semua orang yang menyebut nama Tuhan benar-benar hidup dalam kehendak-Nya. Banyak orang aktif secara rohani, melayani, bahkan melakukan mujizat, tetapi tidak hidup dalam ketaatan kepada Tuhan. Kerajaan Allah bukan sekadar soal aktivitas agama, melainkan hidup dalam kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus (Roma 14:17).
Tujuan akhir orang percaya bukan sekadar tinggal di surga selamanya. Firman Tuhan menunjukkan bahwa Yesus akan datang kembali dan memerintah di bumi. Nubuat dalam kitab Zakharia 14:4-5 menyatakan bahwa kaki-Nya akan berdiri di Bukit Zaitun dan Ia akan memerintah sebagai Raja, dan semua orang kudus bersama-sama Dia. Karena itu orang percaya dipanggil untuk memahami identitasnya sebagai anak-anak Kerajaan Allah. Dahulu manusia hanya disebut anak Abraham melalui iman, tetapi melalui kebangkitan Kristus, kita menjadi putra-putri Kerajaan Allah. Identitas ini penting karena banyak orang Kristen hidup tanpa menyadari siapa mereka sebenarnya di dalam Kristus.
Sebagai ilustrasi, ada seekor anak singa yang dibesarkan bersama kawanan domba. Singa itu tumbuh dengan menganggap dirinya domba. Ia makan rumput dan hidup seperti domba lainnya. Namun suatu hari ia melihat bayangannya sendiri di air dan menyadari bahwa dirinya bukan domba, melainkan singa. Ilustrasi ini menggambarkan banyak orang percaya yang hidup lemah, takut, dan tidak menyadari otoritas rohani yang Tuhan berikan kepadanya.
Yesus juga terlalu sering digambarkan sebagai pribadi yang lemah, pasif, dan tidak berdaya. Padahal Alkitab menggambarkan Yesus sebagai Singa dari suku Yehuda. Ia memang datang pertama kali sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, tetapi Ia akan datang kembali sebagai Raja yang penuh kuasa dan kemuliaan. Gambaran Yesus dalam kitab Wahyu menunjukkan Dia sebagai Raja yang kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu yang putih metah, dan mata-Nya bagaikan nyala api, dan kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian; suara-Nya bagaikan desau air bah sehingga penuh dengan otoritas surgawi.
Karena itu kehidupan orang percaya bukan kehidupan yang pasif. Hidup adalah peperangan rohani. Dunia penuh dengan tantangan, dosa, dan pekerjaan iblis yang berusaha menghancurkan manusia. Iblis masih aktif bekerja di dunia ini, oleh sebab itu orang percaya harus hidup dalam kuasa Roh Kudus dan keberanian sebagai anak Kerajaan Allah. Kenalilah siapa Allah kita (know your God), siapa diri kita di dalam Kristus (know yourself) dan siapa musuh kita (know your enemy) yaitu iblis.
Kenaikan Yesus ke surga juga berkaitan erat dengan pencurahan Roh Kudus. Setelah Yesus naik ke surga, Roh Kudus dicurahkan untuk memperlengkapi gereja menjalankan misi Kerajaan Allah di bumi. Roh Kudus memberi kuasa, keberanian, dan kemampuan kepada orang percaya untuk hidup sebagai saksi Kristus.
Yesus telah naik ke surga, Ia adalah Raja yang hidup dan memerintah selamanya, tetapi suatu hari akan kembali. Karena itu setiap kita dipanggil untuk hidup sebagai anak-anak Kerajaan Allah, berani menghadapi peperangan rohani dan setia memakai setiap talenta yang Tuhan berikan, serta hidup dalam kuasa Roh Kudus sampai Kristus datang kembali. Amin. (RCH).