The Holy One | Pdt. Timotius Arifin Tedjasukmana

Sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan. (Mazmur 16:10)

Jangan lagi ada yang berkata Happy Easter atau Selamat Paskah, tetapi ini kita merayakan hari kebangkitan Yesus Kristus sebagai inti iman Kristen dan dasar kehidupan orang percaya dalam perspektif Kerajaan Allah. Hari kebangkitan bukan sekadar tradisi atau perayaan tahunan, tetapi sebuah realitas rohani yang mengubah hidup manusia secara total. Kebangkitan bukan hanya peristiwa sejarah, melainkan deklarasi kemenangan Allah atas dosa, maut, dan segala kuasa kegelapan.

Menurut penanggalan Yahudi, peristiwa kebangkitan Yesus terjadi pada tanggal 17 Nisan. Ada beberapa peristiwa penting lainnya yang pernah terjadi pada tanggal yang sama adalah mendaratnya bahtera Nuh di gunung Ararat setelah mengalami air bah yang begitu dahsyat. Peristiwa kedua adalah ketika Musa memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir dan mereka menyeberang di tengah-tengah laut Teberau yang terbelah. Dan, peristwa ketiga yang juga terjadi pada tanggal 17 bulan Nisan adalah Yosua membawa masuk bangsa Israel ke tanah yang dijanjikan dengan melintasi sungai Yordan yang terbelah.

Ararat artinya kutuk dibalikkan, demikian pula ketika Yesus mati di kayu salib terjadi pembalikan kutuk menjadi berkat, “exchange” (pertukaran ilahi). Yesus mengambil posisi manusia yang berdosa dan menanggung segala kutuk, penderitaan, dan keterpisahan dari Allah, supaya manusia menerima kehidupan, berkat, dan pemulihan. Ia menjadi sama seperti manusia—mengalami lapar, haus, kesedihan, bahkan tekanan batin—namun tanpa dosa. Melalui kematian-Nya, Ia menghancurkan kuasa maut yang selama ini memperbudak manusia melalui ketakutan. Karena itu, orang percaya tidak lagi hidup dalam ketakutan akan kematian, sebab maut telah dikalahkan.

Tema kita adalah “The Holy One” (Yang Kudus) yang merujuk kepada identitas pribadi Yesus. Istilah ini menunjukkan bahwa Yesus bukan sekadar nabi atau tokoh sejarah, melainkan Pribadi ilahi yang kudus yang tidak mungkin dikuasai oleh kematian. Mazmur 16 menjadi dasar bahwa “Yang Kudus tidak akan melihat kebinasaan.” Daud, sebagai penulis mazmur, tidak berbicara tentang dirinya sendiri, melainkan menubuatkan tentang Mesias yang akan datang—Yesus Kristus. Kebangkitan menjadi bukti bahwa Yesus adalah benar-benar Yang Kudus, yang tidak dapat ditahan oleh kuasa maut.

Yesus bukan hanya Juruselamat, tetapi juga Raja. Ia menyatakan bahwa Ia datang untuk menjadi Raja, dan setelah kebangkitan-Nya, Ia kini memerintah. Kerajaan-Nya bukan berasal dari dunia ini, tetapi nyata dan berkuasa. Oleh karena itu, orang percaya bukan sekadar pengikut agama, melainkan putra-putri Kerajaan Allah yang memiliki identitas dan otoritas rohani. Kesadaran ini seharusnya mengubah cara hidup, sikap, dan cara pandang terhadap dunia.

Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang tidak mungkin gagal. Ini menjadi penguatan iman kita bahwa semua janji Allah pasti digenapi. Tuhan tidak berdusta, tidak ingkar janji, dan tidak pernah kehilangan kendali. Kebangkitan Yesus adalah bukti nyata bahwa rencana Allah tidak dapat digagalkan, sekalipun tampaknya segala sesuatu berakhir di salib. Apa yang terlihat sebagai kekalahan justru menjadi kemenangan terbesar.

Selalu ada “hari ketiga” dalam kehidupan orang percaya. Hari ketiga melambangkan kebangkitan, pemulihan, dan kemenangan setelah masa gelap atau penderitaan. Murid-murid sempat ketakutan dan putus asa setelah penyaliban Yesus, tetapi kebangkitan mengubah segalanya. Demikian juga dalam kehidupan orang percaya, tidak peduli seberapa gelap situasi yang kita hadapi, selalu ada harapan karena Tuhan sanggup membalikkan keadaan.

Pada hari ketiga setelah hari sabat para wanita yang mengasihi Yesus datang ke kubur Yesus untuk merempah-rempahi mayat Yesus. Mereka datang dengan keterbatasan dan ketidakpastian, bahkan tanpa tahu bagaimana batu besar akan digulingkan. Namun ketika mereka mendekat, mereka menemukan bahwa kubur sudah terbuka dan Yesus telah bangkit. Ini mengajarkan bahwa terobosan sering terjadi ketika seseorang berani melangkah mendekat kepada Tuhan, bukan menjauh karena masalah. Pesan malaikat, “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup di antara orang mati?” menegaskan bahwa Yesus adalah Tuhan yang hidup, bukan sekadar kenangan masa lalu.

Jika Yesus tidak bangkit maka kitapun tidak bangkit, jadi kebangkitan Yesus menjadi deklarasi iman kita kepada-Nya, seperti lagu “Because He Lives” yang menegaskan bahwa karena Yesus hidup, semua orang percaya dapat menghadapi hari esok tanpa ketakutan. Kehidupan menjadi berarti bukan karena keadaan, tetapi karena Kristus yang hidup memegang masa depan kita.

Kebangkitan Yesus juga diikuti dengan pencurahan Roh Kudus kepada semua orang percaya tanpa membedakan usia, gender, atau status sosial. Roh Kudus memberikan kuasa, penglihatan, mimpi, dan kehidupan rohani yang dinamis. Ini menunjukkan bahwa kehidupan dalam Kerajaan Allah bersifat aktif dan penuh kuasa, bukan pasif.

Kuasa nama Yesus dan darah-Nya sangat berkuasa membebaskan manusia dari rasa bersalah dan belenggu masa lalu. Ketika seseorang dihantui rasa bersalah karena dosa yang berat, yang tidak dapat dihapus oleh usaha manusia atau bantuan spiritual lainnya, hanya melalui darah Yesus, ia mengalami kebebasan sejati. Ini menegaskan bahwa pengampunan dalam Kristus bukan sekadar konsep, tetapi realitas yang memulihkan hidup manusia sepenuhnya.

Mari setiap kita warga Kerajaan Allah hiduplah dalam realitas kebangkitan: tidak lagi terikat oleh ketakutan, dosa, atau masa lalu, tetapi berjalan dalam kemenangan, miliki identitas sebagai anak-anak Allah, dan kuasa Roh Kudus yang terus bekerja di dalam diri kita. Kebangkitan Yesus bukan hanya peristiwa yang dirayakan, tetapi kebenaran yang harus dialami setiap hari—memberi harapan, keberanian, dan kehidupan yang baru. Amin. (RCH).