The Valley of Testing Become The Valley of Blessing | Pdt. Timotius Arifin Tedjasukmana

Tema bulan ini adalah The Valley of Testing, dan kita akan belajar dari kehidupan Raja Yosafat didalam kitab 2 Tawarikh 20 bagaimana dia memenangkan peperangan tanpa berperang. The Valley of Testing yang dalaminya menjadi The Valley of Blessing.

Firman Tuhan dalam 2 Tawarikh 20 diawali dengan ancaman, namun di dalam pasal sebelumnya Raja Yosafat mendapatkan teguran dari Yehu bin Hanani: “Sewajarnyakah engkau menolong orang fasik dan bersahabat dengan mereka yang membenci TUHAN? Karena hal itu TUHAN murka terhadap engkau”.

Ketika ditegur, Raja Yosafat memiliki sikap yang benar (Right Attitude) yaitu menghapuskan tiang-tiang berhala dan mencari Allah dengan tekun. Dia juga mengadakan kunjungan pula ke daerah-daerah sambil menyuruh rakyat berbalik kepada Tuhan, Allah nenek moyang mereka. Ia mengangkat juga hakim-hakim di seluruh negeri yang takut Tuhan. Juga di Yerusalem Raja Yosafat mengangkat beberapa orang dari antara orang Lewi, dari antara para imam dan dari antara para kepala puak Israel yang setia dan tulus hati untuk memberi keputusan dalam hal hukum Tuhan dan dalam hal perselisihan.

Kemudian datanglah ujian dalam hidupnya, bani Moab dan bani Amon datang berperang melawan Yosafat bersama-sama sepasukan orang Meunim. Datanglah orang memberitahukan Yosafat: “Suatu laskar yang besar datang dari seberang Laut Asin, dari Edom, menyerang tuanku. Sekarang mereka di Hazezon-Tamar,” yakni En-Gedi. Raja Yosafat menjadi sangat ketakutan, namun dia memiliki keputusan yang benar (Right Decision) untuk mencari Tuhan dan menyerukan kepada seluruh Yehuda supaya berpuasa. Lalu Raja Yosafat berdiri ditengah-tengah jemaah Yehuda dan Yerusalem serta berdoa kepada Tuhan.

Doa adalah petisi (surat permohonan resmi) kepada Tuhan. Keputusan yang benar yang diambil Raja Yosafat menghasilkan petisi yang benar (Right Petition). Banyak orang datang kepada Tuhan hanya dengan daftar kebutuhan jasmani karena hidupnya selalu diliputi oleh kekuatiran, tetapi kita sebagai warga Kerajaan Allah tidak perlu kuatir karena kita memiliki Tuhan dan Raja yang berkuasa dan murah hati.

Lalu Yahaziel bin Zakharia bin Benaya bin Matanya, seorang Lewi dari bani Asaf, dihinggapi Roh TUHAN di tengah-tengah jemaah, dan berseru: “Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah.

Tetapi ada suatu halyang paradok, mereka tidak perlu berperang, tetapi tetap disuruh maju. Mereka harus turun menyerang musuh Mereka harus mendaki pendakian Zis, dan mendapati musuh di ujung lembah, di muka padang gurun Yeruel. Yehaziel menekankan pernyataan Tuhan bahwa: “Dalam peperangan ini tidak usah kamu bertempur. Hai Yehuda dan Yerusalem, tinggallah berdiri di tempatmu, dan lihatlah bagaimana TUHAN memberikan kemenangan kepadamu. Janganlah kamu takut dan terkejut. Majulah besok menghadapi mereka, TUHAN akan menyertai kamu.”

Lalu berlututlah Raja Yosafat dengan mukanya ke tanah. Seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem-pun sujud di hadapan TUHAN dan menyembah kepada-Nya. Kemudian orang Lewi dari bani Kehat dan bani Korah bangkit berdiri untuk menyanyikan puji-pujian bagi TUHAN, Allah Israel, dengan suara yang sangat nyaring.

Kepercayaan yang benar (Right Believing) pada Firman Tuhan menghasilkan sebuah tindakan yang benar (Right Action). Keesokan harinya pagi-pagi mereka maju menuju padang gurun Tekoa. Ketika mereka hendak berangkat, berdirilah Yosafat, dan berkata: “Dengar, hai Yehuda dan penduduk Yerusalem! Percayalah kepada TUHAN, Allahmu, dan kamu akan tetap teguh! Percayalah kepada nabi-nabi-Nya, dan kamu akan berhasil!”

Ketika mereka mulai bersorak-sorai dan menyanyikan nyanyian pujian, dibuat Tuhanlah penghadangan terhadap bani Amon dan Moab, dan orang-orang dari pegunungan Seir, yang hendak menyerang Yehuda, sehingga mereka terpukul kalah. Lalu bani Amon dan Moab berdiri menentang penduduk pegunungan Seir hendak menumpas dan memusnahkan mereka. Segera sesudah mereka membinasakan penduduk Seir, mereka saling bunuh-membunuh.

Ketika orang Yehuda tiba di tempat peninjauan di padang gurun, mereka menengok ke tempat laskar itu. Tampaklah semua telah menjadi bangkai berhantaran di tanah, tidak ada yang terluput. Lalu Raja Yosafat dan orang-orangnya turun untuk menjarah barang-barang mereka. Mereka menemukan banyak ternak, harta milik, pakaian dan barang-barang berharga. Yang mereka rampas itu lebih banyak dari pada yang dapat dibawa. Tiga hari lamanya mereka menjarah barang-barang itu, karena begitu banyaknya.

Pada hari keempat mereka berkumpul di Lembah Pujian, dalam versi NKJV disebutkan The Valley of Beracah (the Valley of Blessing). Lembah yang seharusnya menjadi tempat pembantaian menjadi lembah berkat. Di Lembah Pujian mereka memuji Tuhan dengan penuh sukacita, karena Tuhan telah membuat mereka bersukacita karena kekalahan musuh mereka.

Namun kekalahan Raja Yosafat bukanlah di medan peperangan, di akhir Pasal 20 kitab Tawarikh, ia kembali bersekutu dengan Ahazia, raja Israel, yang fasik perbuatannya untuk membuat kapal-kapal yang dapat berlayar ke Tarsis. Kapal-kapal itu dibuat mereka di Ezion-Geber. Tetapi Eliezer bin Dodawa dari Maresa bernubuat terhadap Yosafat, katanya: “Karena engkau bersekutu dengan Ahazia, maka TUHAN akan merobohkan pekerjaanmu.” Lalu kapal-kapal itu pecah, dan tak dapat berlayar ke Tarsis.

Kemudian Yosafat mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di samping nenek moyangnya di kota Daud. Maka Yoram, anaknya, menjadi raja menggantikan dia. Raja Yosafat Kepada anak-anaknya ia memberikan emas dan perak dan barang-barang berharga yang banyak, juga kota-kota berkubu di Yehuda, tetapi ia tidak mewariskan iman dan firman.

Sesudah Yoram memegang pemerintahan atas kerajaan ayahnya dan merasa dirinya kuat, ia membunuh dengan pedang semua saudaranya dan juga beberapa pembesar Israel. Ia hidup menurut kelakuan raja-raja Israel seperti yang dilakukan keluarga Ahab, sebab yang menjadi isterinya adalah anak Ahab. Ia melakukan apa yang jahat di mata Tuhan.

Sebuah pelajaran bagi hidup kita ketika menghadapi ujian, Raja Yosafat yang menghadapi ancaman pasukan besar dengan mengambil keputusan mencari Tuhan melalui doa, puasa, dan penyembahan, bukan mengandalkan kekuatan manusia. Pujian dan penyembahan kepada Tuhan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh mengundang kuasa Tuhan untuk mengalahkan musuh sehingga Tuhan yang berperang bagi kita. Sebagai umat Tuhan kita tidak perlu takut jika Tuhan menyertai karena Dia pegang kendali. Pentingnya penguatan iman untuk berdiri teguh dan percaya penuh kepada firman Tuhan, dan memilih dengan bijak teman di dalam pergaulan agar kita tidak terjerumus. Amin. (RCH).