The Valley of Testing | Pdt. Daniel Pingardi

Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.                  (1 Petrus 4:12)

Tiga hal yang diuji Tuhan di dalam hidup kita:

MOTIVASI YANG BENAR

Setiap kali, apabila hari-hari pesta telah berlalu, Ayub memanggil mereka, dan menguduskan mereka; keesokan harinya, pagi-pagi, bangunlah Ayub, lalu mempersembahkan korban bakaran sebanyak jumlah mereka sekalian, sebab pikirnya: “Mungkin anak-anakku sudah berbuat dosa dan telah mengutuki Allah di dalam hati.” Demikianlah dilakukan Ayub senantiasa. (Ayub 1:5)

Persembahan harus benar-benar dipersembahkan sebagai kurban, bukan dengan motivasi tertentu. Ayub memiliki motivasi yang salah dalam memberikan persembahan, yaitu agar anak-anaknya tidak dihukum, sedangkan kita tahu bahwa Tuhan tidak bisa disuap. Seharusnya Ayub mendidik anak-anaknya untuk hidup benar dan menjadi anak-anak yang takut akan Tuhan. Setelah itu, barulah ia dapat memberikan persembahan dengan tulus, yaitu sebagai persembahan kurban yang menyenangkan hati Tuhan.

Contoh penerapan di zaman sekarang, setiap pagi orang tua mendoakan anak-anak mereka sebelum berangkat ke sekolah dan mendidik mereka untuk hidup takut akan Tuhan.

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu. (Amsal 22:6).

Mendidik anak-anak memang perkara yang sulit, tetapi satu saat nanti orang tua akan menuai, yaitu anak-anaknya hidup dalam kebenaran dan melayani Tuhan. Dengan demikian orang tua dapat memberikan persembahan dengan motivasi yang tulus di hadapan Tuhan.

Always give without remembering and always receive without forgetting. (Selalu memberi tanpa mengingat dan selalu menerima tanpa melupakan). –Brian Tracy

Mari murnikan motivasi kita, yaitu hanya untuk menyenangkan hati Tuhan.

 

PERKATAAN YANG BENAR

Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu dan abu. (Ayub 42:6)

Kita harus selalu menjaga kata-kata yang kita ungkapkan melalui mulut kita. Di dalam buku berjudul ‘Perkataan-Perkataan Ayub yang Salah’, kita belajar dari kesalahan Ayub yang mengeluarkan kata-kata tanpa berpikir panjang. Billy Graham berkata, seharusnya kita menanyakan 3 pertanyaan ini sebelum berbicara, ”Apakah itu benar? Apakah itu baik? Apakah itu memuliakan Kristus?”

Seringkali kita berkata, “Tidak mungkin orang itu bertobat”. Atau berkata, “Masalah ini tidak mungkin bisa diselesaikan”. Tapi seharusnya kita berkata: “Semua mungkin, karena semua orang dan segala sesuatu bisa diubah oleh Firman Tuhan”.

Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” (Matius 12:36-37).

Karena itu, mari kita berhati-hati dengan ungkapan yang keluar dari mulut kita.

SIKAP HATI YANG BENAR

Maka pergilah Elifas, orang Teman, Bildad, orang Suah, dan Zofar, orang Naama, lalu mereka melakukan seperti apa yang difirmankan TUHAN kepada mereka. Dan TUHAN menerima permintaan Ayub. Lalu TUHAN memulihkan keadaan Ayub, setelah ia meminta doa untuk sahabat-sahabatnya, dan TUHAN memberikan kepada Ayub dua kali lipat dari segala kepunyaannya dahulu. (Ayub 42:9-10)

Ayub mengampuni sahabat-sahabatnya yang pernah mengucapkan kata-kata yang tidak benar terhadapnya. Dia menjaga hatinya tetap bersih, bebas dari dendam dan kebencian. Hati adalah pusat hidup kita. Jangan sampai kita berkata, “Shalom” kepada seseorang, tetapi kita menyimpan, iri dengki atau kebencian terhadap orang tersebut. Ketika kita mengalami tantangan yang berat, ujian atau pengkhianatan, tetaplah menjaga hati kita bersih, maka Tuhan akan memberi upah yang tepat.

Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian. (Kolose 3:12-13)

Pengampunan adalah kunci yang membuka pintu penjara kebencian, dan membebaskan kita dari rantai masa lalu. -Corrie Ten Boom.

Menjaga motivasi, perkataan dan sikap hati memang tidak mudah, namun jika melakukannya maka kita akan menjadi orang yang berkenan di hadapan Tuhan, diberkati dan menjadi berkat, di masa ini dan di dalam kekekalan. Amin. VW.