(23) Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku. (Lukas 9:23)
The Way To Calvary atau Via Crusis atau Via Dolorosa adalah jalan salib atau jalan penderitaan yang disebut juga sebagai jalan Raja yaitu jalan permulaan dimulainya para warga Kerajaan Allah hidup di dalam Kerajaan Allah. Tanpa ada jalan salib maka kita tidak pernah akan sampai kepada Kerajaan Allah karena setiap orang yang hendak mengikut Kristus harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari.
Mengapa kita harus melalui jalan salib? Sebab seorang murid tidak akan lebih dari pada gurunya (Matius 10:24). Kita dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia (Filipi 1:29). Dan setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya (2 Timotius 3:12). Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kitapun harus juga mempersenjatai diri kita dengan pikiran yang demikian, karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa (1 Petrus 4:1)
Bagi dunia pemberitaan tentang salib adalah sebuah kebodohan, tetapi bagi kita orang percaya dan warga Kerajaan Allah, berita salib adalah manifestasi kuasa Allah yang bekerja di dalan kehidupan setiap orang percaya.
Tahapan Jalan Penderitaan Kristus:
DI TAMAN GETSEMANI (ARAM=TEMPAT PEMERASAN MINYAK) DI KAKI BUKIT ZAITUN SEBELAH TIMUR YERUSALEM DI SEBERANG LEMBAH KIDRON.
Ia sangat ketakutan dan makin bersungguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan ke tanah. (Lukas 22:44)
Yesus mengalami ketakutan menghadapi jalan salib yang harus dilewati-Nya sehingga Ia mengalami hematohidrosis. Hematohidrosis adalah kondisi di mana keringat bercampur dengan darah. Kondisi ini sangat langka dan biasanya disebabkan oleh stres berat, tekanan batin, atau faktor psikogenik lain). Tidak saja takut menghadapi jalan salib, Yesus juga ditinggalkan murid-murid yang dikasihi-Nya. Apapun yang kita alami hari-hari ini, Yesus mengerti dan peduli sebab Ia terlebih dahulu mengalami tekanan dan ketakutan yang besar.
Di Getsemani itulah tempat dimana kehendak pribadi tunduk pada kehendak Allah sehingga Yesus mampu berkata: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Inilah rahasia sukses Yesus Kristus ketika ia selalu menundukkan kehendak-Nya di bawah kehendak Bapa dan menyelesaikan kehendak Bapa. Mari kita berlatih untuk menyelaraskan kehendak kita sesuai kehendak Bapa.
DITANGKAP LALU DISIKSA DI RUMAH IMAM BESAR KAYAFAS.
Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia,
(Matius 26:67)
Yesus tidak memiliki kesalahan apapun namun Ia diperlakukan dengan tidak adil. Sesungguhnya Yesus memiliki kuasa untuk mengerahkan kekuatan bala tentara malaikat tetapi Yesus tidak membalas kejahatan dengan kejahatan seharusnya kitapun demikian karena kita ini naturally spiritual dan spiritually natural.
DIBAWA KE PILATUS UNTUK DIHAKIMI DAN DI OLOK-OLOK, DIPUKUL, DISESAH/ DICAMBUK DAN DIBERI MAHKOTA DURI.
(27) Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus. (28) Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya. (29) Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: “Salam, hai Raja orang Yahudi!” (30) Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya. (31) Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan.
(Matius 27:27-31)
Tuhan Yesus sangat direndahkan tetapi Ia menunaikan tugas Bapa tanpa motivasi apapun. Jalan salib adalah gaya hidup kerajaan, bukan aku lagi tetapi kita artinya saling. Oleh sebab itu kitapun harus belajar untuk merendahkan hati dan saling membutuhkan satu dengan yang lain.
MEMIKUL SALIB KASAR DAN BERAT SAMPAI TERJATUH.
Ketika mereka berjalan ke luar kota, mereka berjumpa dengan seorang dari Kirene yang bernama Simon. Orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.
(Matius 27:32)
Kondisi Yesus yang sudah lemah karena mengalami dipukul, disesah/ dicambuk dan diberi mahkota duri sehingga mengalami banyak pendarahan seharusnya tidak memungkinkan lagi ia memikul salib yang kasar dan berat. Yesus masih dipaksa untuk memikul salib. Yesus tahu tujuan akhir dari tugasnya harus tuntas yaitu kematian di salib. Jalan salib adalah jalan kemuliaan (kabod). Pengorbanan Kristus di salib memungkinkan kita menerima kemuliaan dari Bapa yang sudah mengampuni dan menyucikan hidup kita.
DISALIBKAN DI KALVARI.
(33) Maka sampailah mereka di suatu tempat yang bernama Golgota, artinya: Tempat Tengkorak. (34) Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya. (35) Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi.
(Matius 27:33-35)
Disaliblah kehendak manusia berhenti tetapi kehendak Allah berlanjut. Sebab penderitaan-penderitaan pada saat sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita (Roma 8:18) yaitu manifestasi kuasa Allah melalui hidup kita.
PUNCAK PENDERITAANNYA TERPISAH DENGAN ALLAH BAPA KARENA MENANGGUNG DOSA.
Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
(Matius 27:46)
Seharusnya Yesus Kristus tidak bisa mengalami kematian, karena sejak lahir tidak berbuat dosa, sehingga Bapa yang mengasihiNya tidak mungkin membunuhNya, apalagi maut tidak akan pernah bisa berkuasa atasNya. Supaya Dia bisa mati untuk meyelamatkan manusia maka Dia harus menanggung dosa seluruh dunia sehingga kematian punya kuasa atasNya. Inilah puncak penderitaan-Nya karena Ia harus terpisah dengan Bapa.
Kebangkitan Kristus dari kematian membuktikan bahwa kematian tidak lagi memiliki hak untuk memerintah atas umat manusia. Tuhan Yesus Kristuslah kebangkitan dan hidup. Amin (RCH).