The Whip of Love (Cambuk Kasih) | Pdt. Timotius Arifin

Tiga sekali setahun orang laki-laki Yahudi pergi ke Yerusalem, demikian juga dengan Tuhan Yesus. Namun ketika ke Yerusalem, Ia mendapati komersialisasi agama. Maka Sang Mesias membuat sebuah cambuk untuk tujuan mengkoreksi dan mendidik. Hanya seorang anak yang sejati yang disesah atau dididik oleh ayahnya, karena mereka bukanlah anak-anak gampang. Demikian juga putra-putra rohani, harus dididik dengan keras.

Cambuk dan kasih adalah dua kata yang tampaknya seolah-olah bertentangan. Namun dua kata ini diperlukan untuk mendidik anak-anak supaya hidup benar di hadapan Tuhan. Kegagalan sebuah keluarga adalah ketika mereka menghasilkan anak-anak yang manja.

Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.” (Ibrani 12:6)

Hanya anak-anak yang dikasihi yang dihajar. Berbahagialah orang yang dikoreksi oleh Tuhan. Ketika kita membaca Alkitab, maka Alkitab pun akan membaca dan mengkoreksi hidup kita. (When you read the Bible, the Bible reads you).

Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. (Mazmur 32:9)

Seorang Bapa mendidik dengan mata, lalu dengan kata-kata serta dengan tindakan. Corona Academy ini bagaikan cambuk bagi kita semua, supaya kita tetap senantiasa berjaga – jaga agar mendapat bagian dalam kekudusan-Nya.

Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. (Ibrani 12:10)

Tuhan membenci komersialisasi pelayanan. Pada masa itu lembu dan kambing domba dijual di Bait Suci, di pelataran tempat bangsa-bangsa lain (The Court of the Gentile). Bangsa-bangsa lain itu membawa mata uangnya masing-masing, sehingga perlu ada tempat penukaran uang. Saat itu orang yang datang beribadah jumlahnya jutaan, dan orang-orang tersebut tidak boleh membawa lembu atau kambing domba sendiri. Sekalipun hewan yang mereka bawa adalah hewan yang terbaik, hewan tersebut tidak boleh dipersembahkan, sebaliknya mereka harus membeli dari imam Kayafas dan teman-temannya dengan harga bisa mencapai 8 kali lipat dari harga normal. Sehingga  Imam-imam tersebut menjadi kaya raya. Komersialisasi pelayanan adalah jahat di mata Tuhan. Saat ini pun banyak orang yang berpikir ibadah dapat dijadikan sebagai sumber keuntungan.

Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.” (Yohanes 2:16)

Ketika Tuhan Yesus bangkit dari kematian, Ia memanggil murid-murid-Nya dengan kata ‘anak-anak’ karena Ia memposisikan diri sebagai seorang Bapa. Hajaran seorang ayah membuat anak yang bodoh menjadi sadar. Hajaran membuat dukacita, tetapi pada akhirnya mendatangkan keuntungan.

Hajaran seorang ayah adalah cambuk didikan/koreksi dan cambuk motivasi. Tapi yang jenis berikutnya adalah cambuk hukuman, ini dilakukan agar kita dapat menentukan prioritas hidup dengan benar. Kadang kita begitu sibuk dengan pekerjaan/pelayanan, sehingga tidak lagi rutin membaca Alkitab. Ingatlah bahwa tujuan utama kita bukanlah untuk menjadi terkenal, tapi untuk menjadi seperti Kristus.

Sedangkan cambuk yang diterima Yesus adalah cambuk penganiayaan. Cambuk yg diterima Tuhan Yesus adalah cambuk Romawi. Cambuk yang ujungnya terbuat dari logam dan keramik, sehingga meremukkan tubuh orang yang dicambuk.

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. (Yesaya 53:5)

Cambuk itu diterima Tuhan Yesus sebagai ganjaran atas kesalahan kita.  Namun ada rasa sakit yang lebih menyakitkan dan lebih berat daripada sakit fisik karena dicambuk, yaitu rasa malu, rasa bersalah, dan penolakan. Inilah yang diterima oleh Kristus untuk menggantikan kita.

Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.
(Ibrani 12:3)

Berbeda dengan cambuk Romawi, maka cambuk yang dibuat Tuhan Yesus adalah cambuk yang dibuat dari tali kecil saja. Inilah cambuk kasih (The Whip of Love). Orang Farisi meminta tanda bahwa Yesus berhak melakukan itu, dan Ia berkata, “Rombak Bait Allah ini”. Yang dimaksudkan-Nya adalah tubuh-Nya sendiri. Ini mengajar kita bahwa tubuh kita adalah Bait Allah yang sesungguhnya. Tubuh kita adalah milik Allah yang sudah dibeli dan sudah lunas dibayar.

Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah,  —  dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?  Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! (1 Korintus 6:19-20)

Karena itu kita harus mempersembahkan tubuh kita. Tubuh kita adalah bait Roh Kudus, tubuh fisik kita adalah bagian pelataran luar, jiwa kita adalah ruangan kudus, dan hati kita adalah ruang maha kudus tempat Roh Kudus berdiam.

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma 12:1)

Jadi ada empat jenis cambuk dalam kehidupan ini yaitu :

Cambuk koreksi/didikan (Correction Whip)

Cambuk motivasi (Motivation Whip)

Cambuk hukuman (Punishment Whip)

Cambuk penganiayaan, yang diterima Kristus (Scourging Whip)

Orang bodoh menolak didikan ayahnya, tetapi siapa mengindahkan teguran adalah bijak. (Amsal 15:5)

Tiga jenis cambuk yang pertama disiapkan untuk memperbaiki hidup kita, namun jenis yang keempat telah ditanggung Tuhan Yesus. Karena itu terimalah didikan Tuhan (The Whip of Love). Kita sebenarnya tidak perlu menunggu dicambuk, cukup dengan dilirik atau dilihat oleh Tuhan seharusnya kita sudah bertobat. Cambuk kasih adalah karena Tuhan mengasihi kita sebagai putra, bukan sebagai anak haram. Tuhan melakukan ini, agar setiap rancangan-Nya di dalam hidup kita bisa digenapi. Amin. (VW)