Times and Seasons | Pdt. Dr. Paul Sene

Apapun musim yang kita sedang kita hadapi, jika kita melewatinya bersama Kristus, maka kita menjadi lebih dari pemenang. Saat melewati gunung persoalan, kita bisa mempermuliakan Tuhan kita. Namun kenyataannya seringkali kita bertanya kepada Tuhan, “Mengapa rumah tangga saya terkena persoalan?”, “Mengapa usaha saya terkena persoalan?”, “Saya sudah beribadah, tetapi mengapa persoalan ini masih terjadi?” Dan ketika Tuhan tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan kita, maka kita mulai membuat opini-opini sendiri. Namun sebenarnya jawabannya sederhana, yaitu ketika kita melewati persoalan tersebut kita sedang diproses agar memperoleh karakter Kristus.  Kita justru harus masuk ke dalam situasi yang ‘gelap’ supaya bisa bersinar seperti Kristus.

Hidup kita di bumi ini adalah masa persiapan, agar kita belajar bersinar. Untuk belajar bersinar, kadangkala kita diberi seorang teman yang luar biasa, yaitu musuh kita.

Kalau musuhku yang mencela aku, aku masih dapat menanggungnya; kalau pembenciku yang membesarkan diri terhadap aku, aku masih dapat menyembunyikan diri terhadap dia. Tetapi engkau orang yang dekat dengan aku, temanku dan orang kepercayaanku:  kami yang bersama-sama bergaul dengan baik, dan masuk rumah Allah di tengah-tengah keramaian.
 (Mazmur 55:12-14)

Orang yang dekat dengan kita, bisa saja berkhianat dan menjadi musuh kita, karena ada orang yang menggodanya. Jika ada celah terbuka, maka godaan itu bisa mengakibatkan keretakan dalam hubungan rumah tangga, orang tua dengan anak, atau hubungan lainnya.  Jika tidak menjadikan Yesus sebagai batu karang dalam hidup kita, kita pasti goyah. Kita harus bergerak maju dengan iman menggunakan dua kaki, kaki yang pertama adalah kasih, yang kedua adalah pengampunan.

Di masa ini, seringkali kita lebih bersemangat untuk mendengarkan rumor dibandingkan mendengarkan Firman Tuhan. Padahal rumor seringkali menjadi celah yang dipakai iblis untuk menyesatkan kita.

Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.
(2 Korintus 11:3)

Jika tidak tekun membaca dan berpegang kepada Firman Tuhan, maka si penggoda bisa menang. Karena itu jangan pernah memberi kesempatan atau membuka celah bagi Iblis.

Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu. (Yesaya 1:19)

Turutilah Firman Tuhan dan jangan mau disesatkan. Mata adalah jendela jiwa. Hati-hati dengan apa yang kita lihat. Jika kita banyak melihat peristiwa kekerasan atau hal-hal yang tidak benar, maka itu akan tertanam dan menjadi kuat dalam pikiran kita. Hati-hati dengan ‘makanan’ yang kita masukkan ke dalam pikiran kita. Apakah ‘makanan’ yang najis atau Firman Tuhan? Raja Daud selalu menang dalam pertempuran, karena ia selalu bertanya kepada Tuhan saat akan maju berperang. Ia selalu berpegang dan bergantung kepada Firman Tuhan, sehingga tidak takut, karena yakin penyertaan Tuhan ada dalam hidupnya.

Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. (Mazmur 23:4)

Saat pikiran kita dipenuhi Firman, maka kita bisa berpikir seperti Kristus. Kita bisa belajar untuk berdiri dengan kasih dan pengampunan. Pikirkanlah bahwa apa yang telah dilakukan Kristus untuk kita jauh lebih besar daripada yang diperbuat orang kepada kita. Lepaskan pengampunan dan jangan pernah izinkan kepahitan bertumbuh dalam hidup kita.

Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis.  Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar.  Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati, sehingga ia tidak berbuah. (Markus 4: 5-7)

Ada bagian dari hati kita yang keras seperti batu dan tidak bisa berubah. Mungkin itu keinginan atau hawa nafsu kita. Jika bagian itu disinggung, maka kita mudah meledak. Untuk mengubah kekerasan hati kita, maka Tuhan mengizinkan kita mengalami kondisi-kondisi yang sulit. Bukan karena Tuhan jahat, tapi karena Ia mau memberi kita hati yang baru (Yehezkiel 36:26). Iblis ingin mencekik kita seperti semak duri, dan menjadikan iman kita mati, sebaliknya Tuhan ingin hidup kita berbuah lebat. Ia ingin apa saja yang dipegang tangan kita berhasil, karena itu lawanlah si Iblis dan izinkan Tuhan mengajar kita berperang.

Dari Daud. Terpujilah TUHAN, gunung batuku, yang mengajar tanganku untuk bertempur, dan jari-jariku untuk berperang; (Mazmur 144:1)

Untuk bisa menang melawan Iblis, kita tidak bisa sendirian. Karena itu jangan pernah memisahkan diri dari persekutuan orang percaya. Juga jangan membiarkan anak-anak kita. Berikan waktu yang cukup untuk memperhatikan dan mendidik mereka dalam kebenaran. Rumah tangga penting, anak-anak juga penting, dan Tuhan memberi tanggung jawab kepada kita untuk memelihara dan menjaga mereka.

Itulah sebabnya, maka aku, karena tidak dapat tahan lagi, telah mengirim dia, supaya aku tahu tentang imanmu, karena aku kuatir kalau-kalau kamu telah dicobai oleh si penggoda dan kalau-kalau usaha kami menjadi sia-sia. (1 Tesalonika 3:5)

Dalam Tuhan, mungkin uang kita tidak berlimpah namun cukup. Dan yang terpenting adalah adanya damai sejahtera dalam rumah tangga kita. Kita telah ditebus menjadi ciptaan baru. Kita menjadi umat Tuhan, dan Ia berjanji memelihara umat-Nya, asalkan kita mau menurut dan mendengar, maka kita akan memakan dan menikmati hasil yang baik dari negeri di mana kita ditempatkan (Yesaya 1:19). Amin. (VW).