TUHAN DALAM BOTOL KECIL
Kamis
24 September 2026
Bacaan Setahun:
Yes. 57:14–59:21
Ef. 3:1–21
Mzm. 111:1–10
“Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.”
(Kisah Para Rasul 17:24–25 – TB)
Suatu hari saya membaca sebuah pernyataan, “Tuhan terlalu besar untuk dimasukkan ke dalam satu agama.” Saya memahami pernyataan itu sebagai anggapan bahwa Tuhan tidak dapat “dimonopoli” oleh satu agama tertentu, melainkan menjadi milik semua agama di dunia.
Pernyataan tersebut mengingatkan saya pada kisah tentang jin yang disimpan di dalam sebuah botol kecil. Ketika tutup botol dibuka, jin itu keluar dan memperlihatkan kuasanya. Namun, selama berada di dalam botol, ruang geraknya dibatasi. Tentu saja Allah tidak dapat disamakan dengan kisah tersebut. Namun, ilustrasi ini menggambarkan bahwa kebesaran Allah tidak mungkin dibatasi oleh sesuatu yang diciptakan manusia, termasuk oleh bangunan, tempat, ataupun sistem keagamaan.
Firman Tuhan menegaskan hal itu melalui doa Salomo ketika Bait Allah selesai dibangun: “Tetapi benarkah Allah hendak diam di atas bumi? Sesungguhnya langit, bahkan langit yang mengatasi segala langit pun tidak dapat memuat Engkau, terlebih lagi rumah yang kudirikan ini.” (1 Raja-Raja 8:27) Ayat ini menunjukkan bahwa kebesaran Allah melampaui segala sesuatu. Jangankan sebuah agama atau bangunan, langit yang mengatasi segala langit pun tidak sanggup memuat kemuliaan-Nya.
Di dalam kitab Keluaran, kita melihat bagaimana Allah memberikan berbagai ketetapan kepada bangsa Israel selama mereka mengembara di padang gurun. Ketetapan-ketetapan itu menjadi dasar kehidupan umat-Nya dalam beribadah dan menaati kehendak-Nya. Dengan kata lain, agama bukanlah pencipta Allah. Sebaliknya, Allah lebih dahulu menyatakan diri-Nya, lalu memberikan firman dan ketetapan sebagai pedoman bagi umat-Nya.
Meskipun kuasa Allah tidak dapat dibatasi oleh agama, Alkitab menyatakan bahwa Allah menyediakan satu-satunya jalan bagi manusia untuk datang kepada-Nya. Di tengah banyaknya pandangan yang mengklaim sebagai jalan menuju kebenaran, iman Kristen berdiri di atas pengakuan yang berasal dari perkataan Yesus sendiri. Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)
Inilah dasar iman Kristen. Yesus tidak hanya mengajarkan jalan menuju Allah, tetapi menyatakan bahwa Dialah Jalan itu sendiri. Ia bukan sekadar menyampaikan kebenaran, melainkan adalah Kebenaran itu sendiri. Ia juga bukan hanya memberikan hidup, tetapi Dialah sumber hidup yang kekal. Karena itu, iman Kristen tidak dibangun semata-mata di atas ajaran moral atau tradisi keagamaan, melainkan pada pribadi Yesus Kristus. Dialah satu-satunya Jalan kepada Bapa, kebenaran yang sejati, dan sumber kehidupan yang kekal. Amin. (AU)
Questions:
- Apakah Anda sungguh percaya bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan kepada Bapa?
- Sudahkah hidup Anda mencerminkan iman kepada Kristus sebagai Kebenaran dan Hidup?
Values:
Iman Kristen tidak dibangun di atas agama, melainkan pada pribadi Yesus Kristus sebagai satu-satunya Jalan, Kebenaran, dan Hidup.
Agama dapat menunjukkan arah, tetapi hanya Yesus Kristus yang membawa manusia kepada Bapa.