Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu – yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api – (1 Petrus 1:6-7a).
Abraham menerima janji untuk memiliki keturunan saat dia dan istrinya sudah tua. Istrinya sudah menopause dan tampaknya mustahil untuk hamil dan melahirkan. Kemudian ia diuji dahulu selama 25 tahun. Ketika anak yang dijanjikan bertumbuh remaja, Abraham kembali diuji. Demikian juga dengan kita. Kita akan selalu diuji, apakah kita tetap memegang janji Tuhan. Kondisi kita maupun keadaan di sekitar kita seringkali bertentangan dengan janji Tuhan yang telah kita terima.
Ujian dan pencobaan tidak mudah untuk dijalani. Sekalipun kita berduka, Firman Tuhan menasehati kita untuk bergembira akan hal itu. Ini adalah ‘up side down mindset’, karena umumnya orang akan bergembira ketika keadaannya baik. Namun tujuan Tuhan adalah untuk membuktikan kemurnian iman kita yang bagi Tuhan nilainya jauh lebih tinggi daripada emas yang fana. Tetaplah percaya bahwa apapun ujian yang sedang kita hadapi, Tuhan tidak pernah bermaksud untuk membinasakan kita, sebaliknya ia ingin membawa kita meningkat ke level yang lebih tinggi.
Saat Abraham diuji untuk mempersembahkan Ishak, dia sudah tua dan sangat lelah karena perjalanan jauh menuju gunung yang ditunjukkan Tuhan. Sedangkan Ishak masih remaja dan tenaganya sudah cukup kuat untuk memberontak. Namun Abraham dan juga Ishak taat kepada perintah Tuhan. Mereka taat sampai di detik-detik terakhir ketika Tuhan berfirman dan menyediakan pengganti kurban bakaran, yaitu seekor domba jantan (Kejadian 22:12-14).
Sikap YANG BENAR untuk KITA Berdiri Teguh di dalam Iman :
Hanya Memegang Prinsip – Prinsip yang Alkitabiah
Aku beroleh pengertian dari titah-titah-Mu, itulah sebabnya aku benci segala jalan dusta. Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku. Aku telah bersumpah dan aku akan menepatinya, untuk berpegang pada hukum-hukum-Mu yang adil. (Mazmur 119:104-106).
Banyak prinsip dunia ini yang tidak Alkitabiah. Misalnya bahwa jodoh dan nasib ada di tangan Tuhan. Jodoh dan nasib adalah hasil dari keputusan yang kita buat sendiri. Sebelum membuat keputusan kita perlu menimbang-nimbang apakah sesuai dengan prinsip Firman Tuhan, atau sebaliknya prinsip dunia? Keputusan sepenuhnya ada di tangan kita. Masalah-masalah yang timbul merupakan konsekuensi dari keputusan yang kita buat.
Seringkali godaan untuk mengambil jalan pintas terjadi saat kondisi kita sedang sulit. Misalnya saat kondisi keuangan sedang sulit dan ada tawaran untuk mendapatkan uang dengan cara menipu. Pahamilah bahwa Tuhan tidak pernah menolong kita dengan cara-cara yang bertentangan dengan Firman-Nya (Roma 8:28).
Melatih Pikiran Sehingga Mampu Mengendalikan Emosi
Siapa lekas naik darah, berlaku bodoh, tetapi orang yang bijaksana, bersabar.
(Amsal 14:17).
Kita harus memiliki pikiran yang kuat untuk mengendalikan emosi kita. Pikiran kita seharusnya menasehati perasaan kita, karena perasaan kita sangat tergantung pada kondisi di sekitar kita. Misalnya ketika seorang suami tersinggung oleh ucapan istrinya, maka ia harus tetap tenang, berdiam diri selama beberapa menit agar emosinya stabil, baru setelahnya menjelaskan mengapa ia tersinggung dengan cara yang baik kepada istrinya. Demikian juga sang istri, ketika suaminya berbicara, maka ia harus mendengarkan dengan baik, menahan diri dan tidak langsung menimpali. Jika kedua pihak berbicara dengan tenang tanpa dikuasai emosi, maka hubungan suami istri akan tetap terjaga dalam keadaaan baik dan setiap permasalahan dapat diatasi.
Rajin dan Berinisiatif Mengembangkan Potensi Diri
Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen. (Amsal 6:6-8).
Kita perlu belajar memimpin diri sendiri untuk memutuskan apa yang harus dilakukan. Manfaatkan kalender di smartphone untuk mengatur jadwal aktivitas kita. Ini melatih kita untuk hidup penuh persiapan. Dalam hidup ini, ada tiga hal yg perlu kita kelola dengan baik, yaitu uang, waktu dan keinginan, agar kita tidak akan terus merasa kekurangan uang, waktu dan keinginan yang tak terpenuhi. Keinginan yang tidak dipenuhi akan memunculkan keinginan baru yang tak habis-habisnya, ketika kita tidak memiliki rasa cukup. Ketika kita mampu mengelola uang, waktu, dan keinginan dengan baik, maka Tuhan akan dipermuliakan melalui hidup kita.
Mampu Membedakan Iman dan Nekat.
Kalau orang bijak melihat malapetaka, bersembunyilah ia, tetapi orang yang tak berpengalaman berjalan terus, lalu kena celaka (Amsal 22:3).
Seseorang bertindak nekat karena sudah tidak punya pilihan lain, tanpa pertimbangan apa/siapa yang diandalkan dan hanya untung-untungan saja. Ia berpikir: ‘Daripada mundur lebih baik hajar saja’. Sebaliknya, kita bisa bertindak dengan iman, ada pertimbangan, siapa yang kita andalkan. Tuhan mau kita hidup dengan iman. Keputusan untuk setia memegang janji Tuhan sangat menentukan kehidupan kita. Amin. VW.