UKURAN CINTA
Bacaan Setahun:
Ayub 1-2 , Mat. 25
“Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku” (Yesaya 49:15-16)
Berbicara tentang besarnya cinta, memang tidak ada ukurannya yang pasti. Seorang gadis yang berkali-kali patah hati, berkata bahwa semua mantannya selalu berkata, “Engkau satu-satunya milikku dan aku sangat mencintaimu sehingga aku tak bisa hidup tanpa engkau.” Tapi itu semua “rayuan gombal”. Bukti bahwa itu hanya rayuan belaka adalah ketika mereka putus dengannya, mereka semua tetap hidup. Ternyata ukuran cinta seseorang yang sedang berpacaran seringkali hanya sesaat, alias hanya sebatas “rayuan gombal”. Itulah sebabnya cinta gadis remaja sering disebut cinta monyet.
Ada quote yang berbunyi, “Menikahi orang yang kau cintai itu biasa, tetapi tetap mencintai orang yang kau nikahi adalah luar biasa.” Quote ini menggambarkan ukuran cinta yang tak pernah pudar, walau sudah lama menikah. Kita juga pernah mendengar pepatah yang mengatakan cinta anak sepanjang galah, cinta ibu sepanjang masa.
Pertanyaannya adalah, sebesar apakah cinta Tuhan kepada kita? Bisakah kita mengukur dan membandingkan cinta Tuhan kepada kita? Ayat di atas menggambarkan bahwa cinta Tuhan kepada kita melebihi cinta seorang ibu kepada anaknya. Namun, seringkali kita meragukan bahwa Tuhan mencintai kita, terutama ketika kita sudah hidup sesuai dengan Firman Tuhan, tetapi masih mengalami hal-hal yang buruk.
Manusia biasanya hanya bisa menilai ukuran cinta Tuhan ketika mereka mengalami keadaan yang baik. Jika keadaannya semakin baik secara fisik, pekerjaan semakin lancar, maka berarti Tuhan semakin mengasihinya. Benarkah kadar cinta Tuhan berubah-ubah tergantung apa yang kita lakukan dan tergantung pada apa yang kita alami? Tentu saja tidak. Cinta kasih Tuhan kepada kita tidak berubah, Ia Maha Kasih dan kasih-Nya abadi. Dalam Kitab Ibrani, justru Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya.
“Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak. Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih oleh-Nya” (Ibrani 12:6,10 -11)
Inilah ukuran cinta Tuhan yang hakiki, bukan hanya kata-kata, tapi juga DISIPLIN yang tidak nyaman. Dia melakukannya agar melatih kita berbuat kebenaran dan beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. (DD)
Questions:
1. Apakah Anda sadar bahwa Anda dicintai oleh Tuhan?
2. Apa tanda dan ukuran bahwa Anda dicintai oleh Tuhan?
Values:
Kasih Sang Raja dapat digambarkan dengan pengorbanan-Nya di kayu Salib.
Kingdom Quotes:
Banyak orang berkata bahwa mereka mengasihi Tuhan, namun tanpa rasa takut dan hormat kepada-Nya. Jadi kita harus mengasihi Tuhan sekaligus menghormati-Nya.