YAKIN
Bacaan Setahun:
2 Tim. 2, Yer. 7-8, Mzm. 122
“……..sebab mereka tidak percaya kepada Allah, dan tidak yakin akan keselamatan dari pada-Nya.” (Mazmur 78:22)
Sadarkah kita bahwa seluruh tindakan dan keputusan sering kali didasarkan pada faktor yang disebut keyakinan, yaitu rasa yakin kita terhadap sesuatu. Sebagai contoh, mengapa kita mandi dua kali sehari atau makan tiga kali sehari? Sering kali tindakan itu dilakukan bukan sekadar karena kebiasaan, melainkan juga karena kita yakin bahwa itulah yang memang seharusnya dilakukan. Sebaliknya, rasa tidak yakin justru menghasilkan keragu-raguan dan kegamangan dalam bertindak.
Firman Tuhan yang kita baca merupakan bagian dari Mazmur Asaf tentang perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan. Namun, kemudian kita ketahui bahwa bangsa Israel gagal menggenapi rencana Allah bukan karena kurangnya mujizat, melainkan karena mereka tidak yakin akan janji Allah bagi mereka. Bahkan dalam Mazmur 78:9 digambarkan bahwa bani Efraim, para pemanah yang bersenjata lengkap, berbalik pada hari pertempuran. Para pahlawan pemanah itu, meskipun sering melihat mujizat Allah di padang gurun dan mendengar janji-janji kemenangan dari-Nya, ternyata tidak yakin, bahkan mengambil sikap mundur.
Sadarkah kita bahwa keyakinan merupakan hal yang sangat penting dalam Kekristenan? Bahkan area keyakinan ini kini menjadi battlefield, medan pertempuran rohani yang utama. Firman Tuhan dalam 2 Korintus 13:5 berkata, “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.” Firman ini menggambarkan bahwa tanpa keyakinan yang teguh, hidup kita akan menjadi rapuh: rentan, goyah, dan mudah jatuh. Sesungguhnya, ketidak-yakinan juga berarti kita meyakini sesuatu, tetapi keyakinan itu diarahkan pada hal-hal negatif. Saat kita merasa minder, tidak percaya diri, kurang berharga, atau terikat pandangan negatif lainnya, itu menunjukkan bahwa kita lebih “yakin” pada kelemahan dan keterbatasan diri daripada pada kuasa Allah.
Mengapa kita sering kehilangan keyakinan yang kokoh? Bagaimana menghadapinya? Paulus menegaskan dalam 2 Korintus 3:4–5, “Demikianlah besarnya keyakinan kami kepada Allah oleh Kristus. Dengan diri kami sendiri kami tidak sanggup memperhitungkan sesuatu seolah-olah pekerjaan kami sendiri; tidak, kesanggupan kami adalah pekerjaan Allah.” Keyakinan kita sering kali goyah karena kita mengandalkan diri sendiri yang sangat terbatas dan tidak stabil. Paulus mengingatkan bahwa keyakinan sejati haruslah berakar pada pribadi Kristus dan karya-Nya bagi kita. Karena itu, saat iman kita mulai goyah, justru berpeganglah pada keteguhan Allah, pada firman-Nya, serta pada perbuatan dan kesetiaan-Nya yang tidak pernah berubah. (HA)
Questions:
1. Apakah keyakinan Anda lebih sering bertumpu pada kekuatan diri sendiri atau pada Kristus dan karya-Nya?
2.Saat menghadapi tantangan, apakah Anda memilih untuk mundur karena ragu, atau tetap maju dengan percaya pada janji Tuhan?
Values:
Keyakinan sejati hanya dapat bertahan bila berakar pada Kristus, bukan pada diri sendiri.
Kingdom Quotes:
Perbuatan tangan-Nya ialah kebenaran dan keadilan, segala titahNya teguh. (Mazmur 117:7)