Buku You Lost Me karya David Kinnaman, Presiden Grup Barna mengungkapkan banyaknya anak muda yang meninggalkan gereja dan berpikir ulang tentang iman mereka. Salah satu penyebab utamanya adalah kemunafikan yang mereka lihat dari orangtua, baik di rumah maupun di gereja. Dalam tema Healing the Land, pemulihan negeri dimulai dengan merendahkan hati dan bertobat (2 Tawarikh 7:14), sebab bangsa yang kuat dibangun dari keluarga-keluarga yang kuat.
YANG HILANG DICARI
Lukas 15:1-2 memperlihatkan dua kelompok. Pemungut cukai dan orang-orang berdosa datang dengan rendah hati untuk mendengarkan Yesus, sedangkan orang Farisi penuh penghakiman dan merasa orang lain tidak layak. Karena itu kita perlu bertanya: apakah kita menjadi sesama bagi orang lain? Apakah kita mencari yang hilang atau justru mengabaikan dan menghakimi?
Dalam Lukas 15:3-32, Yesus memberikan perumpamaan tentang domba, dirham, dan anak yang hilang. Jumlah yang hilang bukan persoalan persentase. Satu dari seratus, satu dari sepuluh, maupun satu dari dua tetap berharga dan harus dicari. No one is too lost for God’s love. Yang hilang tidak dibuang. Ketika ditemukan, ada sukacita dan perayaan karena yang berdosa bertobat, yang hilang didapatkan kembali, dan yang mati menjadi hidup kembali. Kasih Bapa tidak menunggu manusia menjadi sempurna. Ia menyambut mereka yang kembali dan memulihkan identitas mereka sebagai anak yang dikasihi.
SI BUNGSU YANG HILANG
Perjalanan si bungsu bergerak dari KESADARAN, menuju KEPUTUSAN, lalu KOMITMEN. Ia menyadari bahwa dosa adalah sesuatu yang serius karena dosa dilakukan terhadap Allah (Lukas 15:17). Kesadaran membawa keputusan untuk bertobat: jika kita hilang, kita harus pulang (Lukas 15:18-20). Keputusan kemudian membawa komitmen untuk kembali sehingga relasi dengan Tuhan dipulihkan (Lukas 15:21). Tangan Bapa memeluk dengan kasih, tetapi juga mendisiplin. Karena itu, jangan bermain-main dengan dosa dan lakukan pertobatan setiap hari.
SI BAPAK YANG KEHILANGAN
Orangtua dipanggil mendidik anak-anak untuk memilih dengan benar dan mempertimbangkan setiap keputusan penting, karena keputusan yang salah memiliki konsekuensi (Lukas 15:12-16). Hati Bapa digerakkan oleh belas kasihan. Ia menanti, mengenali anaknya dari kejauhan, berlari, merangkul, dan menciumnya. Ia memberikan jubah terbaik, cincin, dan sepatu sebagai tanda penerimaan dan identitas yang dipulihkan (Lukas 15:22).
Bapa juga menghampiri anak sulungnya. Ini mengingatkan kita pada Kristus yang mengosongkan diri dan datang kepada manusia (Filipi 2:6-8). Sebagai orangtua, kita perlu melepaskan ego dan berani menghampiri anak untuk memenangkannya.
SI SULUNG YANG TERHILANG
Mental budak membuat seseorang gagal menilai seperti Tuhan menilai. Rasa iri muncul karena tidak memahami ownership dan posisi sebagai anak yang dikasihi Bapa. Kita perlu bertanya: apakah kita memiliki mental BUDAK atau ANAK? Apakah relasi kita digerakkan oleh kasih atau kewajiban?
Seseorang dapat secara fisik berada di rumah, dekat dengan Bapa, tetapi hatinya jauh—menjadi “anak yang hilang di rumah”. Sukacita yang sejati lahir dari hubungan dengan Bapa, bukan semata-mata dari apa yang diterima dari Bapa.
GRACE dan MERCY
Grace adalah ketika kita menerima sesuatu yang tidak layak kita dapatkan. Mercy adalah ketika kita dijauhkan dari hukuman yang seharusnya kita tanggung. Karena itu, kita perlu melihat orang-orang yang hilang di sekitar kita: apakah kita menyebabkan mereka semakin jauh, dan maukah kita kembali merangkul mereka?
PENUTUP
Kita dipanggil untuk meneladani hati Bapa: mencari yang hilang, menyambut yang kembali, dan bersukacita ketika mereka ditemukan. Kita bukan dipanggil untuk menghakimi orang yang tersesat, melainkan membawa kasih dan membuka jalan bagi pemulihan. Milikilah hati yang luas dan penuh pengampunan. Jadilah agen pemulihan. AMIN.(VW)
“Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang.”
(Lukas 19:10)